Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini254
mod_vvisit_counterKemarin1180
mod_vvisit_counterMinggu ini2558
mod_vvisit_counterMinggu lalu8444
mod_vvisit_counterBulan ini12921
mod_vvisit_counterBulan lalu39361
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1348298
Kami Memiliki: 44 guests online

Home Cetak Mencetak
Cetak Mencetak
Berapa nilai Density Optimum Tinta (CMYK) Cetak Offset ?



Dalam beberapa kesempatan semisal, uji coba tinta ataupun dalam forum seminar, workshop dan lain sebagainya, pertanyaan seperti judul diatas sering dilontarkan terutama oleh praktisi yang berkecimpung dalam proses cetak offset pada cetak warna separasi CMYK. Hal ini sangatlah wajar mereka tanyakan untuk dijadikan panduan atau pedoman selama proses cetak untuk mencapai warna sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan disepakati. Sebelum menjawab mengenai pertanyaan diatas, kita akan bahas terlebih dahulu beberapa hal yang mempengaruhi terhadap nilai Density tinta.

Nilai density tinta adalah suatu nilai dari kerapatan optic pada material cetak sebagai wujud interaksi tinta dengan bahan cetak khusunya kertas. Dalam Fisika Optik, Density dari sebuah materi optik adalah nilai pembanding dalam rumusan logaritma (berbasis 10), nilai density ini tidak mempunyai satuan ukuran. Pembanding yang dimaksud adalah pembanding nilai antara besaran kuat cahaya yang dipantulkan /
diteruskan dengan besaran kuat cahaya yang masuk pada panjang gelombang cahaya tertentu.

 
PRINTING PLATE DAN TEKNOLOGINYA

 

SERIE CETAK :

OFFSET LITHOGRAPHY Ink Water Ballance)Bagian 8

 

Oleh : Kikie Nurcholik  - Waketum III - Sekjen Komunitas Printing Indonesia (KOPI)

PRINTING PLATE DAN TEKNOLOGINYA

Seperti disebutkan pada tulisan sebelumnya bahwa “Mutu air yang baik sangat penting untuk dapat mencetak dengan kualitas tinggi pada proses Offset Lithography”dan tentu saja yang berhubungan eratdengan  air adalah Plate.Plate selalu menjadikanbagian terpisah dalam fungsinya yaitu bersifat hydrophilic dan Oleophilic

Kondisi Plate adalah salah satu penunjang penting dalam meningkatkan  kualitas sebuah cetakan.Plate yang digunakan sebagai acuan cetak  dalam peran dan pemilihannyaakan diulas dalam tulisan ke delapan ini. Plate sebagai acuan cetak adalah salah satu faktor pembuat keseimbangan terpenting antara tinta dan air.

 
Tips Pengendalian Kualitas Cetak PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 24 May 2016 18:12

Tips Pengendalian Kualitas Cetak Bag 1 ;

Liku-Liku Tentang Kualitas Produksi Cetak dan Pengendaliannya

PENDAHULUAN

Pembahasan kualitas atau mutu secara umum muncul pertama kali karena adanya perkembangan peradaban dan budaya manusia atau masyarakat (yang ditandai dengan adanya peningkatan kecerdasan, kebutuhan dan peningkatan intelektual, dll). Kondisi masyarakat demikian (terutama di daratan Eropa) terdorong dengan munculnya “Revolusi Industri”, suatu kondisi yang mendorong manusia untuk lebih menggunakan daya nalar dan daya pikir untuk mengikuti atau mengatasi tantangan perkembangan dan kehidupan disekitarnya.

Perkembangan kondisi masyarakat yang didorong oleh munculnya revolusi industri itu akan memunculkan kelompok masyarakat yang  sangat berbeda watak, perilaku dan kondisi konsep pemikirannya, yaitu : kelompok masyarakat  KONSUMEN  yang memanfaatkan, menggunakan dan merasakan hasil karya orang lain dalam menutupi kebutuhannya, bahkan kelompok konsumen ini  juga akan menggunakan, menilai bahkan merasakan kepuasan dari menggunakan/mengkonsumsi barang tersebut.

...............................................................................

 
Liku-Liku Tentang Kualitas Produksi Cetak dan Pengendaliannya E-mail
Written by Administrator   

Liku-Liku Tentang Kualitas Produksi Cetak dan Pengendaliannya

PENDAHULUAN

Pembahasan kualitas atau mutu secara umum muncul pertama kali karena adanya perkembangan peradaban dan budaya manusia atau masyarakat (yang ditandai dengan adanya peningkatan kecerdasan, kebutuhan dan peningkatan intelektual, dll). Kondisi masyarakat demikian (terutama di daratan Eropa) terdorong dengan munculnya “Revolusi Industri”, suatu kondisi yang mendorong manusia untuk lebih menggunakan daya nalar dan daya pikir untuk mengikuti atau mengatasi tantangan perkembangan dan kehidupan disekitarnya.

Perkembangan kondisi masyarakat yang didorong oleh munculnya revolusi industri itu akan memunculkan kelompok masyarakat yang  sangat berbeda watak, perilaku dan kondisi konsep pemikirannya, yaitu : kelompok masyarakat  KONSUMEN  yang memanfaatkan, menggunakan dan merasakan hasil karya orang lain dalam menutupi kebutuhannya, bahkan kelompok konsumen ini  juga akan menggunakan, menilai bahkan merasakan kepuasan dari menggunakan/mengkonsumsi barang tersebut.

Kelompok masyarakat yang lain adalah kelompok PRODUSEN, yang dengan kemampuan, ketekunannya dan kesempatan yang didukung oleh peralatan yang dimiliki membentuk, membuat, menciptakan, mengkreasikan serta menghasilkan suatu BARANG atau juga JASA, yang akan disampaikan, ditawarkan kepada kelompok masyarakat / konsumen.  

Dari interaksi antara produsen yang memproduksi barang maupun jasa dengan segala kriteria teknis dan ekonomis, dengan masyarakat konsumen yang menggunakan, mengkonsumsi barang ataupun jasa sekaligus menilai tingkat penggunaan serta terpenuhinya kepuasannya, munculah wacana KUALITAS atau MUTU dari suatu barang atau jasa yang dihasilkan produsen.

Dari sisi KONSUMEN, wacana tentang kualitas ini sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat, tingkat kecerdasan dan apabila pendidikan seseorang meningkat, maka tuntutan pemenuhan mutu suatu barang atau jasa juga akan meningkat. Artinya masyarakat konsumen akan menuntut kualitas yang lebih baik, berkat adanya peningkatan pemahaman tentang kualitas suatu barang.

Kemudian dari sisi PRODUSEN, dengan adanya tuntutan konsumen terhadap hasil produknya, satu-satunya cara adalah meningkatkan kinerjanya, untuk :

  1. memenuhi dan menjawab tuntutan konsumen terhadap mutu barangnya;
  2. mengantisipasi adanya persaingan dengan produsen sejenis, karena tuntutan yang semakin tinggi, didalam perkembangan industri akan muncul pula produsen lain yang akan dapat mengancam kelangsungan produksinya. 

 

PENGERTIAN KUALITAS/MUTU

Dimasyarakat, pengertian dan pendapat tentang kualitas/mutu sangat bervariasi, tergantung dari sudut pandang dan latar belakang masyarakat calon pengguna produk. Namun demikian, tolak ukur yang dipergunakan dalam menetapkan pengertian kualitas suatu produk atau juga suatu proses dan sistem adalah sejauh mana tingkat kepuasan pemakai/pengguna terhadap produk atau sistem tersebut dapat dicapai.

Para produsen atau para pembuat suatu karya, pengertian kualitas hasil karyanya itu diartikan  sebagai faktor-faktor produksi yang ada dan terdapat didalam komponen barang hasil produksinya.

Masalah yang muncul adalah “SIAPA” yang mendefinisikan dan juga menentukan tingkat kualitas suatu barang?, apakah produsen dengan bahan baku dan sistem produksi yang sudah dianggap bermutu baik akan dapat menghasilkan kualitas barang yang baik, atau dikalangan konsumen yang mengkonsumsi langsung dan merasakan serta menikmati hasil produksi?. Saat konsumen menikmati dan merasakan barang akan langsung menilai dan menganggap sejauh mana nilai suatu barang yang dikonsumsi.

Umumnya, dari sisi produsen mengklaim bahwa kualitas barangnya sudah  melekat dengan faktor-faktor produksi yang ada didalam produknya, atau juga dalam proses dan sistem produknya. Sehingga dengan statement demikian, kualitasnya sudah melekat didalam produk yang dihasilkan.

Yang terjadi adalah, apabila produsen menetapkan “kualitas” barangnya sepihak, tanpa mempertimbangkan pihak lain, kemungkinan penetapannya tidak benar, akibatnya adalah konsumen yang kurang mendapatkan kepuasan, mereka akan mencari alternatif lain untuk memperoleh kepuasan, sehingga ia tidak akan membeli barang pertama dan akan mencari barang lain sebagai penggantinya.

Secara KONVENSIONAL, dapat diartikan bahwa, kualitas adalah sesuatu yang menggambarkan karakteristik (seperti ciri dan sifat) langsung dari suatu produk, seperti : penampilan/performance, mudah dalam penggunaan/easy to use dan keindahan/ estetika/ esthetics, dll.

Sedangkan dari sisi STRATEGIS, mutu adalah segala sesuatu yang memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan, tidak hanya kesesuaian atas karakteristik dari produk yang ditawarkan, tetapi juga tingkat pelayanan yang menyertai, seperti : cara pemasaran, cara pembayaran, ketepatan waktu penyerahan, ketepatan jumlah beserta kemudahan-kemudahan lain.  

Dari ungkapan dan uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa kualitas/mutu/quality merupakan  JEMBATAN KOMUNIKASI  antara produsen dan konsumen. Semakin jauh rangakaian atau jarak perjalanan barang  dari produsen ke konsumen, maka persoalan  “ kualitas ” dari suatu barang menjadi sangat penting untuk ditetapkan. Untuk dapat menetapkan pengertian kualitas sekaligus besarnya nilai suatu kualitas, maka diperlukan langkah “ standardisasi “ yang mencakup berbagai aspek produksi, pendukung produksi serta sistem-sistemnya. Dengan tidak adanya standardisasi ini maka sangat dimungkinkan pengertian dan definisi kualitas akan berbeda bagi setiap orang, bergantung pada persepsinya masing-masing. Walaupun pada dasarnya bahwa tujuan utama standardisasi ini untuk membantu dan mendorong produsen agar produksinya memenuhi keinginan konsumen, dan dari sisi konsumen agar difahami bahwa standardisasi ini mampu memberi informasi teknis dan non-teknis yang dilakukan produsen serta aspek-aspek lain yang berkaitan dengan proses produksinya.

 

Bagaimana masalah kualitas di industri cetak mencetak ?

Pencapaian kualitas untuk memenuhi keinginan konsumen/pemesan didalam industri cetak mencetak terlihat sangat rumit, mengingat industri cetak mencetak  termasuk didalam industri “JOB ORDER”, artinya bahwa industri ini harus bekerja dan menghasilkan jumlah besar berdasar pada pesanan sebagai layaknya industri pada umumnya, disisi lain harus memperhatikan keinginan/ kepuasan pelanggan, akan : ketepatan penyelesaian/penyerahan, ketepatan jumlah, kualitas produk dan kalau memungkinkan harga yang wajar bersaing, belum lagi masalah teknis produksi yang mengharuskan menggunakan teknologi dan peralatan, bahan pokok dan bahan pendukung yang berbeda sifat, karakter dan penanganannya, sebagai akibat dari keinginan pemesan.

Didalam persaingan yang demikian ketat sekarang ini, disertai kesadaran yang tinggi bahwa order/pesanan merupakan hal yang sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan, maka perusahaan berusaha keras untuk melayani pemesan sebaik mungkin, walau dengan kondisi bekerja dan beroperasi 24 jam, dengan tetap selalu menjaga kualitas, mempercepat penyelesaian, dan kadang berusaha meningkatkan servis pelayanan dengan tujuan agar jenis pekerjaan/order tetap ditangannya.

Berikut gambaran proses pelayanan barang cetakan yang dilakukan oleh para pengusaha percetakan, yang bertujuan agar penyelesaian barang cetakan dapat diseselasikan tepat waktu dengan waktu dan mutu sesuai pemesan.

Permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar perusahaan percetakan belum tersedia wadah berikut petugas yang bertanggung jawab tentang kualitas barang cetakan, sehingga belum tercipta pembakuan kualitas suatau barang cetakan.

Namun dikalangan perusahaan percetakan yang tergolong besar/bonafit, yang mampu membentuk wadah berikut SDM yang khusus bertugas dan menangani pengendalian kualitas, mampu menetapkan kriteria yang secara umum tugas dari pengendali kualitas adalah:

1.   Menentukan standard bagi produk yang akan diproduksi;

Pejabat pengendali kualitas bertanggungjawab penuh terhadap kualitas produksi perusahaan. Oleh karena itu sebelum proses produksi dimulai, harus ditetapkan dan dibakukan standard kualitas yang diberlakukan pada setiap tahapan proses produksi. Standard ini mencakup semua unsur dan tahapan didalam proses produksi, termasuk bahan baku, bahan pendukungnya, sehingga dengan diberlakukan pembakuan kualitas ini akan menjamin hasil produksinya akan berkualitas baik. Aspek-aspek yang berkaitan dengan pengendalian kualitas harus diinformasikan kepada seluruh unit produksi untuk dipergunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pengendalian kualitas pada unit kerjanya.

2.   Menilai atas sesuai atau tidaknya barang-barang yang diproduksi dengan standard yang ditetapkan; Penerapan standard kualitas disetiap unit kerja yang telah diinformasikan sebelum proses produksi dimulai,menuntut adanya pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan. Hal ini akan menjamin tepat dan cepatnya informasi adanya penyimpangan yang terjadi. Dengan cepatnya memperoleh informasi ini maka penanggulangan akan segera dilakukan untuk mencegah penyimpangan (kerusakan produksi) lebih jauh.

3.   Mengadakan tindakan jika standard yang ditetapkan tidak terpenuhi;

Informasi yang cepat, akan dapat menjamin solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang muncul, sehingga kerugian yang lebih besar akan dapat dicegah.

4.   Merencanakan perbaikan serta pembinaan yang terus menerus untuk menilai standard yang telah ditetapkan.

Suatu sistem selalu harus di up-date sesuai dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pelanggan akan meningkatnya permintaan mutu yang baik. Penggunaan teknologi yang canggih akan mempermudah dalam proses pengendalian kualitas, oleh karena itu didalam perubahan ini harus diinformasikan kepada seluruh staff pengendali kualitas, agar pelaksanaan pengendalian kualitas tidak terganggu.

Cukup banyak perusahaan percetakan yang berskala besar, dengan peralatan dan mesin-mesin yang cukup canggih dibarengi dengan manajemen yang sudah relatif mapan, maka tentang kualitas sudah merupakan pembahasan yang rutin dibicarakan, sehingga muncullah suatu kesepakatan yang merupakan slogan, seperti terlihat berikut :

Terlihat bahwa setiap orang yang terlibat didalam organisasi mulai dari staff (terutama staff produksi) yang paling rendah sampai pada direktur bahkan pemilik perusahaan bersepakat bahwa kualitas menjadi tanggung jawab bersama sesuai dengan posisi masing-masing. Namun demikian penempatan karyawan maupun petugas dan pejabat harus berdasar pada bahwa posisi seseorang yang tepat harus berada pada pekerjaan yang tepat pula.

Untuk dapat melaksanakan tugas sebagai seorang pengendali kualitas, maka kepada mereka dituntut memiliki persyaratan kualifikasi sebagai seorang pengendali kualitas, seperti :

1.   Memiliki pengetahuan metode kerja secara efisien;

Berawal dari pemahaman tentang spesifikasi teknis order cetakan, maka seorang pengendali kualitas harus mampu menetapkan teknik produksi yang paling tepat, dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas produksi serta kelangsungan perusahaan melalui usaha mendapatkan profit yang wajar.  

2.   Memiliki kemampuan teknis produksi;

Dengan penetapan jenis teknik produksi, maka seorang pengendali kualitas harus mampu menetapkan kemungkinan munculnya hambatan produksi yang dapat mengakibatkan terhambatnya proses produksi.

3.   Menguasai langkah-langkah kegiatan proses produksi;

Seorang pengendali kualitas harus mampu menetapkan alur proses produksi setiap jenis order, mulai kegiatan penyediaan bahan, persiapan produksi, produksi dan penyelesaian produksi berikut unsur-unsur teknis yang mendukung pelaksanaan pengendalian kualitas.

4.   Mengetahui dan menguasai sistem kerja peralatan produksi;

Secara teknis produksi, seorang pengendali kualitas harus mampu dan menguasai sistem kerja peralatan produksi persiapan produksi, produksi dan penyelesaian produksi, agar kelancaran produksi tidak terhambat.

5.   Memiliki pengetahuan tentang bahan baku dan bahan pendukung produksi;

Kondisi dan kualitas bahan baku merupakan awal dari kelancaran proses pengendalian kualitas, seperti : kertas, tinta cetak, bahan pendukung,harus dalam kondisi yang baik sesuai dengan jenis teknik produksi dan jenis ordernya. Kesesuaian bahan dengan proses produksi dan jenis order akan menghasilkan kualitas produksi yang baik.

6.   Mengetahui dan menguasai sistem dan kriteria pengendalian kualitas;

Terminologi atau batasan maupun pokok bahasan dalam pengendalian kualitas harus dikuasai oleh seorang pengendali kualitas, karena dengan pemahaman tentang terminologi pengendalian kualitas, maka akan mempercepat  pengambilan keputusan dalam menentukan jenis permasalahan produksi yang menyebabkan kualitas produk terganggu.

7.   Memiliki kemampuan manajerial.

Unit pengendalian kualitas didalam suatu perusahaan yang berskala besar, dan dengan jenis pekerjaan yang kompleks, menuntut dan memerlukan staff pengendali kualitas yang cukup, karena pelaksanaan pengendalian kualitas harus dilakukan dengan sistem yang berkelanjutan. Oleh karena itu seorang kepala pengendali kualitas harus memiliki kemampuan manajerial dalam memimpin staffnya dalam mengamankan aspek-aspek pengendalian kualitas. Berikut dikemukakan nilai density proses (cyan, magenta, yellow dan black) pada beberapa posisi yang mewakili bidang gambar modelnya, berikut grafik nilai density tintanya untuk mengetahui besarnya penyimpangan selama proses produksi (pencetakan oplah).

Pada contoh hasil pengukuran diatas (warna proses CYAN) dan warna-warna berikutnya warna Magenta, Yellow dan Black, akan memperlihatkan demikian bervariasinya density setiap warna, hal ini  merupakan indikasi bahwa tidak ada dan tidak mungkin dalam pencetakan warna proses akan dihasilkan satu angka density untuk semua oplah yang ditandai dengan grafik garisnya lurus., Yang penting adalah angka penyimpangannya masih didalam angka/nilai toleransi density yang diperbolehkan. Nilai toleransi ini adalah besarnya angka perbedaan antara kejelian mata melihat dan ketelitian alat ukur (misal: densitometer atau spectrofotometer).

Bersambung ke Edisi 71 ........

Oleh :

SOEBARDIANTO

Pengajar pada  Politeknik Negeri Media Kreatif

Pengajar pada Sekolah Tinggi Media Komunikasi, Trisakti

 

Selengkapnya terdapat dalam majalah Print Media Edisi 70 Mei Juni 2016

Info : 0812 8881 1831 / 0811 80 8282

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 
Surfactant VS Isophrophyl Alcohol (Bagian 3)
Written by Administrator   
Tuesday, 29 March 2016 05:36

Surfactant VS Isophrophyl Alcohol  (Bagian 3)

SERIE CETAK OFFSET LITHOGRAPHY (Ink Water Ballance)

Oleh Kikie Nurcholik

Sekjen KOPI (Komunitas Printing Indonesia)

 

Pada tulisan sebelumnyatelah disebutkan  bahwa “Mutu air yang baik sangat penting untuk dapat mencetak dengan kualitas tinggi pada proses Offset Lithography.”

 

Pada bagian ketiga ini akan dibahas  mengenai klasifikasi air yang digunakan sebagai air pembasah dalam derajat kekerasan.Setelah dicampur fountain, air  akan bereaksi secara akumulatif dan semakin tinggi derajat keasamannya. Hal  ini disebabkan oleh aktifitas air, dimanadalam proses tersebut  terjadi reaksi kimiawi.

Aktivitas air  adalah angka yang menunjukkan intensitas air di dalam unsur-unsur bukan air atau benda padat. Secara sederhana, hal tersebut dapat dijelaskan sebagai ukuran dari status energi air dalam  suatu proses bercampur. Semakin tinggi suhu,biasanya aktifitas air juga akan naik, kecuali untuk benda yang mengkristal seperti garam atau gula. Semakin tinggi aktifitas air dalam sebuah benda, maka akan lebih menopang kehidupan mikroorganisme, bakteri dan jamur. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas dan derajat keasaman air pembasah.

 
Fountain Solution VS Sabun (Bagian 2)

 

Ada beberapa teori yang disebutkan berkaitan dengan air pada operasi pencetakkan Offset Lithography :

1.    Apabila kekuatan zat padat lebih besar daripada kekuatan bidang batas, maka akan terjadi adhesi (gaya tarik) lebih besar dari kohesi, sehingga zat cair dapat mengalir/membasahi permukaan lebih baik/lebih luas

2.    Apabila kekuatan permukaan zat padat lebih kecil dari kekuatan bidang batas, maka akan terdapat adhesi lebih kecil daripada kohesi, sehingga zat cair kurang dapat membasahi permukaan  bidangnya

Maka diperlukan bahan aktif untuk membuat tegangan permukaan dapat berkinerja baik,

Bahan aktif permukaan ialah suatu bahan yang dapat/mampu merubahtegangan permukaan zat cair, umumnya yang digunakan dalam teknologi Fountain Solution adalah surfactan, wetting agent, atau Isophrophil Alcohol (IPA)

Tetapi terkadang pilihan sering membuat kita terbiasakan dalam satu kesalahan, contohnya saat kita menggunakan sabun untuk mengatasi masalah kotor pada pelat cetak. Sabun/detergen, benar mampu menurunkan ketegangan permukaan zat cair, terkadang dengan sedikit ditambahkan sabun, air akan dapat cepat meluas pada permukaan pelat dibanding dengan air biasa umumnya, dan benar permukaan pelat mudah terbasahkan oleh air pembasah yang mengandung sabun,  namun sabun akan menghasilkan busa yang tinggi dan ini akan mengakibatkan masalah yang fatal untuk kualitas suatu hasil cetak

Last Updated on Friday, 05 February 2016 09:34
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!