Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini519
mod_vvisit_counterKemarin1908
mod_vvisit_counterMinggu ini5086
mod_vvisit_counterMinggu lalu9213
mod_vvisit_counterBulan ini28471
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1324487
Kami Memiliki: 38 guests online

Home
04
Sep
2017
KEMASAN JADI TREN BARU DI DUNIA GRAFIKA

KEMASAN  JADI TREN BARU DI DUNIA GRAFIKA

Pada pameran Industri Grafika FDGexpo 2017, NPES Printpack Conference mengadakan seminar seputar kondisi, tren, serta peluang juga berbagai solusi yang bisa membantu menciptakan gagasan baru di dunia grafika.

Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang yang sama di bidang grafika. Mereka berupaya menciptakan peluang dan tantangan pasar dalam industri kemasan di Indonesia.

NPES sangat peduli terhadap transformasi ilmu dan pengetahuan di bidang percetakan. Saat ini NPES yang memiliki cabang di Indonesia merupakan pihak yang turut bertanggung jawab atas terselenggaranya kegiatan ini.

Ketua Perkumpulan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) untuk masa periode 2016-2021, Ahmad Mughira Nurhani (Mughi) mengulas kondisi percetakan offset di dunia digital yang terjadi saat ini. selengkapnya klik judul link diatas

Menurutnya, jika melihat kondisi percetakan saat ini memang sudah masuk dunia packaging. Banyak majalah sekarang yang kini sudah mencetak online per edisi.

"Dulu oplah cetak mencapai 20 ribu-30 ribu, sekarang sudah di bawah itu," kata pria yang juga selaku Presiden Direktur Intermasa periode 2001-2017 ini.

Oleh karenanya, Mughi mencermati pasar percetakan offset yang ada saat ini. Menurut ketentuan undang-Undang, Pemerintah telah mencanangkan 20% dari APBN dan APBD untuk pendidikan 260 T =10% untuk cetak 2T/bulan.

"Jadi untuk tahun 2017 jumlah cetak sebanyak 90 juta buku, kemudian di 2018 sebanyak 115 juta buku, dan di tahun 2019 sebanyak 140 juta buku. Jadi, masih ada harapan untuk percetakan offset," ungkapnya.

Namun saat ini yang sanggup menjilid buku 20ribu/hari, hanya 62 percetakan besar saja. Dan 90% berada di pulau Jawa, karena pabrik kertas hanya ada di pulau Jawa dan Sumatera.

"Jadi pengusaha yang tinggal di Kalimantan, Sulawesi dan Wilayah lain ingin buat percetakan agak sulit," tukasnya.

Pemerintah juga telah menetapkan standar buku pelajaran berukuran A4. Sementara buku-buku untuk SMP dan SMA adalah B5, karena jika semua dibikin A4 kapasitas cetaknya tak banyak di Indonesia.

"Misalnya, untuk buku pendidikan Agama Islam saja kini berukuran A4 (banci) dengan mesin cut off 578. Saat ini kondisi percetakan sudah menurun. Biasa terima order di bulan Februari kini dimulai pada bulan Juni-Juli," imbuhnya.

Mughi berujar, saat ini tren yang berkembang ke depannya adalah Packaging/pengemasan. 10 tahun lalu orang masih banyak membaca majalah/koran di segala aktivitasnya. Kini semua sudah pakai gadget.

"Kalau mau serius, bisnis terbaik yang akan menunjang kedepannya adalah packaging. Ciptakan kreasi desain yang menarik," kata dia.

Karena, lanjutnya, kita boleh berbangga lantaran kita yang saat ini berusia di rentang 30-40 merupakan imigran digital, sementara usia rentang 15-25 nature digital. "Jadi, masih ada harapan untuk merubah ke dunia packaging," pungkasnya.