Home Cetak Mencetak Mencetak Foto Hitam Putih
06
Apr
2020
Mencetak Foto Hitam Putih

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Di jaman fotografi digital sekarang ini, foto hitam putih sering dipahami sebagai pilihan mode warna saja dari kamera/editing foto, dimana foto hitam putih berasal dari foto berwarna yang kemudian diubah menjadi hitam putih. Sebenarnya, foto hitam putih adalah bagian dari sejarah fotografi, dan pada perkembangannya membuat fotografi hitam putih sebagai bagian dari lifestyle dan masih digandrungi hingga sekarang.

Melongok sejarah foto pertama dibuat pada tahun 1827 oleh Joseph Nicéphore Niépce asal Prancis. Media perekam gambar dari kamera menggunakan campuran air dan bitumen (semacam aspal) yang diaplikasikan ke atas pelat kaca atau metal. Kemudian pelat tersebut dimasukkan ... dst

dalam kamera hingga menerima cukup cahaya dalam delapan jam, proses tersebut dikenal dengan Heliograph. Saat itulah image foto hanya bisa menghasilkan citra gelap dan terang. Kemudian media perekam fotografi terus dikembangkan dengan penggunaan film yang menghasilkan foto hitam putih. Bahkan foto digital pertama (tahun 1957) dimulai dari foto hitam putih. Setelah muncul teknologi yang menghasilkan foto berwarna pun, foto hitam putih tetap digandrungi karena tampilannya yang klasik.

Justru saat teknologi foto berwarna ditemukan, beberapa fotografer sempat skeptis, seperti fotografer Henri Cartier-Bresson awalnya menolak untuk menggunakan foto berwarna karena menurutnya hasilnya kurang memuaskan. Mencetak foto berwarna dari film prosesnya lebih sulit, lebih mahal, dan yang paling tidak disukai adalah hasil warnanya yang tidak tepat. Bahkan, ada pula pemikiran bahwa warna akan mengubah pesan yang harus disampaikan oleh foto tersebut, karena waktu itu fotografi dijadikan media untuk merekam banyak peristiwa penting dan propaganda dalam sejarah, sehingga ada pendapat bahwa warna yang tidak tepat akan merusak pesan dalam foto.

Dalam perkembangannya, warna menjadi elemen penting dalam karya foto, sehingga foto menjadi unik dan menarik perhatian. Penggunaan foto hitam putih atau berwarna menjadi pilihan fotografer dan tergantung pada konsep foto yang dihasilkannya. Media foto hitam putih banyak yang meyakini dapat menujukkan lebih banyak emosi dan makna yang lebih dalam ketika dipotret dengan tepat. Banyak jurnalis foto yang umumnya memotret manusia ingin menunjukkan emosi sebenarnya dalam foto hitam putih, karena dengan media hitam putih dianggap foto akan lebih dramatis.

Format Hitam Putih pada Foto Digital

Foto hitam putih dapat lebih maksimal, jika memang cara memotret dan setting kamera sudah ditentukan sebelumnya. Tapi sebelum melakukan setting kamera, pastikan menu-menu yang ada pada kamera digital dipahami dengan detail, mengingat setiap brand kamera berbeda-beda letak menu dan cara settingnya. Tapi umumnya kamera profesional ada menu khusus untuk memilih format foto. Untuk hasil maksimal, pilih format RAW dan JPG Monochrome. Format RAW dipilih karena menghasilkan detail di area highlight (terang) dan area shadow (gelap) tidak hilang, karena format RAW mempunyai data foto yang lengkap (tonal, kontras, warna, dll), sehingga hasil foto selalu berwarna.

Sedangkan tujuan kita set kamera format JPG monochrome, adalah (pertama) agar setiap frame mempunyai “backup” jika terjadi eror pada format RAW. (kedua) Agar dapat cek langsung pada layar LCD, seperti cek focus, exposure, kontras, dan komposisi di LCD kamera dalam format hitam putih. (ketiga) Untuk pembanding setelah data di import ke komputer format RAW akan berwarna, dan JPG akan hitam putih, selanjutnya dapat dibandingkan dan dipelajari untuk koreksi selanjutnya.

Naikkan Setting Contrast & Sharpening pada Picture Control, semua kamera digital mempunyai setting untuk Contrast (kontras), Sharpenning (Ketajaman), naikkan kontras “+1” atau “+2” (default nya adalah “0”), sedangkan sharpenning naikkan 25%. Khusus untuk kamera DSLR Nikon, sharpenning menggunakan derajat angka 0 – 9, dan default nya adalah 4, maka bisa naikkan menjadi 6 s/d 7.

Foto hitam putih bisa dimaksimalkan dengan menggunakan filter lensa berwarna  (kuning, oranye, merah, biru dan hijau) yang mempunyai dampak kontras warna yang dihasilkan, intinya filter-filter tersebut menambah kedalaman warna yang dihasilkan. Misalnya, jika menggunakan filter oranye, maka obyek warna oranye pada foto hitam putih akan bertambah terang, sedangkan filter warna biru maka obyek warna biru akan bertambah gelap pada foto hitam putih. Sehingga pemakaian filter warna ini tergantung dari kondisi objek yang akan foto, misalnya foto landscape pagi hari dengan langit cerah, maka filter biru akan menambah kontras warna langit yang ada, sedangkan foto sunset bisa memakai filter merah atau oranye, sehingga warna merah / orange sunset akan lebih dalam dan kontras. Untuk pemotretan pepohonan, bisa menggunakan filter hijau, agar pohon/daun bisa menunjukkan kontras dan warnanya lebih dalam.

Merubah foto warna menjadi hitam putih

Jika memang foto berasal dari foto berwarna, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengubahnya menjadi foto hitam putih di aplikasi editing foto, istilah yang sering digunakan adalah “Post Processing”. Banyak menu yang bisa digunakan, tapi tentunya ada kelebihan dan kekurangan pada setiap cara yang dipilih untuk menguah menjadi foto hitam putih. Sebelum membicarakan cara “Post Processing” foto hitam putih secara digital, ada baiknya kita mengingat kembali bagaimana format file aslinya, sehingga hasil akhir bisa optimal. Banyak sekali cara untuk memproses RAW file foto menjadi foto hitam putih, tapi kali ini difokuskan dengan Adobe Photoshop saja. Berikut ada beberapa cara yang paling umum dilakukan untuk mengubah foto warna menjadi hitam putih dengan software Photoshop :

  1. Dengan Convert langsung ke Grayscale (dari menu: Image – Mode) .... dst 

Dari ke-lima cara tersebut paling disarankan adalah menggunakan Adjustments - Black&White karena detail-detail dari foto dari masing-masing warna bisa ditampilkan secara manual sesuai keinginan fotografer.

Mencetak foto hitam putih

Setelah menyiapkan format foto hitam putih, hal yang tak kalah penting adalah proses cetak/print fotonya. Pencetakan foto adalah proses menghasilkan gambar akhir di atas kertas untuk dilihat. Cara lama/klasik mencetak foto hitam putih adalah dengan menggunakan kertas yang peka secara kimia (kertas foto chemical – klasik). Film negatif foto, atau file gambar digital diproyeksikan ke kertas foto menggunakan unit pembesar digital seperti printer LightJet. Bisa juga dengan cara negatif fim diletakkan di atas kertas dan langsung terbuka untuk membuat cetak kontak. Cara tersebut sering dianggap sebagai "Cetak Foto". Sedangkan pencetakan menggunakan printer digital modern, disebut “Print Foto”.

Spesial untuk print foto, ada langkah-langkah yang diperhatikan. Pertama, waktu mulai print dari komputer, buka informasi/jendela Printer Properties dan pilihlah "Black and White" atau "Grayscale". Biasanya program membutuhkan membuka Printer Properties atau Preferences terlebih dahulu untuk dapat memilih antara Black & White atau Grayscale. Opsi yang tersedia bervariasi pada setiap printer ke pencetak dan dalam program yang berbeda. Misalnya, pada program Windows Photo Viewer, hanya perlu mengeklik tautan "Options" dalam jendela “Print”, lalu "Printer properties". Berbeda dengan program Adobe Illustrator (program yang direkomendasi untuk desain grafis), setelah buka “Print”, lalu buka “Setup”, kemudian buka “Preference”, baru bisa memilih option “Grayscale”.

Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan tujuannya untuk memastikan printer hanya menggunakan tinta Black, tidak tercampur tinta Cyan, Magenta, dan Yellow. Sehingga hasil print foto lebih maksimal hanya menggunakan tinta Black, dan meminimalkan kemunginan foto menjadi kebiruan/kecoklatan atau tidak sepenuhnya hitam putih. Akan tetapi ada juga jenis printer yang terdesain selalu mengeluarkan semua tinta (CMYK), dan tentunya melalui proses yang matang, dipastikan hasil output menghasilkan warna hitam-putih yang diinginkan.

Selain itu, pilih jenis kertas yang sesuai, karena beberapa printer dapat bekerja dengan maksimal hanya pada kertas foto atau Coating Paper, yang bisa menghasilkan gambar yang lebih baik daripada menggunakan kertas biasa seperti HVS. Tentunya pada menu setting printer menyesuaikan jenis kertas yang dipakai, misalnya dipilih “Photo Paper” bukan “Plain Paper”.

Sebagai penutup, seringkali nilai estetika dari foto berwarna dianggap lebih baik dari foto hitam putih, namun foto hitam putih terkadang lebih lincah dalam “menghidupkan” emosi dan menangkap ekspresi obyek foto atau suasana dalam karya tersebut. Gradasi hitam putih yang dramatis bisa ditampilkan oleh foto hitam putih akan memberikan intepretasi yang beragam bagi setiap orang yang melihatnya. Dan ini menyebabkan banyak orang ingin terus mendalami sebuah karya foto hitam putih, sehingga orang awam di dunia fotografi pun dapat lebih mudah merasakan nilai “magis” dari sebuah karya foto monokrom.

 (Dari berbagai sumber) Salam Kreatif

Selengkapnya terdapat pada majalah cetan dan on line Indonesia Print Media edisi 93 Maret-April 2020

Info : WA 0811808282

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!