Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini87
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini87
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31843
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327859
Kami Memiliki: 49 guests online

Home Cetak Mencetak Fountain Solution VS Sabun (Bagian 2)
01
Feb
2016
Fountain Solution VS Sabun (Bagian 2)

 

Ada beberapa teori yang disebutkan berkaitan dengan air pada operasi pencetakkan Offset Lithography :

1.    Apabila kekuatan zat padat lebih besar daripada kekuatan bidang batas, maka akan terjadi adhesi (gaya tarik) lebih besar dari kohesi, sehingga zat cair dapat mengalir/membasahi permukaan lebih baik/lebih luas

2.    Apabila kekuatan permukaan zat padat lebih kecil dari kekuatan bidang batas, maka akan terdapat adhesi lebih kecil daripada kohesi, sehingga zat cair kurang dapat membasahi permukaan  bidangnya

Maka diperlukan bahan aktif untuk membuat tegangan permukaan dapat berkinerja baik,

Bahan aktif permukaan ialah suatu bahan yang dapat/mampu merubahtegangan permukaan zat cair, umumnya yang digunakan dalam teknologi Fountain Solution adalah surfactan, wetting agent, atau Isophrophil Alcohol (IPA)

Tetapi terkadang pilihan sering membuat kita terbiasakan dalam satu kesalahan, contohnya saat kita menggunakan sabun untuk mengatasi masalah kotor pada pelat cetak. Sabun/detergen, benar mampu menurunkan ketegangan permukaan zat cair, terkadang dengan sedikit ditambahkan sabun, air akan dapat cepat meluas pada permukaan pelat dibanding dengan air biasa umumnya, dan benar permukaan pelat mudah terbasahkan oleh air pembasah yang mengandung sabun,  namun sabun akan menghasilkan busa yang tinggi dan ini akan mengakibatkan masalah yang fatal untuk kualitas suatu hasil cetak

Dalam kondisi berikutnya air yang tercampur dengan sabun apabila dipergunakan pada cetak offset, maka pelat akan mudah terbasahkan namun bahan aktif permukaan air akan menurun, sehingga mengakibatkan tinta akan larut dalam air dan dengan sendirinya akan menyebabkan pengotoran pada pelat dan cetakan.

Bahan aktif permukaan pada dasarnya merupakan jembatan yang dapat mengurangi perbedaan ketegangan permukaan air dan tinta.

Pada cetak offset, diperlukan bidang batas antara air dan tinta haruslah berkesesuaian, sehingga memungkinkan tinta dapat menolak air dan tidak mudah bercampur. Disamping itu tidak saja jumlah air pembasah yang dapat mem-pengaruhi hasil cetakan, tetapi susunan dan cara menempatkan air pembasah itu sendiri. Tujuan penambahan cairan pada air pembasah ialah  agar kualitas cetak diperbaiki dan gangguan selama pencetakan dapat dikurangi, sifat air diperbaiki hingga keseimbangan air dan tinta baik.

Mutu air yang baik sangat penting untuk dapat mencetak dengan kualitas tinggi pada proses Offset, Air ledeng, air kemasan, air hujan, air tanah secara kimia bukanlah air murni. Ketepatan kondisi air pada proses cetak ditentukan oleh jenis dan jumlah garam yang larut di dalamnya.

Kekerasan air merupakan ukuran bagi isi garam pada logam dan dinyatakan dalam derajat kekerasan dalam istilahbahasa Jerman dinamakan “grad deutscher Harte”  biasanya kita menyebutnya degree Hardness (dH) (10dH = 10mg kalsium oksida dalam 1 liter air).
Klasifikasi air dalam derajat kekerasan sebagai berikut :

sangat lunak<40dH

lunak 80dH

mulai keras 120dH

agak keras 180dH

keras 300dH

Keras sekali> 300dH

Kekerasan air berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografis dan bahkan perbedaan oleh karena waktu. Dari berbagai analisa dan penelitian pada air ledeng terdiri dari benda yang larut dalam air, sehingga akan sangat berpengaruh pada mutu air, oleh karenanya diperlukan analisis untuk menentukan air baku mana yang akan digunakan untuk pencampuran cairan air pembasah (FS)

Dalam hal ini pabrikan/agen/pemasok bahan tambahan pencampur cairan pembasah, juga akan melakukan analisis tentang kondisi air baku untuk menentukan tingkat keasaman bahan pencampur yang diproduksinya

Untuk cetak offset, kekerasan air disarankan tidak melebihi 15dH. Jika air yang dipakai lebih keras dari 15dH, mungkin sekali kalsium atau magnesium dapat membentuk endapan pada pelat cetak, kain karet dan rol, serta akan menyebabkan gangguan pada proses pembelahan lapisan tinta pada unit penintaan, seringkali terjadi oksidasi pada plate cetak walaupun mesin terhenti hanya 1 jam saja.

Lebih dari itu, reaksi kimia garam kalsium dengan asam berlemak yang terkandung dalam komposisi tinta dapat menyebabkan terbentuknya sabun berkapur. Sabun berkapur yang terbentuk ini, tidak lagi bekerja sebagai bahan pembasah dan akan menggangu proses cetak dengan membuat bidang hidrophylic menjadi menerima tinta atau sebaliknya.Dalam proses pencetakan Offset, persinggungan diantara komponen yang ada akan menimbulkan beberapa kesulitan. Bila tegangan batas menurun karena adanya emulsi tinta, maka lama kelamaan akan terbentuk bintik-bintik air yang halus pada tinta yang dapat mengakibatkan sifat reologi tinta berubah dan praktis tinta akan terkesan menjadi encer. Perubahan yang terjadi pada tinta mengakibatkan pemindahan tinta pada rol akan terganggu dan kecerahan warna menurun.

 

Intinya apabila air yang tercampur dengan sabun pada cetak offset, maka pelat memang akan mudah terbasahkan namun tegangan bidang batas akan menurun, sehingga mengakibatkan tinta akan larut dalam air dan dengan sendirinya akan menyebabkan pengotoran pada pelat dan cetakan.

Bahan aktif permukaan dapat mengurangi perbedaan ketegangan permukaan air dan tinta. Pada cetak offset, diperlukan bidang batas antara air dan tinta cukup besar, sehingga memungkinkan tinta dapat menolak air dengan baik dan tidak mudah bercampur.

Tujuan penambahan cairan pada air pembasah ialah ; agar kualitas cetak lebih baik dan gangguan selama pencetakan dapat dikurangi,

 

Betapa hebatnya pengaruh air dalam proses cetak Offset Lithography ini, hingga sering disebutkan dalam survey bahwa 80% problem cetak seringkali ditimbulkan oleh  air, namun seringkali air dianggap bukan bagian penting yang diperhatikan, karena selain dianggap “biasa” maka air akhirnya disepelakan penangannya, Dalam beberapa literatur dan grafik data consumable pada operasi cetak Offset nilai prosentase air pembasah tidak lebih dari 1%, namun percayalah apabila kita abaikan yang 1% ini, boleh jadi bisnis cetak yang dijalankan itu keseluruhannya rusak dan tak  berarti. (BERSAMBUNG)

 

Oleh : Kikie Nurcholik  - Sekjen Komunitas Printing Indonesia (KOPI

Last Updated on Friday, 05 February 2016 09:34
 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!