Home Kertas PERANAN KUALITAS KERTAS DALAM MENCAPAI KUALITAS BARANG CETAKAN
03
May
2019
PERANAN KUALITAS KERTAS DALAM MENCAPAI KUALITAS BARANG CETAKAN

PERANAN KUALITAS KERTAS DALAM MENCAPAIKUALITAS BARANG CETAKAN

PENGANTAR

Hiruk  pikuk pesta demokrasi melalui kampanye pemilihan calon anggota legislatif yang diikuti oleh sekian banyakpartai politik dan pemilihan presiden dan wakil presiden, memberikan gambaran kepada kita seberapa banyak kertas yang dipergunakan untuk mensukseskan kampanye tersebut. Kedua event pesta demokrasi diatas tidak akan mungkin terlaksana tanpa adanya peran industri percetakan.Dengan diproduksinya sarana kampanye berbentuk tanda gambar partai, foto calon anggota legislatif, gambar calon presiden dan wakil presiden, spanduk, dan semua sarana komunikasi yang berbentuk barang cetakan.

Pada kesempatan terbitan majalah kali ini, penulis mencoba untuk sekedar memberikan informasi kepada para industriawan percetakan dan para pengguna barang cetakan (calon anggota legislatif, pejabat terkait dan masyarakat umum) tentang bahan baku cetakan yang sangat dominan dalam menentukan kualitas barang cetakan, yaitu kertas cetak. 

 

Bagi para pengguna barang cetakan (termasuk seluruh rakyat yang mengikuti PEMILU calon anggota legislatif dan calon presiden dan wakil presiden), bahkan para operator mesin cetak, tidak mau tahu dan tidak mempedulikan bagaimana kertas dibuat, dengan cara bagaimana, dari bahan baku apa, masalah apa yang muncul dalam pembuatannya.

Bagi para operator mesin cetak yang penting kertas yang dicetak menghasilkan cetakan yang bagus, lapisan tinta/warna tercetak rata, titik raster terungkap baik, tidak terjadi pembesaran gambar, kertas dapat masuk lancar  kedalam sistem pemasukan pada mesin cetak, dan kalau dicetak berbentuk gulungan tidak sering putus.

Menurut seorang ahli dalam bidang perkertasan (Donald R.Voas) dikemukakan bahwa batasan memahami dan menilai mutu kertas tulis cetak mencakup beberapa aspek dan persyaratan, yaitu :

1. Penampakan (appearance)/wajah dari permukaan kertas, adalah suatu syarat fisis maupun optis yang harus dimiliki suatu lembar kertas, karena kesempurnaan penampakan permukaan sangat penting dari sisi produsen maupun sisi konsumen. Bahkan kesempurnaan penampakan ini menduduki peringkat pertama dalam usaha meningkatkan mutu suatu barang cetakan.

     Hal-hal pokok yang dapat mempengaruhi kesempurnaan penampakan pada permukaan kertas, antara lain :

a. Kecerahan (brightness)   

    Suatu benda dapat dikatakan cerah, apabila benda itu memantulkan cahaya yang cukup ke mata kita, oleh karena itu dalam menilai atau mengukur kecerahan suatu benda sangat terkait dengan panjang gelombang cahaya yang dipantulkan / direflesikan. Untuk mengukur panjang gelombang diperlukan suatu alat khusus yang dapat mendeteksi pantulan warna biru dan tidak bisa diketahui hanya melalui penglihatan. Kertas yang berwarna putih, belum tentu memiliki brightness yang lebih tinggi daripada kertas warna hijau atau warna lain. Kertas dengan nilai kecerahan yang tinggi akan menghasilkan cetakan yang lebih baik. Tinggi rendahnya kecerahan kertas ini dapat dipengaruhi oleh bahan baku kertas serta sistem dan proses pembuatannya, sehingga dapat di-simpulkan bahwa kertas dengan bahan baku dari kertas bekas dicetak yang tentunya masih terdapat lapisan tinta, kecerahannya/brightnessnya akan lebih rendah daripada kertas yang bahan bakunya dari kayu pinus.

 

b. Warna

Dalam pencetakan model gambar berwarna, warna yang kita lihat adalah panjang gelombang cahaya yang dipantulkan / direfleksikan oleh permukaan kertas.           Kesempurnaan pantulan sangat tergantung dari kerataan atau kehalusan permukaan kertas, warna kertas dan kesempurnaan warna tinta cetaknya. Kertas yang permukaannya halus bahkan licin akan sempurna memantulkan, karena hukum pantulan cahaya menyatakan “ sudut datang sama dengan sudut pantul”.       Pada kertas yang permukaannya tidak rata atau kasar, hukum pantulan tetap berlaku, sehingga cahaya yang dipantulkan oleh permukaan kasar, pantulan cahayanya akan menyebar, membaur, sehingga lapisan warna yang dilihat kurang tajam.

Sumber cahaya yang sempurna (matahari) terdiri dari gelombang cahaya merah, hijau dan biru dengan panjang gelombangnya masing-masing (yaitu : warna merah panjang gelombangnya 600 – 700 nanometer, warna hijau panjang gelombangnya 500 - 600 nanometer dan warna biru panjang gelombangnya 400 - 500 nanometer). Apabila ketiga cahaya itu menyinari suatu benda berwarna (barang cetakan), maka ketiga cahaya itu ada yang diserap dan ada yang dipantulkan.

Misalnya: kertas yang berwarna merah, gelombang cahaya hijau dan biru diserap, sedangkan gelombang cahaya merah dipantulkan (warna merah terlihat pada kertas tersebut). Pencetakan diatas kertas putih dengan warna-warna cyan, magenta maupun yellow akan berlaku cahaya yang diserap dan ada yang dipantulkan.

Permasalahan yang muncul adalah hasil pantulan warna-warna tidak sama, artinya adanya perbedaan warna yang seharusnya dipantulkan (das Sollen), berbeda dengan kenyataan yang terjadi atau yang terlihat (das Sein), belum lagi masalah kondisi permukaan kertas yang akan mempengaruhi proses pemantulan cahaya/warna.

Ketidaksempurnaan warna yang dipantulkan oleh lapisan tinta itu akibat adanya ketidaksempurnaan warna-warna tinta cyan, magenta dan yellow. Tinta cyan yang seharusnya sempurna memantulkan warna hijau dan biru, yang ada warna hijau dan biru dipantulkan tidak sempurna, bahkan memantulkan juga sedikit warna merah; Tinta magenta yang seharusnya sempurna memantulkan warna merah dan biru, kenyataannya kedua gelombang cahaya itu tidak sempurna dipantulkan, bahkan gelombang warna hijau ikut dipantulkan. Tinta warna yellow yang seharusnya sempurna memantulkan warna merah dan hijau, kenyataannya warna hijau tidak sempurna dipantulkan, bahkan gelombang warna biru ikut dipantulkan.

Kertas putih memantulkan semua panjang gelombang cahaya, tetapi kesan bayangan sangat bervariasi sehingga ada istilah warna putih kekuning - kuningan, warna putih kebiru-biruan, keabu-abuan, kehijau-hijauan dst., yang semuanya bertujuan agar mata tidak gampang lelah memandang kertas putih tersebut. Dengan adanya kondisi demikian, maka muncul berbagai istilah seperti : putih salju, putih hangat, putih cream, putih biru yang bisa memberi kesan hangat, kesan sejuk, sehingga kemudian dibuatlah ukuran warna.

c. Opasitas

Berbagai istilah didalam teknik cetak mencetak untuk mengatakan kondisi suatu lembar kertas yang menjelaskan bahwa hasil cetakan pada suatu sisi lembaran tidak memberi bayangan pada sisi lainnya atau warna tidak menembus pada sisi yang lain. Salah satu sifat penting yang ada di industri percetakan yang menyangkut kertas adalah sifat opasitas atau daya tidak tembus cahaya/pandang atau transparansi. Semakin tinggi nilai opasitas suatu kertas, maka cetakan semakin baik, sebaliknya yang nilai opasitasnya rendah, maka mutu cetakan semakin rendah (yaitu cetakan membayang dan terlihat dari sisi belakangnya). Sebagai contoh kaca yang bening dan tembus pandang, nilai opasitasnya 0%, sedangkan Art Carton 310 gram nilai opasitasnya 100%, berarti tidak tembus pandang.  

d. Gloss / mengkilap

Industri percetakan sangat memperhatikan kesempurnaan permukaan kertas terutama tingkat mengkilapnya / glossnya. Kondisi permukaan demikian selalu dikaitkan dengan kelicinan permukaan kertas yang tinggi (high surface smoothness) dan yang memiliki kemampuan cetak yang tinggi pula (good printing quality). Daya kilap selalu dikaitkan pula dengan kelicinan optis (optical smoothness), bahkan seringkali tidak ada kaitannya dengan kelicinan fisis (physical smoothness), karena mungkin saja selembar kertas memiliki gloss yang tinggi, tetapi permukaannya kasar.

Permasalahan gloss erat kaitannya dengan kenyamanan membaca, artinya bahwa permukaan kertas yang tingkat glossnya tinggi, kenyamanan atau mutu pembacaannya rendah (poor reading quality). Selanjutnya untuk meningkatkan kenyamanan membaca, nilai gloss suatu jenis kertas dapat dikurangi dengan proses pelapisan permukaan (coating of paper) dengan suatu bahan pigment yang memiliki nilai opasitas yang tinggi (high opaque pigment).

Pada umumnya kertas dengan mutu biasa memiliki pantulan spekuler antara 0.2% – 6% terhadap cahaya dengan sudut datang 450 , kemudian untuk meningkatkan prosentase pantulan kertas diberi lapisan coating, maka nilai pantulan akan naik (misal: kertas art paper nilai pantulannya diatas 60%, kertas supercalander book nilai pantulannya sekitar 30%).

Selengkapnya terdapat pada majalah Print Media edisi 87 Mart-April 2019. 

 

Info : WA 0811808282