Home
10
Dec
2019
Membongkar Foto Hoax

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Beberapa tahun terakhir Indonesia dhebohkan dengan istilah hoaks atau hoax, yang artinya berita bohong. Sebenarnya berita bohong sudah ada dari dulu, namun istilah hoax boleh dikatakan baru dikenal. Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.  Menurut Silverman (2015), hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun 'dijual sebagai kebenaran. Sedangkan menurut Werme (2016), hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoax bukan sekedar menyesatkan, tapi informasi palsu tersebut juga tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta. 

Media penyebaran hoax internet pertama yang diketahui adalah via email, dan biasanya berisi peringatan akan hal sebuah klaim palsu. Kemudian dengan makin berkembangnya teknologi, terutama pada smartphone dan media sosial, jenis hoax di internet semakin banyak dan berbahaya. Kalau tidak hati-hati, pengguna dunia maya atau netizen dapat dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut. Bahkan malah bisa ikut menyebarkan hoax, yang tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah.

Menurut Irjen Didi Haryono (Kapolda Kalbar) “Hoaks paling banyak disebar adalah Sosial politik, Kesehatan dan SARA. Isu inilah dianggap paling paten dan mempan untuk memecah belah" Sementara, hoax paling sering disebar dan diterima dalam bentuk: Tulisan ada 62,10 %, Gambar/Foto 37,50 % ,Video 0,40 %. Sedangkan saluran penyebaran paling banyak ada di media sosial 92,40 %.

Media gambar/foto menenpati urutan kedua sebagai media yang sering digunakan menyebar hoax. Kita akan membahas secara fokus tentang media gambar/foto ini. Ada 3 (tiga) Jenis hoax yang menggunakan media foto, yaitu: Foto yang sengaja dimanipulasi, Foto asli yang keterangannya palsu, Kesalahan pemahaman terhadap Foto.

1. Foto yang sengaja dimanipulasi

Sebuah foto hasil dari kamera foto ada dua macam; yaitu dengan media film dan digital. Untuk media film, manipulasi/rekayasa foto jurnalistik sudah ada pada tahun 1930-an, di Amerika Serikat, Senator Millard Tydings dari Maryland, gagal pada pemilihan berikutnya gara-gaa sebuah foto rekayasa muncul saat kampanyenya. Foto rekayasa dengan teknik montase itu menggabungkan foto Tydings dan Earl Browder, salah satu pemimpin komunis di AS. Padahal, Tydings sama sekali tidak pernah bertemu dengan Browder. Namun efek foto itu sungguh luar biasa.

Sebuah foto hasil dari kamera digital, lebih mudah lagi untuk membuat foto hoax. Sangat banyak software foto editor beredar, dari progam yang canggih hingga program instan. Konsep penggunaan foto editor adalah memperbaiki kualitas foto, menghapus hal-hal yang tidak diinginkan (kasus pada foto iklan), menggabungkan beberapa foto untuk kepentingan tertentu. Namun, efek negatifnya adalah ada beberapa orang dengan sengaja membuat foto haasil editan digunakan untuk membuat hoax, untuk kepentingan pribadi/kelompok.

Foto Presiden Rusia, Vladimir Putin sering kali dia dibully karena kearoganannya. Berita beredar beliau sedang menunggang seekor beruang.Ternyata ada foto pada tahun 2009 Putin mengendarai kuda saat liburan di Siberia.

Manipulasi foto tidak hanya sebatas foto dari kamera fotografi, tapi juga hasil screenshot dari layar monitor atau smartphone. Misalnya screenshot dari chating yang kemudian diedit (tidak sesuai aslinya), lalu disebarkan dengan tujuan memojokkan seseorang sudah termasuk menyebarkan hoax.

2. Foto asli yang keterangannya palsu

Foto hoax tidak selalu foto hasil editing, tetapi bisa juga memakai foto asli (tanpa editing). Pada kasus ini seringkali penyebar hoax menggunakan foto sebagai ilustrasi, tapi foto yang digunakan tidak sesuai dengan kejadian yang diceritakan. Misalnya terjadi kejadian bencana alam banjir, karena belum ada foto yang beredar lalu mengambil foto lama sebagai ilustrasi (tanpa keterangan bahwa foto tersebut foto kejadian sebelumnya) untuk berita yang dibuat, sehingga justru bisa disebut penyebar hoax karena foto tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Contoh lain pada foto karya patung di bawah ini, berita yang beredar: “Gadis ini diyakini sebagai makhluk yang dihukum”. Penyebar berita sengaja melakukannya untuk tujuan tertentu. Tetapi, ini adalah karya seni patung yang dibuat seniman Australia, Patricia Piccinini.

3. Kesalahan Pemahaman Terhadap Foto

Sebenarnya point ke-tiga ini mirip dengan point sebelumnya, bedanya pada pemahaman terhadap foto yang disebarkan. Point sebelumnya penyebar hoax sangat paham dengan apa yang terjadi pada foto, tetapi sengaja memanipulasinya dengan teks/penjelasan yang salah. Pada point ke-tiga ini, kesalahan berita berasal dari kesalahan pemahaman dari penyebar berita, atau bisa juga dari penerima berita. Kesalahan memahami foto tersebut ada beberapa macam: Lelucon yang dipahami serius, Fenomena Paraedolia, danKetidaktahuan teknis pada fotografi.

Hoax berbeda dengan lelucon. Hoax bertujuan menghasut, bohong, dan menggiring opini publik dengan sesuatu yang tidak benar. Sedangkan lelucon bertujuan untuk bercanda, lucu-lucuan, atau fun. Misalnya pada lelucon seperti meme tugu monas diangkat helikopter itu bukanlah hoax, tapi lelucon warganet menyikapi pindahnya ibukota Jakarta. Tapi bisa jadi, karena pemahaman orang banyak yang beragam, ada sebagian orang yang memaknainya sebagai kebenaran (Monas benar-benar dipindahkan dengan helikopter) karena keterbatasan informasi dan tingkat pendidikan. Nah, lelucon yang dipahami sebagai kebenaran inilah bisa berubah menjadi haox.

Ada juga fenomena Pareidolia, adalah sebuah fenomena psikologis di mana seseorang dapat mengenali suatu bentuk, pola, atau objek tertentu (biasanya wajah) padahal yang dilihat adalah benda mati. Dalam ilmu kesehatan, fenomena seperti ini terkadang digolongkan ke dalam ilusi visual (keliru menangkap dan mengartikan suatu gambar) atau bahkan halusinasi visual (seolah-olah melihat wajah padahal tidak ada apa-apa). Fenomena ini bisa jadi merupakan suatu kondisi normal karena otak manusia memiliki fungsi untuk mengenal wajah. Dr Nouchine Hadjikhani dari Harvard University menyebutkan bahwa fenomena ini sudah terjadi sejak lahir di mana otak akan langsung memproses bagian-bagian wajah yang pertama kali dilihatnya. Karena fenomena ini orang kadang salah memahami sebuah foto misalnya awan yang mirip penampakan wajah Yesus misalnya, dan serta merta share foto tersebut dengan memberi keterangan bahwa Yesus datang ke dunia dan melihat kita dari langit. Berita ini bisa saja menjadi hoax hanya karena kesalahpahaman melihat.

Berikutnya adalah karena ketidaktahuan tentang teknik fotografi. Misalnya teknik double expose, dimana dalam satu frame bisa dilakukan dua kali (atau lebih) pemotretan, sehingga bisa terjadi dua objek bisa menumpuk. Jaman dulu teknik ini belum banyak yang mengenali, sehingga jika ada foto dua orang dalam satu frame tapi dua orang tersebut orang yang sama, ada yang mengira terjadi penampakan malaikat penjaga (kembarannya) di dunia maya.          Kemudian teknik digital imaging berkembang sangat pesat dan canggih memungkinkan membuat foto yang direkayasa sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu. Nah, dari kecanggihan itu ada orang yang memanfaatkannya untuk menyebar berita bohong.

Media foto sangat mudah digunakan sebagai media berita hoax, dan membedakan mana yang asi dan mana yang editan sudah ... dst

 (Dari berbagai sumber) Salam Kreatif

Info WA +62811808282

Email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it