Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini236
mod_vvisit_counterKemarin1180
mod_vvisit_counterMinggu ini2540
mod_vvisit_counterMinggu lalu8444
mod_vvisit_counterBulan ini12903
mod_vvisit_counterBulan lalu39361
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1348280
Kami Memiliki: 31 guests online

Home Fokus Berita Standarisasi Proses Produksi Cetak “ SUATU KEHARUSAN”
07
Dec
2016
Standarisasi Proses Produksi Cetak “ SUATU KEHARUSAN” PDF Print E-mail
Written by Administrator   

Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dan seminar, topik ini menjadi semakin hangat bahkan melibatkan berbagai pihak yang terkena dan merasa dampak akibat dari kegiatan “standardisasi proses produksi cetak” ini, mengingat standardisasi bidang grafika menyangkut kalangan dan kelompok pengusaha yang sangat beragam.

Standardisasi didalam proses produksi secara umum amat penting dan perlu dilakukan bahkan kaidah-kaidah yang menjadi unsur penting didalam standardisasi ini segera dibakukan agar dapat memperlancar proses produksinya, lagipula dengan distandardkannya komponen, unsur-unsur, faktor- faktor produksi ini maka akan  menghasilkan produk yang mutunya standard pula.

Dalam dunia cetak mencetak yang berdemensi sangat tinggi ini, ada dua aspek yang sangat penting saat memproduksi suatu barang cetakan, yaitu bahwa seseorang atau kelompok atau asosiasi yang berkecimpung di industri cetak mencetak, bagaikan ia berdiri tegak dengan satu kaki kiri berdiri di industri grafika/industri jasa yang melayani keinginan pemesan demi mencapai kepuasan pelanggan, sedangkan satu kaki kanan berdiri di industri pabrikan/manufacturing yang harus memproduksi massal sesuai dengan kriteria mutu, waktu dan jumlah pesanan.

Kondisi demikian menjadi akibat dari industri cetak mencetak yang masuk didalam kelompok perusahaan yang “JOB-ORDER”  artinya bahwa suatu perusahaan percetakan berproduksi berdasarkan pada pesanan, sehingga pemesan sangat berpengaruh didalam menentukan jalannya proses produksi, menentukan waktu produksi bahkan unsur kualitaspun ikut menentukan. Dengan intensnya pemesan terhadap barang cetakan pesanannya, maka usaha untuk melakukan standardisasi proses produksi cetak menjadi lebih rumit dan akan melibatkan kalangan yang lebih luas.

Apa dampak industri cetak mencetak yang memproduksi barang cetakan berdasarkan keinginan pemesan? Bahwa perusahaan itu dalam memproduksi berdasar kepada kriteria jenis pesanan, sehingga perusahaan harus menyesuaikan jenis teknologinya, jenis teknik produksinya, alat produksi, bahan produksi, proses produksi, jadwal produksi dan bahkan kualitas hasil produksinya. 

Dengan adanya kondisi demikian, maka tidak ada satu perusahaan percetakanpun yang mampu mencetak semua jenis barang cetakan, hal ini sebagai akibat dari banyaknya model, jenis, ukuran, jumlah, waktu produksi yang bermacam-macam dan berbeda sekaligus keinginan pemesan yang sangat beragam. Apabila perusahaan akan menerima semua jenis order dan pesanan dari masyarakat, maka perusahaan ini harus melengkapi semua alat produksi yang diperlukan untuk memproses jenis pesanan tersebut. Akibat dari tidak lengkapnya peralatan yang ada di suatu perusahaan percetakan, maka satu-satunya cara adalah membentuk kelompok, komunitas ataupun konsorsium yang saling kerjasama untuk menerima dan memproses barang cetakan tsb. Namun demikian, perlu adanya kesepakatan, perjanjian atau agrement antara produsen dengan konsumen, sehingga aspek-aspek dan alat-alat  produksi yang dimiliki produsen mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan kesepakatan antara produsen dan konsumen, baik dalam ketepatan waktu produksi, mutu produksi dan bahkan mungkin nilai atau harga dari order tersebut.

Dari gambaran tentang sifat produk barang cetakan, maka produk grafika ini tergolong dalam  “produk non-standard”, artinya produk yang dibuat atas dasar pesanan baik dalam hal : mutu, jumlah, bentuk, dan waktu penyerahan, dll, juga menjadi hambatan khusus dalam menentukan standard suatu produk grafika., sebagai akibat dari adanya perbedaan persepsi dari konsumen terhadap suatu barang cetakan.  ( Misalnya: di pabrik kertas diproduksi bermacam-macam jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan kepentingan konsumen/masyarakat, seperti kertas HVS diproduksi ada yang beratnya 60 gr, 70 gr, 80 gr, 100 gr setiap meter perseginya, kemudian ada bermacam-macam jenis karton, jenis kertas dengan berbagai ketebalan dan gramaturnya, disesuaikan dengan keinginan pelanggan atau pasar).

Dalam memproduksi produk yang non-standard itu, industri grafika memerlukan peralatan-peralatan tambahan, setiap pesanan yang berbeda memerlukan penanganan yang berbeda, dalam penggunaan peralatan, proses produksi, jenis bahan, bentuk, mutu, ketepatan waktu, dll. Sehingga standarisasi dibidang grafika menjumpai hambatan dalam  menetapkan : mutu bahan, kondisi peralatan, jenis proses produksi, jenis teknik produksi, waktu produksi, tingkatan mutu dan nilai/harga pada setiap jenis order/pesanan, dan mungkin pula keahlian dan ketrampilan SDMnya.

Hal ini terutama diakibatkan karena pengaruh dan adanya keinginan pemesan yang berbeda-beda dan tingkat kepuasan pelanggan sangat bervariasi, serta kondisi perusahaan secara umum tidak sama.

LANGKAH USAHA MENUJU STANDARDISASI PROSES PRODUKSI.

Pada kesempatan penerbitan kali ini judul ”standardisasi”  belum akan membahas tentang standardisasi seperti yang diatur didalam ISO yang menyangkut seluruh aspek produksi dan yang berkaitan dengan produksi, tetapi akan dibatasi pada usaha-usaha teknis produksi cetak(lebih khusus lagi tentang teknis produksi dibidang teknik cetak ofset lembaran/sheet fed offset), untuk membantu memberikan  masukan kepada pengusaha khusus perusahaan percetakan ofset yang akan merintis perusahaannya untuk melengkapi  dan  meningkatkan posisinya menjadi perusahaan yang memiliki standard  ISO.

Sebelum membahas aspek teknis produksi, dikemukakan tentang pengertian standard, aspek apa saja dalam pengertian standard dan apa pentingnya adanya standard.

Standard, adalah sesuatu yang didirikan/ditentukan/dibentuk oleh pihak otoritas/penguasa, adat atau persetujuan/kesepakatan umum yang kemudian dipergunakan sebagai model, contoh atau titik acuan, titik awal. Pendapat lain mengatakan bahwa standard adalah sesuatu yang dibentuk oleh  penguasa/otoritas  sebagai  aturan/ketentuan/batasan  untuk suatu ukuran:  kuantitas/jumlah, berat, luas, nilai, waktu atau bahkan kualitas/ mutu. Pertanyaan yang muncul dimasyarakat adalah “mengapa harus standard”.

Jawabannya adalah bahwa hasil produksinya:
 

Selengkapnya terdapat pada Print Media Edisi 73 November- Desember 2016

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!