Home Kilas Berita Aktivitas Fotografi Generasi Milenial
20
May
2019
Aktivitas Fotografi Generasi Milenial

Aktivitas Fotografi Generasi Milenial

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Sejak media fotografi hadir, sering disebut sebagai media rekam yang paling ampuh. Kemampuannya menampilkan detail dan ketepatan waktu membuat manusia modern mengagungkannya sebagai bagian dari kemajuan dalam merekam moment. Kenyataan itu turut menggiring opini umum bahwa fotografi merupakan media penghadir kenyataan yang obyektif, sehingga perkembangan masyarakat modern yang amat tergantung pada kecepatan dan ketepatan informasi menjadikan fotografi salah satu media paling handal.

Fotografi sering dipahami sebagai aktivitas mendokumentasikan objek menggunakan media kamera. Namun seiring dengan berjalanya waktu, fotografi tidak hanya dokumentasi/informasi, tapi juga dianggap sebagai seni dan bisnis. Hal ini dikarenakan saat pengambilan gambar fotografer menggunakan rasa yang dicurahkan ke dalam karya fotonya, dan dalam proses pengambilan foto seperti halnya pelukis yang sedang melukis dengan berbagai teknik yang diaplikasikan. Untuk yang bernuansa bisnis,  ...

fotografi sudah menjadi media utama untuk pemasaran usaha kecil yang mereka jalani. Bahkan budaya jualan online sudah bisa dibilang akan menggantikan cara lama yaitu buka gerai yang menunggu pengunjung di pasar/mall.

Di era modern seperti sekarang ini karya foto banyak disajikan di media sosial, seperti Instagram dan Facebook. Dengan banyaknya pengguna akun sosial media Instagram, fotografi menjadi salah satu media yang paling diminati karena banyak orang dapat memposting karya foto sebagai media ekspresi maupun informasi yang dapat dilihat dari semua akun pecinta fotografi di media sosial tersebut. Konsekuensinya, media fotografi dan media audio visual telah memasuki tahapan yang sama dengan dunia cetak-tulis yang pada masanya pernah dianggap sebagai suatu kebenaran. Perkembangan jaman merubah masyarakat untuk tidak lagi mengagungkan berita cetak. Sekarang orang mampu menyaring berita tertulis, namun kehadiran foto di sisinya seolah memutlakkan kebenaran berita. Namun patut diwaspadai bahwa gabungan keduanya juga bukanlah kebenaran yang obyektif, tetapi mungkin satu data yang lebih berguna. Sikap realistis dan kritis yang mampu memahami dan menikmati keunggulan budaya visual tanpa harus tertipu oleh sisi lainnya yang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya itu sendiri. Seperti pendapat Laszlo Moholy-Nagy: “Literasi di masa depan adalah pengabaian penggunaan kamera seperti penggunaan pena.”

 

Generasi Milenial terhadap Fotografi

Generasi Milenial adalah anak muda yang berusia antara 15-35 tahun, generasi yang tumbuh di tengah hebatnya perkembangan teknologi dan internet. Generasi milenial sangat paham bagaimana cara memanfaatkan kondisi tersebut, misalnya jika mendapatkan kesulitan untuk memecahkan satu masalah, mereka terbiasa dengan melihat tutorial di Youtube. Hal itu tentu sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih suka melakukan dengan mencobanya terlebih dahulu (trial-and-error).

Di sisi lain, mereka sangat produktif. Survey yang dilakukan oleh Microsoft baru-baru ini, disebutkan bahwa 93 % responden yang terdiri dari milenial percaya bahwa kunci kebahagiaan adalah produktivitas. Masa kecil generasi milenial punya banyak kegiatan, dan itu menjadi salah satu alasan kenapa milenial lebih suka menyibukkan dirinya untuk sesuatu yang berguna. Banyaknya anak-anak muda yang kreatif di era milenial juga menjadi indikator banyaknya perkembangan dari berbagai segi keterampilan, salah satunya dari bidang fotografi yang sekarang mulai berkembang dan di minati oleh generasi ini.

Fotografi dan anak muda sangat melekat akhir-akhir ini, mulai dari sekedar selfie atau lebih dari itu anak muda juga bisa mengembangkan fotografi untuk produk yang mereka tawarkan di media sosial ataupun online shop mereka.

Media sosial menjadi wadah secara cuma-cuma untuk menunjukkan karya sendiri sebagai penyalur ekspresi atau pun keperluan bisnis yang didominasi gerenasi muda. Generasi Milenial kini makin ekspresif menunjukkan karyanya dari berbagai tempat, suasana, dengan media fotografi. Berikut berbagai aktivitas generasi milenial dalam fotografi di Media Sosial:

1. Eksistensi pribadi dan kelompok

Foto dapat menjadi bukti eksistensi aktivitas anak muda di kehidupannya, seperti lingkungan keluarga, teman, sekolah, dan lainnya yang menjadi latar belakang objek yang ingin diabadikan. Dengan adanya unggahan foto di media sosial, seakan-akan menjadi sebuah pengantar untuk menunjukkan pribadi seseorang. Apalagi eksistensi kelompok yang anggotanya tidak hanya satu-dua orang, kegiatan berkelompok dirasa wajib untuk diabadikan untuk sebuah cerita berbagai komunitas sebagai bukti kontribusi apa saja yang diberikan kepada lingkungan sekitar. Namun pemanfaatan media sosial itu seharusnya bukan hanya menjadi pameran kepada para followers, tapi harus ada makna persuasif yang tersirat untuk melakukan suatu hal positif.

2. Menunjukkan kecintaan terhadap sesuatu (hobby)

Penggunaan foto pada media sosial ini banyak berkaitan dengan Personal Branding.  Personal Branding adalah sebuah kemasan dan ciri khas yang melekat pada pribadi seseorang. Biasanya dikaitkan dengan expertise atau keahlian tertentu yang identik, pofesi, passion, atau bahkan kepribadian / personalitas seseorang tersebut. Singkatnya bagaimana membentuk persepsi orang-orang terdekatnya terhadap segala sesuatu yang dimilikinya, misalnya adalah kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai yang dimiliki seseorang, sehingga dapat menimbulkan persepsi yang pada akhirnya dapat di gunakan sebagai alat pemasaran.

Setiap orang memiliki brand. Personal Branding yang berkaitan dengan kemampuan dan ciri khas seseorang, berjalan dengan natural dan sesuai dengan jam terbang keahlian yang dilakoninya. Misalnya seseorang mempunyai hobi koleksi action figure kemudan difoto sedemikian rupa lalu ditampilkan di media sosial. Maka personal brandnya ini akan mengundang orang lain yang mempunyai hobi sama, sehingga diharapkan akan terbentuk komunitas yang ujung-ujungnya bisa dikembangkan menjadi bisnis.

3. Menunjukkan karya

Sebenarnya ini lanjutannnya dari point 2, tapi lebih ke karya fisik dari segala aktivitasnya. Dalam hal ini karya seni yang dibuat, bisa foto, lukisan, drawing, craft, fashion, musik, dan sebagainya. Semua itu menyajikannya adalah dengan media foto dan video. Karya fotografi sendiri bisa sangat luas, dan bisa disajikan dengan tema seperti; human interest, landscape, city, architecture, food, nature dan sebagainya. Seorang fotografer biasanya memiliki kecenderungan dan kecintaan minatnya kepada salah satu tema, yang kemudian dipamerkannya di media sosial atau mengikuti lomba fotografi. Penggunaan hastag yang merupakan fasilitas media sosial memudahkan akses untuk hal-hal yang spesifik, sehingga apa yang diupload akan lebih bisa diakses luas dengan kepentingan yang spesifik.

4. Peluang bisnis dan profesi

Fotografi sangat dibutuhkan untuk visualisasi sebuah produk bisnis, dan itu akan sangat dibutuhkan oleh konsumen. Para pebisnis memanfaatkan media sosial untuk menjual produknya dengan gambaran hasil foto terbaiknya, dimulai dari merek fashion, makanan, café-resto, hingga produk jasa semuanya bisa dipamerkan dalam sebuah foto. Untuk kualitas foto untuk bisnis agak berbeda, yaitu lebih kearah tampilan “kondisi sebenarnya” dari produk, maksudnya tidak sama seperti foto iklan komersial di majalah atau media massa lain. Iklan majalah menampilkan foto produk dengan digarap serius sesempurna mungkin agar tampilan produk bisa menarik perhatian konsumen. Di media sosial, foto produk ditujukan untuk meraih kepercayaan konsumen, sehingga jika foto ditampilkan seperti iklan justru konsumen akan ragu, karena biasanya kondisi produk tidak lebih bagus karena editing foto yang berlebihan. Sehingga tampilan foto bisnis di media sosial lebih menampilkan realitas apa adanya, tanpa editing yang berlebihan.

Bisnis Fotografi bagi Generasi Milenial

Generasi milenial saat ini memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia fotografi. Fotografi yang dulunya sering disebut hobi, kini berubah menjadi peluang bisnis yang menguntungkan mengingat jasa fotografer dibutuhkan di berbagai momen dan kebutuhan, membuatnya menjadi salah satu bisnis kreatif yang menjanjikan. Sehingga bisnis fotografi menjadi salah satu jenis bisnis kreatif yang didominasi oleh generasi milenial saat ini.

Pertumbuhan bisnis fotografi semakin terasa dari tahun ke tahun dan kini perlahan-lahan dunia bisnis mulai dikuasai oleh kaum muda. Salah satu penyebabnya adalah pesatnya perkembangan dunia bisnis berbasis teknologi yang mendorong munculnya ide-ide bisnis baru yang kebanyakan memang berasal dari ide generasi milenial. Saat ini untuk membuka bisnis sendiri sudah menjadi tren di kalangan anak muda, terbukti dari banyaknya perusahaan startup dan bisnis kreatif yang sebagian besar dibangun oleh generasi milenial.

Generasi milenial memang dikenal generasi yang ulet dalam mengembangan berbagai usaha di bidang bisnis kreatif, terlihat dari besarnya jumlah rata-rata generasi milenial yang menjalankan bisnis kreatif saat ini. Menurut Bekraf, kontribusi industri kreatif di Indonesia dalam dua tahun belakangan rata-rata sekitar 7% dari PDB (Produk Domestik Bruto) dan diharapkan akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang.

Untuk dunia kerja, fotografi sering digunakan untuk membuat portofolio. Portofolio merupakan bukti nyata hasil kerja untuk menarik klien. Sebelum mencari klien, pekerja/pebisnis kreatif dipastikan memiliki portofolio yang menjanjikan, untuk lebih tertarik dengan melihat contoh karya, daripada hanya sekedar promosi lisan. Portofolio ini bisa dijadikan ukuran karya foto atau hal lain yang berkaitan dengan kinerja. Generasi milenial memilih untuk terhubung dan terkoneksi dengan orang lain lewat beragam media sosial sehingga tidak ada jarak karena semuanya sudah saling terkoneksi. Kondisi ini pula yang mendorongnya lebih aktif dalam bisnis kreatif yang cenderung segalanya menggunakan media digital.

Jika memang memiliki kualitas yang baik, portofolio merupakan cerminan profesionalitas yang nantinya dapat diketahui pada perjalan karir seseorang. Seorang profesional harus selalu mengembangkan wawasan, pengetahuan, serta ilmunya. Kehadiran berbagai jenis teknologi kamera saling melengkapi berbagai kebutuhan fotografi mereka. Jika sudah memiliki kamera DSLR, bukan berarti smartphone dapat dikesampingkan begitu saja. Tren mobile photography justru memberikan dampak positif terhadap gaya hidup anak muda di masa mendatang. Tren ini justru akan memacu mereka untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Baik DSLR, Mirrorless atau smartphone, masing-masing dapat menangkap sisi fotografi yang berbeda pula. Maka adanya berbagai jenis kamera, justru dapat dimanfaatkan sebagai media agar gairah fotografi di kalangan generasi milenial akan semakin besar.

...............

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak dan on line INDONESIA PRINT MEDIA edisi 88 mei-juni 2019

Info :

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

WA : 0811808282

 

 

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!