Home Cetak Mencetak Cetak Online dalam masa Pandemi Covid-19
14
May
2020
Cetak Online dalam masa Pandemi Covid-19

Gambar 1 : Illustrasi : cetakan yang sedang trend saat ini

Oleh : Herman J. Kesumahadi

PIXS (Printing & Packaging Integrated Xtra Solution) Consultant

Masa pandemic yang melanda dunia dikarenakan oleh virus Covid-19 adalah masa yang paling sulit yang dialami seluruh penduduk dunia untuk beberapa dekade terakhir ini setelah Perang Dunia ke II pada pertengahan abad 20. Pelaku printing masih harus merasa beruntung dibanding bisnis lain yang semua rata-rata drop 70% – 90% hingga beberapa segmen bisnis hancur dan terancam gulung tikar.

Bisnis yang bermain di bidang alat kesehatan dan suplemen malah melonjak naik bahkan sampai kewalahan menerima order produksi, hingga muncul para pemain baru dari yang kecil-kecilan hingga yang banting stir ikut membuat masker, sanitizer, dan lain lain. Bisnis cetak mencetak masih boleh dibilang beruntung karena bisnis cetak ...

adalah salah satu penunjang produk-produk tersebut terutama untuk packaging produk makanan dan alat Kesehatan. Bahkan ada percetakan yang banjir order untuk membuat label sticker botol sanitizer ataupun kemasan masker dalam jumlah besar. Permintaan untuk cetak tin can (kemasan kaleng) pun meningkat terutama untuk kemasan makanan kalengan.

Salah satunya yang agak menghambat adalah socal distancing yang diterapkan pemerintah dalam beberapa minggu terakhir guna meredam penyebaran virus Covid-19. Terapan yang baik dari pemerintah dalam hal mengatasi penyebaran virus, tetapi berefek di segala segmen bisnis. Beberapa efeknya adalah, karyawan yang sulit berangkat kerja karena penerapan transportasi yang membatasi jumlah penumpang, sulitnya mendapat suplemen untuk menjaga Kesehatan, belum lagi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan perusahaan untuk mengurangi jumlah karyawan yang masuk, bahkan melakukan segel pada perusahaan yang tetap beroperasi pada saat PSBB berlaku.

Sebetulnya di negara-negara maju sudah banyak yang menerapkan Work From Home (WFH) dengan memanfaatkan fasilitas teknologi internet cepat yang sudah memasyarakat, tetapi berbeda dengan di negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos, dan lain-lain yang belum semua lapisan masyarakat bisa menikmati layanan tersebut. Layanan internet cepat dan dikombinasikan dengan perangkat keras dan perangkat unak yang tepat, dapat membuat produktivitas tidak terhambat dengan jarak dan ruang. Contohnya, meeting online, berkirim surat, diskusi, bahkan untuk mengetahui progress produksi sedang berjalan.

Memang ada masih beberapa hal yang tidak bisa dilakukan via online dari rumah sewaktu WFH seperti menjalankan mesin, monitoring kualitas cetak, loading bahan, dan lain-lain. Jadi memang masih diperlukan unsur manusia untuk tetap di tempat dalam menjalankan dan mengawasi jalannya produksi secara fisik, jumlah manusia yang bekerja di tempat bisa dikurangi dan membuat social distancing lebih baik tetapi perlu investasi lebih untuk melakukan pengadaan software dan mesin-mesin yang bisa lebih otomatis dan via remote.

Gambar 2 : Illustrasi : website online yang memberi opsi cetak custom sesuai kebutuhan

Dalam hal penerimaan job, dalam 10 tahun belakangan ini beberapa percetakan di Indonesia sudah memulai untuk menawarkan bahkan memesan hasil cetak melalui online sampai ke proses pembayarannya pun online dengan otorisasi kartu kredit, kartu atm, ataupun Cash On Delivery (COD). Pemesanan bisa dilakukan online, melampirkan design yang dikehendaki, membuat design sendiri dengan elemen-elemen yang sudah disediakan (clip art), hingga meng-otorisasi siap cetak, dan berlanjut dengan proses pembayaran yang aman dengan SSL encryption 128 bit yang tidak bisa ditembus oleh para hacker nakal.

Saat ini, berkolaborasi dengan web provider dan storage di cloud server memungkinkan untuk siapapun yang ingin membuat websitenya sendiri untuk memperjual belikan produknya. Tetapi untuk produk cetak tidak semudah itu, karena cetak adalah gabungan antara barang dan jasa, yang dibeli bukanlah produk jadi seperti konsumable produk pada umumnya, tetapi harus sesuai dengan design dan brand sang pelanggan.

Karena itu beberapa vendor perangkat lunak printing selain menyediakan “web interface” nya, tapi juga menyediakan fasilitas untuk menerima design dari pelanggan, pelanggan bisa melakukan editing terakhir sebelum di proses, percetakan bisa menyesuaikan design tersebut dan menampilkan Kembali dan menunggu konfirmasi dari pelanggan.

Bahkan bisa melakukan simulasi 3 dimensi untuk produk tersebut seolah-olah kemasan/label sudah terpasang pada produknya. Bahkan ada software yang bisa men-simulasi-kan bagaimana tampilan produk tersebut terpajang pada rak ditoko.

Gambar 3 : Illustrasi : 3D simulasi produk dan display produk

Dikombinasikan dengan cetak digital juga membuka kemungkinan customer untuk memesan cetakan buku/brosur/stiker/pamflet/company profile/dan lain-lain dalam jumlah sedikit dan tidak ada minimum order. Cetak hanya 1 lembar brosur pun bisa.

Tetapi hasil cetak yang membutuhkan akurasi dan kestabilan warna masih tetap disangsikan, karena mengingat belum semua percetakan menerapkan konsep kestabilan warna, keakuratan warna dan QC monitoring yang ketat akan profil warna dan toleransi warna (DeltaE).

Itu semua harus didukung oleh pengetahuan yang cukup, peralatan yang memadai, dan alat bantu perangkat lunak yang harus dipertimbangkan sebagai investasi kedepan jika ingin bersaing dengan kualitas internasional dan mengikuti standard internasional.

Walaupun dalam situasi sulit seperti sekarang ini, semoga itu menjadi pemikiran dan tantangan untuk kedepannya agar dapat bersaing di meja bundar kualitas cetak dunia.

Semoga WFH dan waktu luang yang didapat karena tidak usah bermacet-macetan dijalan dapat diisi dengan pemikiran untuk maju dimasa mendatang nanti dengan inovasi-inovasi baru dibidang kualitas dan kestabilan hasil cetak. Selain memikirkan bagaimana perusahaan harus bisa “survive” dalam masa sulit ini, terutama dalam menjelang THR karyawan.

Salam sukses dan selalu berpikiran positif ke depan.

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!