Visitor

 
Home
14
Dec
2020
ADA APA DENGAN WATERLESS PLATE ?

PENDAHULUAN

Prinsip dasar teknik cetak ofset berasal dari prinsipnya cetak batu (lithography). Pada prinsip lithography ini, bidang yang mencetak dan bidang tidak mencetak pada pelat cetak  sama tingginya artinya antara bidang gambar (image) dan bidang tidak bergambar (non-image area) terletak pada satu bidang datar. Pada teknik  lithography ini terdapat pula prinsip sifat tolak menolak antara lemak (tinta cetak terdapat sifat seperti lemak) dengan air memungkinkan penghantaran lapisan tinta pada bidang gambar. Tinta cetak adalah benda lunak yang dapat melekat, dapat dialihkan dan melekat pada setiap permukaan kering. Benda ini akan lekat baik sekali pada beberapa jenis permukaan dan agak berkurang pada permukaan yang lain. 

Pada lithography permukaan batu yang sekarang digantikan fungsinya oleh pelat ofset selalu terdiri atas dua komponen yang berlainan sifatnya, yaitu:

    (a). Bahan hydrophylic yang menolak tinta untuk bagian yang tidak mencetak;

    (b). Bahan/lapisan oleophylic yang menolak air dan menerima tinta untuk bagian/

          bidang gambar yang mencetak.

Pada semua jenis pelat yang sekarang dipakai, bahan dasarnya bersifat “hydropylic”,  gambar yang menerima tinta terlebih dahulu diproses secara fotografi dan dilanjutkan dengan proses kimia untuk melarutkan bagian yang tidak diperlukan.

Pada permukaan aluminium yang halus dan licin, lapisan air maupun lapisan ...

peka cahaya/coating/emulsi tidak dapat menempel atau melekat dengan baik, oleh karena itu pada permukaan pelat alumunium harus dikasarkan terlebih dahulu, baik secara “mekanik”  dan/atau  “elektrolisasi”, sehingga terbentuk pori-pori dipermukaan pelat..

Bahan baku pelat pertama yang dipakai dalam cetak ofset dibuat dari “seng dicampur dengan timah hitam”. 

                Gambar 1 :  Penampang permukaan logam (untuk pelat) yang belum  dikasarkan

                                (masih rata)  dan yang sudah dikasarkan

Seng adalah logam berwarna abu-abu sampai putih kebiru-biruan dengan susunan molekul dan kristal yang kasar.

Dengan molekul yang kasar ini, maka pori-pori permukaan pelat yang dihasilkan juga kasar, sehingga dengan kasarnya pori-pori permukaan, pelat ini tidak akan mampu menampung detail titik raster yang halus.

Pada akhirnya logam seng ditinggalkan,karena banyak hal yang akan menghambat produksi maupun tidak mungkin mencapai mutu yang maksimal, diantaranya :

•             Plat seng mudah teroksidasi, sehingga menambah masalah dalam proses produksi;

•             Plat seng dapat mengembang, sehingga ketepatan cetak sulit diperoleh;

•             Proses pembuatan plat seng memerlukan waktu yang lama, sehingga banyak waktu yang terbuang (waktu diperlukan untuk mengkasarkan permukaan sampai proses penyinaran dan pengembangan sampai mencapai 3 s/d 4 jam);

•             Pori-pori kasar, sehingga tidak mampu mencetak dengan detail yang halus;

•             Selama proses produksi diperlukan air yang lebih banyak, sehingga akan menurun kan kualitas hasil cetakan, bahkan memungkinkan terjadi set-off (penularan lapisan tinta).

Kelebihan pelat seng yang dapat dipergunakan berulang-ulang dengan model gambar yang berlainan, harganya murah masih belum mampu mempertahankan keberadaan nya ditengah tuntutan konsumen yang cenderung cepat dan mutu yang meningkat.

PELAT CETAK TANPA AIR (Waterless Plate)

Pengertian “Waterless Plate” dikalangan inidustri percetakan adalah suatu jenis pelat cetak yang dalam pemakaian pada proses produksi cetak tidak menggunakan/ memerlukan cairan/air pembasah. Ada  suatu lapisan dipermukaan pelat waterless ini berfungsi menggantikan fungsinya air pembasah pada teknik cetak ofset basah.

Dengan tidak menggunakan air pembasah ini banyak kalangan yang memberikan istilah sebagai “teknik cetak ofset kering” atau “dry offset”.

Persamaan dengan teknik cetak ofset basah yang ada dan paling banyak dikalangan industri percetakan, adalah pengalihan tintanya tidak langsung, artinya lapisan tinta dari pelat ke kertas melalui media perantara (silinder blanket). Perbedaannya, pada teknik cetk ofset basah menggunakan air pembasah untuk memisahkan bagian bergambar (image area)  dengan bagian tidak bergambar (non-image area). Sedangkan pada jenis pelat “waterless plate”  pada permukaannya dilapisi dengan karet “silikon” , dimana didalam proses pembuatan pelat, setelah proses penyinaran dan pengembangan, maka akan terbentuk gambar dan non-gambar (disini lapisan karet silikon menjadi bagian non-image) yang akan menolak tinta pada saat pencetakan.

Teknik cetak ofset basah (wet offset) menggunakan suatu jenis pelat dalam pencetakannya menggunakan air/cairan yang berfungsi menolak tinta pada bidang tidak mencetak (non-image area).

                                Gambar 2 : Penampang susunan lapisan Waterless Plate

Dalam perjalanan cetak ofset basah ini banyak dilakukan perubahan dan penyempurnaan sebagai usaha untuk menanggulangi masalah produksi yang diakibatkan oleh penggunaan air pembasah. Perubahan dan penyempurnaan itu dengan cara menyempurnakan system pembasah, dan penggunaan bahan pencampur air yang dapat memperkecil penggunaan air pembasah.  

Usaha lain yang dilakukan para ahli dengan mengembangkan pelat cetak offset, adalah dengan menambahkan lapisan “karet silicon” (silicon rubber layer) pada lembaran pelat, yang fungsinya menggantikan fungsinya air sebagai penolak tinta pada non-image area. Dengan penambahan lapisan karet silicon ini, maka jenis pelat yang disebut dengan “waterless plate” ini dalam pencetakannya tidak menggunakan air pembasah. Kelihatannya mencetak tanpa air ini banyak mendatangkan keuntungan, karena tanpa air tidak akan terjadi masalah produksi yang diakibatkan oleh air pembasah. Tetapi mengapa para industriawan grafika kita masih belum familier dengan jenis pelat ini, padahal di negara maju penemu pelat ini sudah lebih dari dua puluh tahun dipergunakan.

Masalah yang muncul dalam penggunaan jenis pelat ini adalah timbulnya panas yang diakibatkan oleh gesekan rol-rol dalam sistem penintaan, silinder pelat, silinder kain karet dan silinder tekan yang dapat mempengaruhi fungsi karet silicon tersebut.

Untuk menanggulangi panas  dalam proses produksi itu dapat diatasi dengan menggunakan system pendingin (cooling system) dengan menggunakan udara atau air dingin yang disalurkan ke permukaan pelat atau disalurkan melalui rol-rol distribusi tinta.

Masalah yang ada didalam industri grafika, system pendingin tersebut tidak tersedia dan tidak menjadi paket apabila membeli mesin cetak dari pabrik. Kalau menginginkan peralatan system pendingin ini sebagai alat tambahan, masalah teknis yang mengganggu selama proses produksi juga cukup banyak. Oleh karena itu jenis pelat waterless plate ini kurang diminati oleh para pengusaha, walaupun secara teknis jenis pelat waterless plate ini dapat pula mendatangkan keuntungan.

                                Gambar 3 :  Penampang sistem pendingin

Penampang diatas memperlihatkan peralatan system pendingin yang dipasang pada mesin cetak. Dengan menyalurkan secara sirkulasi air dari tangki cadangan melalui pipa-pipa ke rol-rol distribusi akan dapat memberikan pengaruh kepada suhu rol-rol form, sehingga suhu dapat diturunkan, dengan tujuan agar lapisan karet silicon dapat berfungsi menolak tinta, sekaligus ukuran (non-image) tidak berubah.

                                Gambar 4 :  Penampang sistem pendingin

Model yang lain dari perangkat system pendingin menggunakan udara yang dihembuskan dari ruang khusus melalui selang/pipa ke permukaan pelat, dengan tujuan udara dingin dapat menstabilkan posisi dan kondisi karet silicon pada permukaan pelat, sehingga proses pengalihan tinta dari rol-rol form ke silinder pelat baik, demikian pula dari silinder pelat ke kertas juga baik.

Kedua jenis perangkat system pendingin ini adalah peralatan tambahan, artinya tidak merupakan paket khusus pada konstruksi mesin cetak, karena itu pemilihan penggunaan perangkat system pendingin sangat tergantung dari kondisi dan konstruksi mesin cetak yang ada, dan tentunya berdasarkan keperluannya.

 

PEMBUATAN/PENGALIHAN GAMBAR PADA PELAT CETAK

Proses dan urutannya sama dengan dengan prosess pembuatan/pengalihan gambar pada pelat conventional, yaitu diawali dengan pemilihan system kerjanya, apakah mau bekerja secara negative atau secara positive.

Pada proses pembuatan/pengalihan gambar pada pelat conventional, perlu difahami beberapa kemungkinan yang terjadi selama proses, yaitu:

                * Film negatif dipergunakan pada pembuatan pelat cara kerja negatif;

                * Film positif dipergunakan pada pembuatan pelat cara kerja positif;

* Bila membuat pelat negatif, cahaya mengeraskan bagian yang tersinari pada pelat dan membuatnya  tidak larut,  sehingga  setelah pengembangan akan menjadi IMAGE  yang bersifat menarik tinta.

* Bila membuat pelat positif, selama penyinaran, cahaya  akan menguraikan bidang pelat yang tersinari dan akan larut setelah proses pengembangan, sehingga akan menjadi NON-IMAGE yang bersifat menarik air.

Setelah penyinaran, pelat lalu dikembangkan, tergantung pada proses pengkopiannya, menggunakan air  dengan larutan kaustik lemah.  Pelat dapat dikembangkan dengan tangan atau dengan mesin pengembang atau dalam baki pengembang, bahkan sekarang sudah sangat canggih seperti yang terjadi pada sistem CtP (Computer to Plate).  Pada pelat negatif, bidang lapisan yang tertutup oleh bidang gambar dari film larut dan hilang oleh cairan pengembang.  Pada pelat positif, bidang tidak mencetak yang karena cahaya menjadi larut. Setelah pengembangan pelat selesai, permukaan pelat memperlihatkan bidang mencetak dan bidang tidak mencetak.  Pada bidang yang tidak mencetak, alumunium yang hidrophylic tampak, sedangkan bagian gambar tertutup dengan lapisan yang semula peka cahaya.  Lapisan itu sekaligus merupakan lapisan cetak/bidang gambar. 

Dengan kondisi demikian, maka pada proses produksi sering muncul masalah pada kekuatan oplah dari jenis pelat yang presensitized, karena kekuatan image/gambar pada pelat itu sangat tergantung dari kesempurnaan pelapisan lapisan peka cahaya (coating) oleh pabrik pembuatnya.

Setelah pengembangan dengan cairan pengembang/developer, pelat digarap dengan cairan pemantap atau larutan asam fosfor guna mengintesifkan sifat hidrophylic bidang tidak mencetak.  Akhirnya pelat dilapisi gom arabika sebagai bahan untuk melindungi dan membantu sifat hidrophylic dari pelat dan mencegah terjadinya oksidasi pada bidang tidak mencetak.

Dipasaran tersedia berbagai jenis pelat sesuai dengan keperluan, baik ukuran sesuai mesin cetak maupun kekuatan dan kemampuan cetaknya. Jenis pelat yang murah untuk pekerjaan oplah kecil, maupun yang mahal dan awet untuk pencetakan dengan oplah yang besar bahkan dengan mutu yang baik.  

Pelat yang paling banyak dipergunakan pada produksi cetak mencetak, semuanya terdiri atas satu logam sebagai bahan dasar (pelat logam tunggal = pelat satu lapisan).  Pada pelat itu bidang mencetak dan tidak mencetak ditimbulkan dengan perantaraan proses penggarapan secara fotografi dan proses kimiawi.

KELEBIHAN WATERLESS PLATE :

Berikut beberapa kelebihan secara teknis waterless plate dibanding dengan  conventional plate.

A. KUALITAS  PRODUKSI CETAK TINGGI :

•             tidak ada emulsifikasi antara air dan tinta

•             pengembangan titik kecil/minimal

•             detail titik raster baik

•             densitas  lebih tinggi

•             kontras warna lebih tinggi

Kedua grafik diatas memberikan satu informasi tentang terjadinya dot-gain yang berbeda antara pelat yang conventional dengan waterless plate apabila bekerja secara positif dan negatif. Cara kerja positif, dot-gain yang paling besar terdapat pada nada tengah, yaitu: pelat convencional 16% dan waterless hanya 11%, sedangkan yang bekerja cara negatif, pelat convencional mencapai 20% dan pada waterless plate hanya 16%.

Hal ini menunjukkan bahwa waterless plate dapat menghasilkan cetakan lebih baik, karena penyimpangan terhadap model lebih kecil/sedikit.

Kemudian pada penampakan titik raster, dari nilai nada pada film positif, nada raster pada waterless plate  dan nada raster pada pelat conventional terdapat perbedaan.

Raster yang semula bentuknya bulat pada film positif, tetapi pada waterless plate  di pinggiran titik menjadi tidak rata (grepesan), dan lebih tidak rata lagi (lebih grepesan) pada pelat conventional.

Keterangan :

1. Raster pada film :

   * Highlight 9% terlihat titik hitam kecil bulat;

   * Middle tone 50%, terlihat titik hitam besar dan bulat;

   * Shadow 90%, terlihat titik putih kecil dan bulat.

2. Raster pada Waterless Plate :

   * Highlight 9% terlihat titik hitam kecil kurang bulat (grepesan);

   * Middle tone 50%, terlihat titik hitam besar kurang bulat (grepesan);

   * Shadow 90%, terlihat titik putih kecil kurang bulat (grepesan).

3. Raster pada Conventional Plate :

   * Highlight 9% terlihat titik hitam kecli lebih kurang bulat (grepesan);

   * Middle tone 50%, terlihat titik hitam besar lebih kurang bulat (grepesan);

   * Shadow 90%, terlihat titik putih kecil lebih kurang bulat (grepesan).

B. BERSIH DAN AMAN

•             tidak ada pengaruh alcohol dan bahan kimia  pada pencetakan

Penggunaan waterless plate dalam pencetakan dengan tidak menggunakan air pembasah, maka beberapa bahan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan lingkungan dapat dihindari, sehingga suasana seperti gambar diatas memper-lihatkan kebersihan lingkungan terjamin, dan keamanan bagi para teknisi dapat dijamin.

C. CEPAT DAN BERSIH :

•             tidak terjadi scumming

•             pencucian rol lebih cepat

•             kertas sobek minimal

•             ketepatan cetak lebih baik

•             waktu persiapan cetak (make ready) lebih singkat

•             kesiapan cetak lebih cepat setelah berhenti

•             Tidak memerlukan keseimbangan air dan tinta

•             Kualitas lebih stabil

 D. PRODUKSI MENINGKAT DENGAN BIAYA RENDAH :

•             tidak ada hubungannya dengan pembasahan

•             tidak ada perawatan pada unit pembasah

•             tidak memerlukan alkohol

•             kerusakan kertas minimal

•             biaya produksi dapat ditekan

Dengan menggunakan waterless plate beberapa hal dapat ditekan, yaitu :

•             Waktu persiapan  produksi;

•             Waktu persiapan cetak (make ready time);

•             Waktu produksi lebih rendah, tetapi produktivitas tinggi;

•             Waktu penyetelan komponen mesin cetak;

Pada grafik diatas memperlihatkan perbedaan waktu pencapaian antara waterless plate dengan yang convensional.

PENYEBAB BERKURANGNYA KEMAMPUAN CETAK :

Secara umum penyebab berkurangnya kemampuan cetak lembar pelat ini dapat dikelompokan kedalam berbagai  penyebab :

(1) Penyebab dari bagian pre-press/persiapan produksi, saat   dalam mempersiapkan film dan pelat, meliputi :

   ►Kepekatan dan kehitaman film, untuk memperoleh film yang pekat  dan bening, diperlukan dan tergantung dari :

•             Kehitaman model ;

•             Tingkat kepekaan cahaya dari film ;

•             Kekuatan cahaya dari sumber cahaya ;

•             Jarak antara model dan film ;

•             Waktu penyinaran ;

•             Waktu pengembangan ;

•             Kekuatan goyangan / agitasi pengembangan ;

•             Suhu cairan pengembang dan kesegarannya ;

Pembuatan pelat cetak, berbagai jenis pelat menuntut cara-cara khusus dalam proses pembuatannya, namun yang berpengaruh dalam pembuatan pelat cetak dan terhadap kekuatan cetak,  meliputi:

(1) Kepekatan film ;

•             Waktu penyinaran pelat ;

•             Waktu pengembangan pelat ;

•             Sistem pengembangan (manual atau prosesor) ;

•             Kekuatan gosok ;

•             Kesegaran cairan pengembang .

(2)  Penyebab dari bagian produksi cetak, meliputi :

     ►  Tekanan :

•             Tekanan rol-rol form ke rol distribusi ;

•             Tekanan rol-rol form ke silinder pelat ;

•             Tekanan cetak antara Silinder pelat ke silinder kain karet.

     ►  Keasaman :

•             Keasaman air pembasah ;

•             Keasaman kertas.

     ►  Sifat korosif dari tinta cetak

Penyimpanan Pelat Cetak 

Pencetakan order yang besar dan berulang-ulang, penyimpanan pelat merupakan salah satu unsur dalam meningkatkan keuntungan perusahaan percetakan. Penyimpanan pelat yang baik, akan dapat menekan biaya pembuatan pelat  dan waktu produksi meningkat. Yang perlu diperhatikan dalam menyimpan pelat yang akan dicetak ulang, harus dilakukan penyimpanan dan perawatan secara seksama, a.l.

•             Pelat harus bersih dari sisa kotoran (tinta kering, debu kertas, dll)

•             Pelat harus dilapisi tinta pelindung (asphaltum) untuk melindungi image dari pengaruh cahaya langsung ;

•             Pelat harus dilapisi gom tipis dan rata pada bagian non-image untuk melindungi gejala oksidasi ;

•             Disimpan pada ruangan dengan suhu yang ideal ;

•             Penyimpanan pada ruangan yang tidak terlalu lembab dan jauh dari sumber air.

Dapat disimpulkan bahwa waterless plate di negara kita kurang berkembang dengan baik, walaupun diatas diuraikan tentang beberapa kelebihan waterless plate dibanding dengan conventional plate, tetapi di industri percetakan masih jarang dipergunakan, padahal di negara-negara Eropa, Amerika, Kanada, dll sudah sekian dasa warsa menggunakan.

Hal-hal yang menyebabkan waterless plate kurang berkembang baik, karena :

1.            Pada mesin cetak harus ditambahkan peralatan tambahan yaitu: peralatan sistem pendingin (cooling system) sebagai suatu syarat untuk mendinginkan permukaan pelat atau bidang tidak bergambar dengan lapisan karet silikon.

2.            Masalah yang muncul dengan timbulnya panas ini akan sangat menggangu proses produksi, karena dengan panas yang muncul akan mempengaruhi sifat karet silikon (bisa membesar/mengembang dan juga bisa aus), sehingga hasil cetakan kurang sempurna;

3.            Tidak semua tinta cetak cocok untuk waterless plate.

Demikian sekilas tentang waterless plate semoga bermanfaat.

Sumber dipetik dari :

1.            Print Production Handbook

2.            Total Quality Control

3.            Handbook of Print Media

4.            Ozasol Teaching Programme

H.Soebardianto

Pengajar pada Sekolah Tinggi Media Komunikasi Trisakti

Pengajar pada Politeknik Negeri Media Kreatif.

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak dan digital INDONESIA PRINT MEDIA edisi 97 Nov-Des 2020.

Info WA : 0811808282