Home
24
Aug
2020
Penerapan STANDARISASI PROSES CETAK OFFSET untuk memenangkan PERSAINGAN

 

Disusun oleh : Lathi Harhary M.S. (consultant)

Bagian dari bisnis adalah “PERSAINGAN”. Sering kali ditemui kondisi pada suatu perusahaan dimana hal tersebut pasti terjadi dalam hal pemasaran dan penjualan. Kejadian ini adakalanya menjadi keluhan staf pemasaran dan penjualan bahwa mereka kehilangan peluang karena kompetitornya memberikan penawaran harga yang lebih rendah, sedangkan bagian kalkulasi maupun produksi sudah berusaha menghitung atas dasar harga bahan dari perusahaan pemasok yang paling murah. Baik bahan-baku tersebut sebagai bahan-baku pokok seperti kertas/karton maupun bahan-baku penunjang (consumables) proses produksi lainnya, seperti tinta, fountain solution, blanket, cairan pencuci dan lain-lainnya. 

Bahkan, fenomena (persaingan) ini sering terjadi antara perusahaan yang telah lama berdiri dengan perusahaan yang boleh dibilang masih baru. Dan secara umum perusahaan lama tersebut biasanya (masih) menggunakan mesin atau peralatan relatif sudah lama sedangkan perusahaan yang baru, peralatan dan mesin-mesinnya (biasanya) lebih baru. Begitupun karyawan-karyawannya, sudah tentu secara logika perusahaan lama akan mempunyai tim produksi yang lebih “pengalaman”.

Seperti kita ketahui, pada industri percetakan; kualitas, standarisasi dan kestabilan hasil (produksi) menjadi tuntutan dan syarat utama dari konsumen, dimana pada umumnya konsumen memang berinteraksi langsung dengan produsen. Sehingga produsen dalam hal ini percetakan, akan melakukan proses produksi atas dasar pesanan konsumen atau oleh pemberi order dengan permintaan (tuntutan) spesifik bahkan ada kalanya dengan syarat  khusus sesuai jenis order itu sendiri. Hal ini tidak terjadi pada industri lain pada umumnya, dimana kualitas dan standar maupun kestabilan ditentukan dan diukur oleh produsen itu sendiri.

Jadi, dalam hal ini tidak ada komunikasi langsung antara produsen terhadap konsumen. Dengan dua kondisi seperti yang diutarakan  tersebut, suatu perusahaan sudah seharusnya menerapkan standarisasi proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas, stabil dan konsisten sehingga bisa meningkatkan efesiensi dan produktivitas serta bisa memenuhi ekspektasi pelanggan yang pada akhirnya bisa mengurangi kesalahan, yang akan mempengaruhi harga akhir dari suatu produk.

Dalam percetakan, Penerapan STANDARISASI PROSES PRODUKSI akan ...

memberikan pengaruh, sehingga bisa MENINGKATKAN produktivitas dan efisiensi yang akan memberi pengaruh dan DAYA SAING diantara pesaing.

Dalam hal ini, Standarisasi Proses Produksi paling tidak terdapat 4 aspek Persyaratan yang bisa dikelompokkan dan diterapkan pada suatu perusahaan,  yaitu :

A.  Sumber Daya Manusia

Salah   satu   cara   untuk   menerapkan   Standarisasi   Proses   Produksi   adalah   melibatkan   dan

memperdayakan karyawan. Keberhasilan implementasi  pelibatan dan pemberdayaan karyawan memerlukan peningkatan atau perubahan budaya organisasi dan etos kerja individu-individu. Karyawan (SDM) selain merupakan asset yang paling dominan dalam organisasi, dalam hal ini proses produksi, juga sebagai pelaku internal yang sangat berperan dalam menghasilkan suatu

produk yang baik dan konstan. Oleh karena itu, pelibatan karyawan harus disertai dengan pemberdayaan.

Usaha tersebut harus dilakukan dalam hal-hal sebagai berikut :

1.   Menyiapkan dan membuat dokumen-dokumen Stadarisasi Proses Produksi yang telah disusun dengan melibatkan manajemen, penyelia dan karyawan sebagai pelakunya.

2.   Memahamkan   dan   mengimplementasi  Standart  Proses  Produksi   berikut  memberi tanggung jawab kepada penyelia dan karyawan yang terlibat.

3.   Melatih  dan  membiasakan  penyelia dan  karyawan  untuk  mengikuti  dan    melakukan

Standart Proses Produksi sesuai dengan dokumen yang telah dibuat.

4.   Komunikasi dan umpan balik antara pembuat keputusan dan karyawan yang telibat.

5.   Pengakuan dan Penghargaan sebagai hasil dari evaluasi perlu diberikan kepada karyawan sebagai kontribusinya kepada perusahaan.

Seperti kita ketahui bahwa manusia merupakan mahluk sosial, dinamis dan kreatif dalam berfikir yang seringkali berubah-rubah, sehingga perlu dibuat dokumen yang berisikan tahap-tahap dalam melakukan Standart Proses Produksi sehingga akan dapat menghasilkan produk (cetakan) yang baik sesuai standart, stabil dan konsisten. Dengan adanya dokumen Standart Proses Produksi, disamping akan memudahkan cara bekerja juga bisa digunakan seandainya terjadi penggantian karyawan, sehingga proses produksi tetap akan tetap menghasilkan produk yang standart. Dokumen Standart Proses Produksi yang dimaksud, sebagai contoh adalah SOP (Standard Operational Procedures) dan Instruksi Kerja atau WI (Working Instruction), yang didalamnya telah berisikan langkah-langkah kerja di mesin dan nilai-nilai standart cetaknya, yang antara lain nilai density tinta, dot gain, pH & conductivity cairan pembasah, tekanan rol-rol dan lain sebagainya. WI ini juga bisa digunakan untuk tracking kerja dan history kerja pada suatu mesin apabila ditemukan kesalahan, sehingga akan memudahkan untuk dilakukan langkah-langkah perbaikan. Juga, bisa digunakan untuk mengevaluasi performance pekerja dalam menilai karyawan.

B.  Standarisasi Proses Produksi

Sering dijumpai bahwa departemen produksi pada suatu perusahaan menyatakan bahwa mereka telah  menerapkan standarisasi dalam proses produksinya, tetapi mengapa hasil produksinya tidak bisa stabil dan konstan, apa yang kurang benar?. Bahkan karyawan pada departemen produksinyapun sudah bekerja cukup lama, sehingga pengalamannyapun sudah cukup memadai. Lalu.....? mengapa hasilnya sering berubah-rubah sehingga menerima complain atau bahkan sering di“reject” hasil pekerjaannya oleh pemesan.

Seperti yang telah disinggung diatas bahwa penerapan Standart Proses Produksi harus disiapkan atau  dibuat  berupa  dokumen tertulis sebagai panduan  yang bertujuan  agar dalam pelaksanaan proses produksi telah sesuai, dan bila ada kesalahan akan lebih cepat dan pasti ditemukan kesalahan atau penyimpangannya. Yang akhirnya akan lebih mudah mengatasinya.

Kata “Standart” seharusnya mengacu atau berpedoman pada “nilai angka” nominal sebagai referensi, sehingga   akan dengan mudah diketahui apabila terjadi sesuatu penyimpangan karena nilai angkanya tidak sesuai . Untuk membatasi ulasan tentang Standarisai Proses Produksi, dapat dirumuskan atau  didifinisikan bahwa Standarisasi Proses Produksi adalah : “Melakukan  Proses Produksi dengan mengikuti tahapan proses kerja (SOP) yang telah ditentukan berdasarkan parameter- parameter yang terukur dengan menggunakan peralatan (mesin dan alat ukur) , bahan baku dan cara kerja yang telah distandartkan untuk menghasilkan produk akhir yang stabil dan konsisten serta memenuhi kualitas yang ditargetkan”. Untuk melengkapi SOP biasanya diikuti didalamnya dengan

Working Instrustion/instruksi kerja (WI). Seperti kita ketahui bahwa SOP menggambarkan pengendalian  banyak aktifitas dari suatu proses,  misalnya SOP Produksi,  sedangkan  WI  hanya merupakan petunjuk atau tata cara dan urutan dalam melakukan satu jenis aktifitas atau pekerjaan pada bagian tertentu, yang didalamnya sudah mengacu pada waktu dan orang yang mengerjakan.

Pada proses produksi cetak offset, untuk mendapatkan hasil cetak yang baik dan stabil, semua tahapan proses akan mengacu pada angka nominal yang telah distandartkan oleh suatu lembaga standarisasi, misalkan GATF, ISO, FOGRA atau lembaga lainnya. Segala sesuatunya yang berhubungan dengan proses produksi harus mengacu pada “nilai angka”, bukan merupakan hasil “kira-kira” atau “feeling” bahkan “kebiasaan”. Ada suatu pernyataan yang menarik : “If you can measure it, you can control it and with numerical values you can quantify the prints” (Jika anda bisa mengukurnya, anda akan bisa mengontrolnya dan dengan angka, anda akan bisa menilai cetakannya) Jadi apabila terjadi penyimpangan ataupun kesalahan, “angka-angka” ini akan membantu kita untuk melakukan evaluasi dan perbaikan bila diperlukan. Proses standarisasi ini harus dilakukan mulai sejak dari proses pada pra-cetak (pre-press), proses cetak (press) hingga proses pasca cetak (post- press/finishing).

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa tahapan atau alur proses kerja produksi (work flow) harus dibuat dan disosialisasikan ke semua pelaku produksi yang biasa disebut dengan SOP (Standard Operation Procedure). SOP ini mencakup semua proses tahapan produksi yang rincian cara pengerjaannya dibuat WI (Working Instruction) nya. Dengan WI ini akan menerangkan tahapan atau langkah kerja secara detail yang harus diikuti perkerja dalam melakukan suatu pekerjaan, dimana didalamnya termasuk siapa dan berapa lama waktu yang dialokasikan untuk setiap tahapan. Hal-hal yang sering digunakan dan bisa diukur menjadi standard dalam proses produksi antara lain adalah :

•    Titik raster : representasi berapa besar/persen titik rater (dalam %) –  alat ukur, Densitometer

•    Dot gain : memberi informasi pembesaran titik raster (dalam %) – alat ukur, Densitometer

•    Density Tinta : representasi ketebalan tinta tiap warna pada kertas (D)- alat ukur, Densitometer

•    Ketebalan kertas : pada proses cetak, yang diperlukan informasi ketebalan bukan gs/m – alat ukurnya, Caliper / thickness gauge

C.   Peralatan atau Mesin & Alat Ukur

Salah satu syarat untuk mengimplementasikan Standarisasi Proses Produksi adalah kondisi mesin & alat ukurnya harus normal dan standard. Mesin standart yang dimaksud adalah kondisi mesin yang mengacu pada kondisi mesin sewaktu masih baru sesuai petunjuk yang dianjurkan oleh pembuat mesin tersebut berikut dengan toleransinya. Misalkan: diameter dan kekenyalan rol-rol, bearing- bearing,  penyetelan tekanan antara rol-rol baik rol tinta maupun rol pembasah (dampening roll) dan kondisi-kondis lainnya. Untuk mendapatkan hasil cetak yang baik, stabil dan konsiten adalah hasil kolaborasi antara proses pada pra-cetak (Pre press) dan cetak (press), bahkan apabila plate yang merupakan hasil pada pra-cetak tidak standard dan tidak baik, maka tidak akan bisa menghasilkan cetakan yang baik pada proses cetaknya. Karena mesin cetak fungsi utamanya adalah hanya menduplikat dan memperbanyak apa yang ada di plate tersebut.

Dalam hal perawatan mesin, memang akan menjadi polemik dan perdebatan bagaimana bisa mesin yang telah dipakai produksi sekian lama harus seperti baru ?. Hal ini harus jadi perhatian perusahaan bagaimana merawat mesin agar terjaga tetap seperti kondisi baru. Yang antara lain, selalu menggunakan spare part orisinal dan ditangani oleh tenaga mekanik dan elektrik yang terlatih atau

bersertifikat. Dengan cara seperti itu mesin akan selalu dalam kondisi seperti baru. Sepertinya sudah menjadi kelaziman bahkan pembenaran bahwa bagian Maintenance lah yang bertanggung-jawab atas kondisi mesin, padahal apabila dipikir atau direnungkan bahwasannya menjaga mesin agar selalu dalam kondisi standard adalah tugas atau kewajiban pemakai mesin tersebut, bagian Maintenance hanya membantu memperbaiki apabila terjadi mesin tidak normal atau rusak. Jadi, tegasnya adalah si pemakai mesin yang harus menjaga dan mengetahuinya. Seperti halnya pada kendaraan (mobil/motor), apabila pengendara merasakan sesuatu yang tidak normal, baru kemudian pengendaraannya membawa ke bengkel untuk dilakukan pengecekan atau perbaikan. Dalam hal ini, operator mesin cetak harus mempunyai kemampuan tidak hanya mengoperasikan mesin dengan baik, tetapi juga kemampuan menganalisa kondisi mesin yang tidak berfungsi dengan normal atau standard.

•    Standarisasi Pra-cetak (Pre-Press)

Continuous tone      

 Half tone

Dalam suatu percetakan untuk menghasilkan suatu produk yang baik dan stabil hasil warnanya, dua bagia yang harus dijaga kondisi mesinnya yaitu pada departemen Pra-cetak dan Cetaknya. Sebaik- baiknya mesin cetak, akan tergantung pada kualitas plate yang akan dicetak. Oleh sebab itu sebelum menstandartkan mesin cetak, sebaiknya melakukan standard mesin di bagian Pra-cetak, yaitu unit CtP dan processornya.

o  Computer to Plate (CtP) unit

Yang perlu dilakukan kalibrasi dan dijaga kondisinya pada unit CtP adalah:

Exposure Energy (power laser) Focus terhadap media/plate

o  Processor unit

Yang harus distandarkan dan dijaga kondisinya pada unit processor plate adalah:

Temperature Developer (240-260 C) Speed Developer (+/- 35 Cm/mnt) Replenish (+/- 85 Cc/M2)

Kondisi processor ini sering berubah yang akan mengakibatkan kualitas hasil plate berubah- rubah pula. Bahkan kondisi processor ini lebih penting dijaga dari pada unit CtP (lebih stabil).

Step wedge untuk mengontrol plate hasil CtP

•    Standarisasi Mesin Cetak (Press)

Secara struktur atau konfigurasi, mesin cetak (offset) terdiri dari  lima bagian/unit, yaitu:

o Unit    Feeder;    meliputi    bagian    penumpukan    dan    pengumpan    kertas    termasuk pengaturan/penyetelan angin hisap/tiup

o Unit Delivery; meliputi proses transfer kertas dari silinder impression hingga tumpukan kertas di bagian pengeluaran, termasuk pengaturan angin hisap/tiup beserta grippernya.

o Unit  Silinder;  yang  terdiri  dari  silinder  plate,  silinder  blanket  dan  silinder  tekan (impression cylinder). Yang harus diperhatikan dan diketahui adalah “undercut” pada silinder plate dan silinder blanket. Dan berapa hitungannya untuk “underlay”nya, sehingga akan diketahui ketebalan packing papernya. Kondisi ini yang akan menentukan “dot gain” dari pada titik raster. Cek dan pastikan kerja semua gripper baik, apakah itu gripper transfer dari feeder,   gripper silinder impression maupun gripper delivery sehingga akan menghasilkan cetakan yangpresisi anatara warna, karena bila tidak akan berakibat warna cetakan berubah-rubah.

Skema unit transfer (silinder) 

Skema diagram unit silinder

o Unit Penintaan; meliputi kondisi roll, baik itu diameternya maupun kekenyalan karetnya serta kondisi permukaaan roll pula. Dan yang tidak kalah penting kondisi “pisau” pada bak tinta, bagian ini harus bersih dari tinta kering atau kotoran lainnya supaya sesuai dengan kerja elektroniknya pada ink remote di meja pengoperasian.

o Unit Pembasah; Seperti pada unit penintaan, diameter kekenyalan dan kondisi permukaan roll adalah yang terpenting. Dan perhatikan fungsi sirkulasi air dan reservoir serta kerja otomatis pencampuran antara fountain solution dan IPA nya bekerja dengan baik.

Oleh sebab itu, agar supaya bisa menghasilkan cetakan baik, konsisten dan stabil,  perlu dijaga kondisi dan perawatannya unit-unit atau bagian-bagian tersebut, sehingga mesin cetak dapat bekerja dengan standard pula. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian, diantaranya :

o Kondisi rol-rol tinta dan rol air, baik itu diameternya, kerataan permukaannya maupun

kekenyalan karetnya serta tekanan terhadap silinder plate.

Mengukur diameter roll  

Mengukur kekenyalan roll

o Kondisi rubber blanket dan packing papernya. Biasakan menggunakan packing paper yang asli/original. Dan hitungan packing paper adalah ketebalannya, bukan gramatur kertasnya.

o Tekanan antara silinder plate terhadap silinder blanket (hitungan pada undercut/packing paper) dan silinder blanket terhadap silinder tekan (impression cylinder)

o Kondisi Fountain ink roll, terutama mekanik ink zone terhadap “nilai” digitalnya.

Pisau bak tinta (tampak samping)

Roll bak tinta (fountain roll)

Untuk melakukan standarisasi mesin cetak diperlukan alat (tools) untuk mendapatkan ukuran atau nilai standard yang dimaksud, adapun alat-alat tersebut adalah :

  Densitometer; berfungsi untuk mengukur density tinta dan dot gain

  Conductivity  meter;  untuk  mengukur  konduktivitas  (kandungan)  listrik  dalam  cairan pembasah

  pH  meter;  alat  ini  bisa  berupa  kertas  keasaman  (lakmus)  atau  alat  ukur  yang  akan menunjukkan nilai pH. Untuk mengukur nilai keasaman cairan pembasah.

  Thicknes micro Caliper; digunakan untuk mengukur ketebalan kertas dan rubber blanket.

  Jangka sorong (caliper); untuk mengukur diameter roll atau benda lainnya.

  Kunci torsi; digunakan untuk mengencangkan “tegangan” rubber blanket.

  Shore meter; untuk mengukur kekerasan permukaan (kekenyalan) roll karet dan rubber blanket.

  Hygrometer; untuk mengetahui kelembaban pada suatu ruangan yang biasanya berguna

yang berhubungan dengan kondisi (kelembaban) kertas.

Densitometer/spectophotometer   

 conductivity meter                  

hygrometer

Kertas lakmus & pH meter 

Micro caliper

Kunci torsi     

shore meter   

caliper

 D.  Bahan Baku dan Bahan Consumables

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan bahan baku adalah bahan yang akan dicetak. Bisa berupa kertas ataupun karton dengan bermacam jenis dan typenya, bahkan bisa mungkin juga plastic. Adapun yang perlu menjadi perhatian bahan baku (kertas) disamping mempunyai “property” sesuai standard adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses cetaknya, antara lain :

o Gramaturnya  VS.  Thickness;  Seringkali  gramatur  suatu  kertas  diambil  mudahnya  equal dengan ketebalannya (?). Padahal hal ini sangat berbeda karena setiap jenis kertas mempunyai berat berbeda, tergantung dengan jenis kertas tersebut. Sedangkan gramatur secara difinisi adalah berat suatu kertas dalam ukuran 1M2.

o Rougness (kekasaran)  VS. LPI (Line Per Inch); Seperti diketahui bahwa detail suatu gambar cetakan akan baik apabila pemilihan nilai LPI makin tinggi sehingga rasternya makin halus, dan hal ini secara teori matematisnya, benar. Tetapi, hal ini juga harus mempertimbangkan rougness permukaan kertas yang akan dicetak, sejauh mana kerataan kertas  akan mampu untuk “menerima” raster yang halus tersebut.

o Arah serat kertas; Seperti kita ketahui bahwa kertas mempunyai serat (grain direction), dan hubungan dengan waktu mencetak sebaiknya sejajar dengan sumbu silinder (untuk mesin cetak lembaran). Untuk kertas tipis (missal 80gsm kebawah) dan percetakan non packaging, arah serat kertas kurang menjadi masalah pada proses cetak, tetapi tidak demikian apabila mencetak kertas tebal/karton (missal 150gsm keatas) dengan gambar yang menunutut presisi tinggi, arah serat kertas menjadi hal yang harus diperhatikan, untuk menghasilkan cetakan yang baik.

Arah serat dan cara-cara menentukan arah serat

Pengaruh kelembaban pada kertas terhadap dimensi kertas

o Kelembaban Relatif (RH) dan suhu udara; Sebaiknya kondisikan kertas pada ruangan dengan kelembaban relative (RH) sekitar 45%-55%. Pengaruh RH ini akan variasi pada hasil cetakan, mulia dari transfer kertas dimesin akan terganggu, ketepatan antar warna berubah-rubah, kertas mengembang hingga pengeringan tinta terganggu. RH pada suatu ruang produksi sebaiknya dijaga antara ruang penyimpanan dan ruang cetak, biasanya salah satu cara dengan membuka kertas dan diamkan diraung cetak setelah dikeluarkan dari gudang kertas.

o Seperti kita ketahui bahwa proses pembuatan kertas dimulai dari pulp atau bubur kertas yang dalam hal ini adalah berbentuk benda cair (basah) yang kemudian diproses menjadi kertas yang kering. Oleh sebab itu sifat kertas itu sendiri akan mudah menyerap air, sehingga mudah  berubah  kelembabannya.  Jadi  untuk menghasilkan cetakan yang baik dan stabil, kondisi dan memperlakukan kertas ini harus mengikuti standard sehingga kesulitan dan hambatan pada proses cetak yang disebabkan oleh kertas akan minim.

Consumables pada proses cetak offset, sebetulnya bahan “utama” juga yang digunakan pada proses cetak. Setiap produk consumables mempunyai spesifikasi berbeda-beda, sehingga pemilihan produk consumables dan melakukan penggantian consumables disarankan untuk dilakukan pengukuran dan pengetesan apakah sudah sesuai dengan yang telah distandarkan. Seperti kita ketahui bahwa

setiap produk consumables mempunyai “property” fungsi dan kwalifikasinya.   Dalam hal ini misalkan plate cetak, fountain solution, tinta, rubber blanket, bahan pencuci rol & rubber blanket, IPA (isopropyl alcohol), packing paper, preserver gum dan bahan consumables pendukung lainnya. Bahkan beberapa produk consumables telah bersitifikat ISO, yang artinya telah memenuhi “property” sesuai dengan yang disyaratkan dalam proses produksi. Dan untuk menentukan produk consumables sebaiknya seorang pembelian melibatkan bagian produksi karena merekalah yang akan menggunakannya. Oleh sebab itu bagian produksi harus melakukan test/trial untuk setiap produk baru, dan bagian pembelian akan mengevaluasi dan membandingkan antara harga, kualitas dan efesiensi. Untuk mencetak dengan standarisasi, sebaiknya bahan consumables memenuhi beberapa “property”, antara lain sebagai berikut :

-    Tinta ; Bila mengacu kepada teori, tinta mempunyai banyak “property” yang harus dipenuhi

untuk menghasilkan cetakn yang baik. Namun dalam prakteknya, pemakai tinta (operator

cetak) biasanya hanya mensyaratkan beberapa kriteria saja, antara lain adalah warna (dey), kekentalan (viscocity), daya lengket (tackiness), sifaf pengeringan, ketahanan gosok dan

sifat-sifat lainnya.

- Fountain solution ; Seringkali Cairan pembasah (Fountain Solution) ini kurang mendapat perhatian, terutama percetakan yang berskala sedang-kecil, tetapi tidak demikian untuk percetakan  skala  besar dan terutama percetakan packaging. Dalam kenyataannya,  pada proses cetak offset di lapangan untuk mendapatkan hasil yang baik dan stabil adalah bagaimana bisa “mengendalikan” air pembasah. Mulai dari penentuan sumber airnya, cara dan perbadingan pencampurannya hingga “kualitas” cairan pembasah itu sendiri. Mengacu ke beberapa artikel dan para pakar cetak offset bahwa untuk mencetak offset menjadi baik pabila bisa “mengendalikan” pembasahan.

Ilustrasi kaitan sudut pembasah dg tegangan permukaan

- Isopropil  Alkohol  (IPA);  Bagaimana  untuk  mengetahui  IPA  ini  baik  dan  sesuai  dengan kebutuhan cetak. Langkah yang benar sebaiknya dilakukan test pada proses produksi. Karena seperti diketahui bahwa dikenal begitu banyak jenis alcohol, tetapi tidak semua sesuai dengan yang dibutuhkan pada proses cetak offset. Fungsi utama IPA adalah untuk membantu “penyebaran” air pembasah pada plate disamping mempercepat menguapnya lapisan air di plate.

-    Packing paper ; Seringkali menggunakan packing paper berdasarkan gramatur dari kertas

yang akan digunakan, sedangkan yang dihitung adalah ketebalannya. Untuk mengetahui

berapa tebal yang diperlukan adalah dimulai dari kebutuhan “mengisi” under-cut dari silinder blanket, dikurangi tebal rubber blanket dan kemudian akan diketahui ketebalan packing papernya. (Seperti yang telah disinggung diatas).

Contoh hitungan underlay

Mengecek ketinggian blanket thdp bearer silinder

Pada akhirnya sebagai......

Selengkapnya terdapat majalah cetak & on line INDONESIA PRINT MEDIA edisi 95 Juli-Agustus 2020

CV. Print Media Indonesia

Addres Publishing :

Perum Bukit Waringin Blok E 5 No 18 Kedung Waringin Bojonggede Bogor,

Addres Marketing :

Jl. Kembang Raya No 19A Jakarta, 10420. Indonesia

Name Contac : Mr. Usman

Phone : +6221 3150929,

Mobile : +6281288811831

WhatsApp : +62811808282

Channel Online Printmedia

NgobrAs (Ngobrol Asik)

: +62 857145944963 (Wiwin)

Email:                                

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it