Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini114
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini114
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31870
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327886
Kami Memiliki: 76 guests online

Home Catatan Kaki Cermin : Apakah Jika Sukses Pasti Bahagia..?
28
Mar
2014
Cermin : Apakah Jika Sukses Pasti Bahagia..?

Kikie Nurcholik – Sekjen Komunitas Printing Indonesia

“If you want others to be happy ... practice compassion”

“If you want to be happy ... practice compassion”

Dua kalimat itu saya baca dalam catatan sejarah seorang pemimpin,  Dalai Lama.

Tak seorangpun mengharapkan kegagalan dari yang diusahakannya. Semua orang ingin sukses. Kuatnya daya pikat dari kata ‘sukses’ membuat kata tersebut selalu dijadikan tolok-ukur kebahagiaan hidup banyak orang. Bahkan, mungkin setiap  orang beranggapan ‘jika sukses, pasti bahagia.’ Sebelum sampai pada kesimpulan tersebut, sebaiknya kita telaah lebih dalam apa makna dari kata bahagia itu. Setiap kesuksesan yang dicapai pasti akan menghadirkan rasa senang atau suka-cita di hati kita. Tapi apakah hanya rasa senang dan suka cita yang dimaksud dengan  bahagia itu?

Ketika merasa bahagia, sudah pasti kita merasa senang. Sebaliknya,  ketika merasa senang tidak berarti kita juga bahagia. Hal ini  mengingat ukuran dari kesuksesan itu bersifat relatif. Seorang petani bisa merasa sedemikian suksesnya ketika panen tahun ini dua kali lipat dari tahun sebelumnya, walaupun jika diuangkan, keuntungan yang diperolehnya tidak seberapa. Sebaliknya, seorang investor bisa jadi  merasa gagal kendati keuntungannya sepuluh kali lipat keuntungan petani tadi untuk beberapa tahun ke depan, karena meningkatnya suku bunga di pasar dan laju inflasi.

Kesuksesan seringkali menimbulkan kemabukan. Kesuksesan bisa membuat orang lupa diri, sombong, pembangkang, ceroboh, dan lain-lain. Kesuksesan non-material seperti pengaruh, popularitas, posisi di masyarakat, citra diri dan sebagainya,  mungkin bisa ‘dibeli’, tapi.... kebahagiaan tidak. Namun jangan salah sangka ... kegagalan di bidang kehidupan apapun sangat tidak dianjurkan. Maka, jadilah orang sukses di berbagai bidang kehidupan..! Dan ingatlah selalu, sukses belum tentu bahagia. Mereka yang  berbahagialah sebetulnya yang patut dianggap sukses.

Dalam menyikapi kehidupan yang sukses, dapat dibedakan  tiga tipe orang, yaitu: mereka yang  ‘menghadapi kehidupan’, yang ‘menjalani kehidupan’, dan yang ‘menghidupi kehidupan’.

Tipe pertama, yang ‘menghadapi kehidupan’

Orang dengan tipe ini biasanya  menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang harus  dihadapi secara frontal, dengan gagah-berani, dan  selalu memasang kuda-kuda. Baginya kehidupan adalah sebuah tantangan, pergumulan, perjuangan bahkan pertempuran tiada henti. Oleh karena itu, mereka harus kuat, harus tabah, harus cerdik, agar tidak  digilas habis oleh kehidupan . Menghadapi kehidupan sebagai ‘musuh’ yang harus ditundukkan, dengan sendirinya akan membentuk watak yang  menganut pola kalah-menang ataupun pola untung-rugi. Mereka melihat hanya  ada dua kemungkinan dalam kehidupannya, memenangkan atau dikalahkan. Hal ini membuat mereka tampak sangat dinamis, bersemangat, penuh vitalitas, bahkan  hampir selalu berkobar-kobar.

 

Tipe kedua, yang ‘menjalani kehidupan’

Orang yang menganut tipe ini selalu menempatkan kehidupan hanya sebagai sesuatu yang mesti dijalani. Tidak seperti tipe pertama, mereka tidak mengenal pola kalah-menang. Mereka tidak menempatkan kehidupan sebagai ‘musuh’ yang harus dihadapi, melainkan sekedar untuk dijalani, dilangsungkan. Mereka memiliki slogan hidup ‘mengalir di dalam sungai kehidupan’ atau ‘pasrah dalam menjalani kehidupan’. Mereka cenderung menyelaraskan diri dengan derap langkah dan irama kehidupan itu sendiri, sehingga tampak harmonis dengan kehidupan. Bagi mereka, tidak ada yang menantang ataupun yang perlu ditantang. Kontras dari tipe sebelumnya, mereka hanya mengikuti kemanapun aliran kehidupan membawanya, tanpa penolakan dan pengharapan yang muluk-muluk, sehingga mereka bisa menerima kehidupan ‘apa adanya’. Oleh karena itu,  mereka cenderung kelihatan adem-ayem, loyo, tenang, bahkan seperti tanpa gairah hidup.

 

Tipe ketiga, yang ‘menghidupi kehidupan’

Orang dengan tipe ini selalu memposisikan kehidupan di antara kedua tipe sebelumnya. Mereka menempatkan kehidupan tidak sekedar untuk dijalani atau dihadapi, melainkan dihidupi. Oleh karena itu, mereka terkadang kelihatan menggebu-gebu, penuh semangat dan vitalitas, dan terkadang kelihatan adem-ayem, tanpa gairah-hidup, walaupun sebetulnya mereka sangat menghayati kehidupannya dan bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Hari-hari mereka dilalui dalam ketenangan.

 

Nah ... sekarang marilah kita memberanikan diri berdiri di depan ‘cermin kehidupan’ ini. Bagaimanakah wujud kita di depan cermin ini? Tergolong tipe manakah kita dalam menyikapi kehidupan? Apakah kita sukses melewatinya..? Dan apakah kita bahagia setelahnya...?

 

Salam Semangat....

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!