Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini951
mod_vvisit_counterKemarin790
mod_vvisit_counterMinggu ini3146
mod_vvisit_counterMinggu lalu6614
mod_vvisit_counterBulan ini16821
mod_vvisit_counterBulan lalu31166
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1383364
Kami Memiliki: 30 guests online

Home
03
Jul
2017
Batasan Editing Foto Jurnalistik

Batasan Editing Foto Jurnalistik

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Jurnalistik berasal dari bahasa Belanda “Journalistich” atau dalam bahasa Inggris “Journalism” yang bersumber dari bahasa Perancis “Journal”, asal kata dari “Jour” yang berarti hari. Jadi journal berarti catatan harian. Journalistich berarti pengetahuan tentang penyiaran catatan harian dengan segala aspeknya, meliputi : mencari, mengolah, sampai kepada menyebarluaskan catatan harian tersebut. Dan yang disebarluaskan itu adalah apa yang biasa kita sebut sebagai berita.

Menurut Prof. Mitchel V. Charnley : “News is timely report a fact or opinion of either interest or important or both to a considerable number of people” (Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau keduanya bagi sejumlah besar orang).

Foto jurnalistik adalah jenis foto yang digolongkan sebagai foto yang bertujuan dalam permotretannya karena keinginan bercerita kepada orang lain. Jadi foto-foto di jenis ini kepentingan utamanya adalah keinginan dalam menyampaikan pesan (massage) pada orang lain dengan maksud agar orang lain melakukan sesuatu tindakan psikis maupun psikologis. Banyak orang awam yang beranggapan bahwa yang disebut fotojurnalistik itu hanyalah foto-foto yang dihasilkan oleh para wartawan foto saja. Padahal fotojurnalistik sebenarnya mencakup hal yang sangat luas. Foto-foto advertensi, kalender, postcard adalah juga bisa dikatakan jenis fotojurnalistik.

Fotografi selalu menghiasi halaman berbagai media cetak di dunia dengan foto berwarna sampai foto hitam putih yang diidentikkan dengan fotografi jurnalistik. Awalnya foto hitam putih yang mendominasi, selain pertimbangan efisiensi pelat cetak dan kecepatan cetak.Pemilihan pemuatan foto hitam putih juga diambil pada kondisi seperti mengurangi suasana seram pada foto aslinya, misalnya karena ada adegan noda-noda darah di foto itu. Kemudian jaman berkembang seiring dengan teknologi cetak, sehingga foto jurnalistik banyak yang menampilkan foto berwarna.

Di sisi lain, editing foto bisa diartikan rekayasa atau manipulasi foto.Masalah rekayasa foto sebenarnya bisa terjadi bukan dari sisi edit hasil foto saja, tapi dari pemilihan objek oleh fotografer, sudut pengambilan, moment yang tidak tepat, dan sebagainya. Editing foto yang dimaksud disini adalah mengolah secara digital hasil foto dengan menggunakan teknologi digital imaging khususnya yang digunakan untuk foto berita.

Memasuki jaman baru, dimana telah terjadi evolusi dalam perkembangan teknologi media, yaitu dari analog ke digital. Dalam dunia digital, semua data tak terkecuali citraan foto ditransformasi dan terurai dalam bentuk kode-kode numerik, menjadi zat yang fleksibel, dan virtual. Perkembangan fotodigital (dan pengembangan kamera digital dan komputer grafis) membuat proses produksi dan reproduksi citraan begitu pesat. Dalam proses foto digital, fotografer/editor bisa menggubah, memindahkan, memotong, menimpa, mengobrak-abrik citraan tanpa harus mengganggu salinan asli dengan waktu yang sangat singkat. Hebatnya lagi tiap citraan bisa keluar (output) di atas permukaan apa pun dan ukuran yang besar sekalipun.

Dalam dunia fotografi digital saat ini, foto jurnalistik sejatinya adalah foto berwarna. Harus ada alasan yang masuk akal untuk membuat sebuah foto jurnalistik tampil hitam putih. Karena walaupun hanya mengubah dari foto berwarna ke hitam putih tidak bisa diremehkan karena ada perbedaan tone warna yang mendasar. Dengan realitas alam yang memang berwarna, foto jurnalistik yang tampil hitam putih sebenarnya telah melakukan penyimpangan. Foto hitam putih sebenarnya bukan sekadar menyederhanakan warna, tetapi juga telah mengubah warna menjadi gradasi abu-abu. Dan pengubahan ini bisa terjadi dengan banyak kemungkinan.

Permasalahan lain adalah berkembangnya teknologi digital sehingga memungkinkan untuk merubah, menambah, mengurangi, menggabungkan, dari karya fotografi digital sehingga fotografer lebih leluasa dan bebas untuk berkarya baik untuk keperluan artistik maupun dokumentasi berita. Dan yang dibahas pada penulisan ini terbatas pada foto yang digunakan sebagai penjelas berita atau berita itu sendiri.

Rekayasa digital membawa dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat kontemporer di berbagai segi. Tak ada badan sensor atau nilai-nilai yang mampu menahan arus baru dalam model reproduksi era digital. Fotografer harus rela mempertaruhkan dari sisi etika maupun estetik. Segala batasan telah banyak diruntuhkan, termasuk juga batas antara kebenaran dan kebohongan, profesional dan amatir, tak ada lagi dominasi moral. Itulah kenyataan yang menghantui dunia fotografi. Sebagai suatu model acuan kebenaran dan nilai normatif, fotografi mulai diragukan dan dipertanyakan.

Dengan berkembangnya teknologi digital imaging dewasa ini, tindakan merubah foto semakin mudah dilakukan oleh orang yang mahir mengolah foto. Digital imaging / olah digital itu sendiri terbagi dari berbagai kelas, ada yang hanya sekedar menaikan kontras, saturasi, dodging, burning, sampai merubah komposisi bahkan mencampur-campur berbagai foto menjadi satu foto. Digital imaging yang melibatkan tindakan perubahan komposisi dan menempelkan foto-foto lain lebih dekat ke arah manipulasi foto. Manipulasi bisa digunakan untuk tujuan baik maupun tidak baik, sejauh manipulasi foto hanya digunakan untuk keperluan koleksi pribadi, dimana tidak ada pihak yang dirugikan dengan tindakan tersebut, maka olah digital dianggap sah-sah saja.

Bagi fotografer jurnalistik atau wartawan yang bertugas untuk menyebarkan sebuah berita, manipulasi foto jelas tidak diperkenankan dan mengarah kepada tindakan penyebar kebohongan. Untuk menjaga agar keutuhan nilai-nilai jurnalistik tetap terjaga ketika dilakukan proses pengeditan digital pada sebuah foto jurnalistik, maka perlu adanya batasan-batasan yang jelas tentang sejauhmana sentuhan editing foto bisa dilakukan. Berikut adalah hal-hal yang diperbolehkan pada editing foto (untuk kepentingan jurnalistik):

  1. Koreksi warna (color balancing/correction).Dengan pengkoreksian warna diharapkan obyek yang ditampilkan tidak akan terlihat buram atau tidak jelas. Tetapi tidak mengubah warna esensial seperti merubah warna rambut untuk keperluan merubah usia, dan sebagainya.
  2. ...
  3. ...
  4. ...
  5. ....
  6. ....
  7. ....
  8. ....
  9. ....
  10. .....

Sedangkan hal-hal yang dilarang dalam pengeditan digital image untuk kepentingan pemberitaan adalah:

1.      Menambah, menukar atau menghilangkan obyek dimana akan merubah keseluruhan konteks dari foto yang ditampilkan.

2.      Memanipulasi usia, misalnya dengan membuat lebih muda atau lebih tua sebuah subyek foto (contohnya, merubah warna rambut).

3.      Merubah ekspresi subyek foto, gerakan tubuh, sebagian anatomi tubuh atau asesoris tubuh lainnya.

 

Sebenarnya rekayasa foto jurnalistik terjadi sejak dahulu, pada tahun 30-an, di Amerika Serikat, Senator Millard Tydings dari Maryland, gagal pada pemilihan berikutnya gara-gaa sebuah foto rekayasa muncul saat kampanyenya. Foto rekayasa dengan montase itu menggabungkan foto Tydings dan Earl Browder, salah satu pemimpin komunis di AS. Padahal, Tydings sama sekali tidak pernah bertemu dengan Browder. Namun efek foto itu sungguh luar biasa.




https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-zW0eRUV0WnM%2FU31oRjh5NdI%2FAAAAAAAAAXg%2FhkVUkReuUjQ%2Fs1600%2Fgambar%2B4.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*
Foto Tydings dan Earl Browder

Ahok dan Rizik Syihab

Foto Habib Rizieq yang berjabat tangan dengan Ahok ini adalah foto editan yang diolah oleh seorang 'seniman Photoshop' bernama Agan Harahap yang memang dikenal dengan editan-editan foto tokoh terkenal dari aktris Angelina Jolie, Kim Kardashian, hingga petinju terkenal Filipina Manny Pacquiao.

Image may contain: horse and text

Pada tahun 2016, Foto cumi-cumi raksasa sepanjang 49 meter menghebohkan Aceh dengan judul berita: “Makhluk Raksasa ini Keluar Dari Dasar Laut, Pertanda Bencana Besar?”Foto tersebut merupakan foto suntingan yang didaur ulang, karena foto ini juga pernah menghebohkan dunia pada Januari 2014. Setelah diusut kebenarannya, ternyata cumi tersebut aslinya hanya berukuran sepanjang 12 meter. Foto yang beredar luas di internet adalah foto yang telah disunting dan diperbesar.

Ketiga foto di atas adalah contoh kecil dari banyaknya foto hoax (foto bohong) hasil dari digital editing oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan perlu diketahui foto-foto palsu tersebut kebanyakan tidak dibuat fotografernya (wartawan), namun orang lain yang memanfaatkan foto itu. Fenomena itu berkembang pesat, karena kemajuan digital imaging belum diterima secara merata di masyarakat. Namun dengan maraknya foto hoax, sisi positifnya adalah masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam memahami foto yang beredar di media berita mainstream maupu media-media sosial yang sedang marak.

Dengan adanya editing foto, perbedaan foto palsu dan asli menjadi sangat tipis. Penggunaan program rekayasa foto perlu dipahami konteks dan tujuannya terutama untuk para fotografer. Program rekayasa foto bukanlah ancaman bagi fotografer yang tidak dapat menggunakannya dan mengagungkan foto asli. Itu semua berpulang ke diri masing-masing, yaitu tujuan sang fotografer menggunakan foto karyanya untuk kepentingan apa. Foto asli bukan sekedar arti harfiah, lebih dalam lagi, asli dalam konteks makna yang terkandung dan keutuhan informasi yang diberikan kepada khalayak.

Salam Fotografi

Selengkapnya terdapat pada majalah Print Media Indonesia edisi 76 Mei-Juni 2017

info :

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Mobile / WA 0811808282