Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini958
mod_vvisit_counterKemarin790
mod_vvisit_counterMinggu ini3153
mod_vvisit_counterMinggu lalu6614
mod_vvisit_counterBulan ini16828
mod_vvisit_counterBulan lalu31166
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1383371
Kami Memiliki: 37 guests online

Home Kilas Berita Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi
20
Apr
2017
Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi

Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi

 

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Dahulu foto dipandang sangat penting dan “mahal”, karena momen-momen yang terekam dalam foto-fototersebut bernilai  sejarah yangabadi. Pada jaman dahulu fotografi merupakan ilmu yang hanya dapat dikerjakan  oleh orang-orang tertentu yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.Namun,  perkembangan  teknologiyang sangat pesat, menjadikan teknologi fotografi semakin mudah dioperasikan  oleh semua kalangan.Bahkan, penggunaan teknologi kamerakonvensional  untuk keperluan fotografi sudah beralih ke kamera digital. Teknologi  kamera digital yang praktis membuat pengguna tidak kehilangan momen-momen yang tepat karena keterbatasan jumlah frame. Selain itu,  teknologi  kamera saku digital dan smartphone yang tersedia saat ini  dapat  menghasilkan  foto sebagus hasil jepretan fotografer profesional.

....................................... selengkapnya klik judul (link) di atas ..............................

Di sisi lain, maraknya media internet dengan berbagai macam variasi, menimbulkan  satu hal yang fenomenal,  yaitu media sosial yang bisa mengakomodasi foto sebagai media berita, dokumentasi, bisnis, hingga bahan perbincangan interaksi online.Kehadiran media sosial lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan informasi, juga digunakan sebagai sarana hiburan atau pengisi waktu luang. Menurut Baudrillard, fungsi utama objek-objek konsumer bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya, melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai-tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media. Menurutnya, dalam masyarakatsistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan. Dan kebenaran itu bisa dilihat pada fenomena media sosial.

Fenomena lain yang dapat dilihat adalah banyaknya penggunaan  PP (Photo Profile) atau upload foto-foto bergaya eklusif, seperti :saatdi lokasi wisata atau restoran mahal, bersama hewan peliharaan  yang langka, sedang menyetir, didepan mobil, berpose dengan memegang kamera SLR mahal, dan lain-lain  yang menunjukkan prestise mereka. Fenomena itu menyebabkan penggunamedsoslain ikut-ikutan supaya dianggapgaul dan tidak  kalah bersaing. Pandangan ini semakin berkembang di era yang semakin modernini,  dimana media sosial tidak lagi dijadikan sebagai alat komunikasi sebagai fungsi utama, namun hanya menjadi nilai simbol untuk  menunjukkan prestise yang tinggi melalui barang-barang  yang mereka miliki dan  menampilkanfotonya.

Penggunaan media sosial hanya sebagai simbol dari kemajuan teknologi dunia yang semakin modern, dan masyarakat punseolah  tidak ingin ketinggalan jaman sehingga  berlomba untuk memiliki berbagai akun media sosial, seperti: Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, dll. Hal ini tidak akan terjadi jika masyarakat tidak mengenal teknologi dan fenomena ini semakin mendukung pernyataan Baudrillard yang menyatakan bahwaera kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya makna serta citra oleh perkembangan teknologi dan media massa.

Fotografi sebagai Media Komunikasi Visual        

Seorang fotografer dituntut harus bisa dan mampu bekerja dengan teknik dan peralatan kerja yang dimilikinya secermat mungkin dan dibutuhkan ketekunan, ketelitian, usaha dan kerja keras bagi seorang entreupreneur untuk bisa menguasai teknik dan estetika fotografi. Pengalaman yang akan mengajarkannya bagaimana bekerja dengan kamera digital yang efektif, bagaimana menghadapi berbagai kondisi pemotretan, termasuk kondisi lingkungan dan cahaya yang kurang menguntungkan, hingga bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dalam hal pekerjaannya.

Salah satu kelebihan fotografi adalah mampu merekam peristiwa yang aktual, dapat dipercaya, dan dapat membentuk sebuah citra di dalamnya. Sehingga fotografi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang dapat digunakan sebagai bahan publisitas sebuah informasi atau membangun komunikasi yang bermanfaat.

Berkomunikasi dan berinteraksi antar manusia semakin dimudahkan dengan adanya teknologi canggih. Komunikasi yang digunakan juga beragam baik dengan menggunakan komunikasi interpersonal maupun dengan menggunakan komunikasi massa melalui media fotografi. Dalam proses komunikasi, diharapkan seseorang dapat mengetahui kondisi atau situasi, tempat, dan sebagainya agar pesan yang akan disampaikan dari foto tersebut dapat diterima dengan baik.

Aplikasi dalam berkomunikasi visual melalui foto ini bisa beragam,  yaitu dari kegiatan bisnis, tukar-menukar informasi, meningkatkan branding produk, menawarkan jasa, hingga kegiatan komunikasi sehari-hari seperti chating, menunjukkan sesuatu ke orang lain, dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan menggunakan media foto.

 

Komunikasi Dalam Foto Jurnalistik

Fotografi merupakan media utama,terutama media cetak,untukberkomunikasi dan  menyampaikan pesan atau berita secara visual, karena fotografi mampu merekamobyek berita   secara jelas dan nyata. Teknologi fotografi mengalami kemajuan yang pesat, terutama dengan ditemukannya teknologi digital.  Sebelumnya, teknologi fotografi  melewati masa yang panjang sejak sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 2, dengan  penggunaan media film. Penggunaan film dalam pemotretan obyek (fotografi)akan merekamobyek  apa adanya,tanpa rekayasa. Sedangkan di  era digital  inifotografi telah memasuki ranah komputerisasi, dimana data foto akan terekam secara digital, terproses secara cepat dan tepat, namun rawandirekayasa sehingga keaslian dan kemurnian obyek foto diragukan.

Kecanggihan teknologi pengolah gambar foto yang beredar saat inimemungkinkan foto diolah atau direkayasa sedemikian rupa olehsang fotografer. Padahalfoto sebagai sumber  informasiatau  berita  di bidang jurnalistik seharusnya adalah gambaran asli dari kejadian yang direkam pada suatu tempat dan waktu tertentu. Masalahnya, jurnalistik selalu berhubungan dengan berita yang tertulis atau proses penyampaian pesan kepada khalayak. Jurnalistik adalah tindakan diseminasi informasi, opini dan hiburan untuk publik yang sistematik dan dapat dipercaya kebenarannya melalui media komunikasi massa modern (Roland E. Wolesely dan Laurence R. Campbell, 1949, A.Muis : 24). Sehingga foto jurnalistik yang baik dan berhasil akan selalu dapat menjawab siapa, apa, kapan dan bagaimana suatu kejadian berlangsung,  dan foto yang merekam berita tersebut, biasanya terpasang di media cetak,seperti koran atau majalah.

Untuk itu, setiap media cetak memiliki mekanisme  filter terhadap hasil pemotretan wartawan foto melalui  dewan redaksi,  untuk  menentukan layak tidaknya sebuah foto ditayangkan. Disinilah berita-berita bisa muncul dengan foto yang kurang tepat dan termanipulasi. Kejujuran wartawan foto adalah yang paling menentukan, untuk tidak mencoba memanipulasi gambar yang berujung akan mengubah fakta. Pada dasarnya mengedit foto walau cuma sedikit akan mengubah fakta, misalnya momen foto bersama pada sebuah acara, tidak boleh dimanipulasi dengan menambahkan orang yang kebetulan tidak ikut berfoto, walaupun  orang tersebut ada di acara tersebut. Karena itu, peran wartawan foto dan redaktur media sangatkrusial dalam menentukan keaslian dari foto tersebut.

Foto yang baik adalah foto yang dapat membuat  orang  yang  melihatnya merasa berada di dalam kejadian pada foto tersebut. Ada pepatah satu foto berati seribu kata, sehingga tanpa harus banyak bercerita lewat kata, foto sudah mewakili sebuah fakta tertentu. Dengan adanya Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sudah selayaknya wartawan foto diberi kepercayaandan  kebebasan dalam mengeksplorasi foto berita tanpa meninggalkan etika.

Berkomunikasi dengan Karya Seni Foto

Selain untuk media rekam, fotografi juga bisadigunakan  sebagai media ekspresi seni. Seni baru bisa mempunyai makna atau dapat diresapkan jika mengandung  kekuatan pesan yang komunikatif. Seni yang tidak komunikatif sama sekali tidak bisa dikatakan indah. Dari pernyataan ini bisa dikatakan bahwa seni adalah media penyampaian pesan dari seniman kepada orang lain dengan tujuan mempengaruhi pikirannya. Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Thomas Munro, fotografi dapat dikategorikan sebagai cabang seni rupa (Visual Art),  seni yang hanya bisa dirasakan melalui indera penglihatan manusia. Jadi,seni fotografi bisa dikatakan sebagai kegiatan penyampaian pesan secara visual dari pengalamanyang dimiliki seniman / fotografer kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain mengikuti jalan pikirannya. Agarproses penyampaian pesan initercapai,  maka harus memenuhibeberapa persyaratan komunikasi yang baik, yaitu konsep AIDA (Attention–Interest-Desire-Action) atau Perhatian – Ketertarikan – Keinginan – Tindakan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi lewat sebuah foto seni.Pertama adalah imajinasi fotografer.Foto sebagai media ekspresi seni membutuhkan imajinasi dari fotografer. Pada penyajian akhir, dengan melihat sebuah foto seni tentu penikmat fotojuga akan berimajinasi tentang bagaimana suasana dalam foto tersebut, misalnya tentang keadaandan  perasaan yang muncul dari orangyang ada  dalam  situasi pada  foto tersebut. Kemudian foto yang menyampaikan pesan dengan baik adalah foto yang dapat membuat orang yang menikmatinya bisa ikut berimajinasi. Persepsi tentang foto seni bisa berbeda. Untuk itu  diperlukan  presentasi atau paparan konsep seni dari fotografer pada penyajian foto, sehingga maksud dan arti foto tersebut bisa dikomunikasikan kepada  audiens.

Kedua adalah pengalaman dan perasaanfotografer yang sering mempengaruhi baik buruknya pesan dari sebuah foto,   karena  fotografer memiliki perasaan dan pengalaman tertentu dalam membuat karya foto yang memiliki pesan tertentu. Ketiga adalah bagaimana memahami karya foto tersebut. Untuk berkomunikasi lewat foto, diperlukan pemahaman yang kuat, karena pemahaman setiap orangberbeda-beda. Sebuah karya foto yang baik mudah dipahami oleh semua kalangan, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Kemudian yang terakhir dan yang terpenting adalah karya foto harus mengandung sebuah ide/gagasan. Ide merupakan inti pokok dari sebuah pesan yang terkandung dalam foto. Untuk berkomunikasi lewat foto, pertama-tama fotografer harus menentukan ide tentang pesan yang ingin disampaikan. Ide yang bagus akan mempengaruhi pesan yang ingin disampaikan dari sebuah foto. Sebaliknya, ide yang kurang baik berakibat  pesan dari  fototersebut  akan sulit dimengerti oleh orang yang melihat foto.

Fotografi sebagai Budaya Visual

Penyajian visual berperan besar pada pembentukan opini publik, dan di situ fotografer menjadi salah satu penanggung jawab utamanya. Oleh karena itu,  para fotografer jurnalistik maupun fotografer seni pernah meyakini bahwa fotografi dapat berperan dan bertanggung jawab dalam pembentukan masyarakat yang ideal. David Ogilvy (pengamat dunia iklan),menyatakan bahwasejak awal tahun 1940-an untuk memengaruhi masyarakatlebih baik menggunakan satu foto daripada seribu sketsa gambar tangan.

selengkapnya terdapat pada majalah Print Media Indonesia, edisi 75 Maret-April 2017.

Info :

Hubungi : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it  /  Mobile (WA) 0811808282

 

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!