Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini466
mod_vvisit_counterKemarin1356
mod_vvisit_counterMinggu ini4076
mod_vvisit_counterMinggu lalu9771
mod_vvisit_counterBulan ini26510
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1322526
Kami Memiliki: 64 guests online

Home Cetak Mencetak Berapa nilai Density Optimum Tinta (CMYK) Cetak Offset ?
09
Oct
2017
Berapa nilai Density Optimum Tinta (CMYK) Cetak Offset ?



Dalam beberapa kesempatan semisal, uji coba tinta ataupun dalam forum seminar, workshop dan lain sebagainya, pertanyaan seperti judul diatas sering dilontarkan terutama oleh praktisi yang berkecimpung dalam proses cetak offset pada cetak warna separasi CMYK. Hal ini sangatlah wajar mereka tanyakan untuk dijadikan panduan atau pedoman selama proses cetak untuk mencapai warna sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan disepakati. Sebelum menjawab mengenai pertanyaan diatas, kita akan bahas terlebih dahulu beberapa hal yang mempengaruhi terhadap nilai Density tinta.

Nilai density tinta adalah suatu nilai dari kerapatan optic pada material cetak sebagai wujud interaksi tinta dengan bahan cetak khusunya kertas. Dalam Fisika Optik, Density dari sebuah materi optik adalah nilai pembanding dalam rumusan logaritma (berbasis 10), nilai density ini tidak mempunyai satuan ukuran. Pembanding yang dimaksud adalah pembanding nilai antara besaran kuat cahaya yang dipantulkan /
diteruskan dengan besaran kuat cahaya yang masuk pada panjang gelombang cahaya tertentu.

Dalam proses cetak offset pengukuran nilai density ini tentunya melalui beberapa rangkaian proses terlebih dahulu yaitu proses terjadinya pengalihan tinta cetak melalui roll, plate dan blanket sampai pada kertas cetak. Sehingga rangkaian proses dan beberapa material yang terlibat dalam proses cetak itu memberikan kontribusi masingmasing dalam perwujudan nilai density tinta.



Pertama kita bicara mengenai Tinta Offset, nilai density dipengaruhi oleh jumlah atau persentase pigment (Pewarna/Colorant) yang digunakan dalam formulasi. Jumlah persentase pigment meningkat akan mengakibatkan nilai density juga meningkat, tapi perlu diketahui bersama jumlah persentase pigment tersebut mempunyai batasan maksimum sesuai dengan rasio pigment dengan binder (resin), sehingga kita tidak bisa lagi terus menaikkan jumlah pigment dalam formula. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap sifat fisik tinta terutama sifat Rheology (Tackiness, Viskosity Flow) , efeknya jika persentase pigment terlalu tinggi yaitu akan berdampak pada transfer tinta dari mulai bak tinta yang melewati beberapa roll distribusi, plate dan blanket tidak akan sempurna. Pemikiran inilah yang masih terpelihara sampai sekarang bahwa semakin tinggi persentase pigment maka nilai density akan semakin tinggi pula, pemikiran tersebut tidak atau belum memperhatikan faktor-faktor pendukung lainnya dalam suatu proses cetak yang komprehensip.

Kedua, faktor yang berpengaruh terhadap nilai density adalah proses transfer tinta, yang dalam paragraph diatas disebutkan melalui rangkaian proses ,mulai dari bak tinta lalu melewati roll distribusi, kemudian mengalami emulsifikasi dengan air pembasah pada saat tinta tersebut mulai menempel pada plate cetak, yang kemudian bagian image area yang telah dilapisi tinta akan dialihkan terlebih dahulu melalui blanket sebelum akhirnya ditransfer terhadap kertas, rangkaian proses ini terwujud dalam lapisan ketebalan tinta (Ink Film Thickness, IFT). Disinilah peran dari masingmasing, seperti kondisi roll distribusi, kondisi plate cetak, kondisi blanket, serta nilai keseimbangan antar air dan tinta (tingkat emulsifikasi) sangat menentukan terhadap proses transfer tinta. Dari sini bisa muncul pertanyaan yang bisa menjadi bahan diskusi ataupun perdebatan sehat untuk bisa menghasilkan solusi dan kontribusi positif dalam dunia cetak offset. Pertanyaan semacam ini : Apakah kondisi roll yang sudah keras bisa menghasilkan nilai density yang sama atau tidak dengan kondisi roll yang masih baik?. Secara logika sederhana tentu jawabannya Tidak. Begitupun halnya dengan jenis kertas, antara kertas Coated, Uncoated dan Semi Coated akan menghasilkan nilai density yang berbeda atau tidak, pasti jawabannya Iya, meskipun mengggunakan tinta dan kondisi yang sama.

Gb. Lapisan tinta pada kertas Coated dan Uncoated

\
Dari kondisi yang tidak standar itulah muncul potensi-potensi masalah klasik yang masih jadi masalah utama dan hampir selalui dijumpai di percetakan manapun seperti Set Off, Rub Off. Kenapa hal itu bisa terjadi, karena pada saat transfer, tinta tidak optimum dan tentunya pembacaan density menjadi rendah. Hal yang sangat mudah dilakukan untuk mengatasinya pada saat proses cetak adalah dengan menaikkan skala tinta (ink zone dinaikkan). Insiatif ini akan berdampak pada kualitas cetak yang menjadi menurun akibat terjadinya masalah yang beberapa jenisnya disebutkan diatas. Hal lain yang akan muncul kemudian adalah jumlah hasil cetak yang reject akan semakin banyak dan pemakaian tinta akan semakin boros, hal ini akan membuat pusing tujuh keliling bagi si pemilik percetakan, bukan untung tapi malah buntung.


Gb. Ketebalan lapisan tinta dan nilai Density


Kembali ke pertanyaan semula diatas, bagaimana dan berapa sebenarnya Density Optimum tinta cetak offset. Dalam proses tinta separasi CMYK, bidang cetak bukan hanya cetak solid blok saja, tetapi ada bagian gambar sebagai hasil produk fotografi dalam bentuk setengah nada (half tone) sebagai perwujudan dari titik raster. Maka mengenai fokus pengontrolan warna half tone tersebut ada dua pendapat yaitu :

Pendapat 1 : Pengontrolan harus difokuskan pada nada gelap (shadow tone) yaitu : mulai dari 70% hingga 90%, karena jika terjadi dot gain, maka bidang raster pada daerah ini paling berpengaruh terhadap kontras cetak (detail dibagian ini hilang).

Pendapat 2 : Pengontrolan harus difokuskan pada nada tengah (middle tone) yaitu : mulai dari 40% hingga 55%, karena jika terjadi dot gain, maka bidang raster pada daerah ini paling besar nilai dot gain-nya . Nada tengah biasanya mewakili “skin tone” pada model-model wanita

Sehingga berdasarkan dua pendapat tersebut perlu dilakukan pengontrolan ketebalan optimum tinta melalui Parameter Kontras Cetak (Print Contrast Ratio / PCR).

Schirmer, seorang peneliti dari Lembaga penelitian grafika FOGRA Jerman, melakukan penelitian bagaimana menetapkan intensitas warna yang normal dari suatu hasil cetak. Hasil penelitiannya dikenal dengan istilah “Kontras cetak Schirmer.” Kontras cetak schirmer Kc adalah perbandingan dari perbedaan densty blok (100%) dengan Density raster 70% s/d 85% .Kontras cetak schirmer termasuk dalam golongan yang berpendapat bahwa, fokus pengontrolan lebih sensitif pada nada gelap.


Gb. Solid Print 100% dan halftone 80%

Schirmer, melakukan percobaan pada mesin cetak offset lembaran, dengan kondisi cetak konstan, variabel pada penintaan (ketebalan lap.tinta).. Image yang digunakan yaitu bidang blok dan raster 85%. Kemudian dilakukan pengukuran density pada hasil cetaknya.


Gb. Tabel dan kurva Ketebalan lapisan tinta, Ink Density dan Kontras


Jika X meningkat, maka Y juga meningkat.
Tetapi peningkatan X sampai nilai a, hanya
menimbulkan peningkatan Y hingga titik b.
Peningkatan X selanjutnya bahkan
menimbulkan penurunan nilai Y. Titik a dan
titik b menghasilkan titik optimum untuk X
dan Y

X = tebal lapisan tinta, dan Y = kontras
cetak, maka bentuk hubungannya adalah
merupakan analoginya. Jadi kontras cetak
akan menurun pada tebal lapisan tinta
tertentu (setelah nilai a). Jadi, nilai a
merupakan tebal lapisan tinta optimum.

Dari tabel dan grafik diatas menunjukan semakin tebal tinta maka nilai density akan semakin tinggi baik pada nilai Dv (100%) atau Dr (80%). Tetapi pada saat kita lihat nilai Kc (Kontras) tidak menunjukan garis yang Linear dengan nilai Density, tetapi menunjukkan kurva parabolik dimana titik puncak nilai kontras (Kc = 0.277) berada pada nilai Density tinta Dv (100) 1.41 dan Dr (80%) 1.02. Hal ini telah membuktikan bahwa nilai density Optimum tinta tidak selalu Linear dengan ketebalan tinta, tetapi
harus pula memperhatikan nilai Kontrasnya.Seperti pada contoh gambar dibawah ini.

Lapisan tinta optimum Kontras maksimum

Lapisan tinta Maksimum Kontras Minimum


Salam Cetak
Asep Nuryaman
Tech Manager
PT.DIC Graphics
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!