Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini424
mod_vvisit_counterKemarin1356
mod_vvisit_counterMinggu ini4034
mod_vvisit_counterMinggu lalu9771
mod_vvisit_counterBulan ini26468
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1322484
Kami Memiliki: 55 guests online

Home Lingkungan PENGELOLAAN LIMBAH KEMASAN PANGAN DAN ISU LINGKUNGAN
17
Feb
2014
PENGELOLAAN LIMBAH KEMASAN PANGAN DAN ISU LINGKUNGAN

Oleh : Alfred Satyahadi
Corporate Development BPPI,
WaKaBid Eksternal KOPI dan Redaksi Indonesia Print Media

            Di seluruh penjuru dunia, masalah penanganan limbah menjadi suatu tantangan yang cukup serius, karena aktivitas manusia  setiap hari selalu berujung pada limbah. Limbah menjadi sebuah keniscayaan dalam aktivitas sosial dan ekonomi manusia. Semakin banyak jumlah manusia dengan segala kompleksitas aktivitas sosial dan ekonominya, maka akan semakin banyak pula sampah atau limbah yang dihasilkan.

Sebuah catatan menarik dirilis Bank Dunia. Pada Juni 2013, Bank Dunia menerbitkan laporan berjudul What a Waste: A Global Review of Solid Waste Management. Laporan ini merupakan laporan pertama yang membahas masalah sampah secara terpadu, mulai dari asal–usul sampah, pengumpulan, pengolahan hingga pembuangan, serta  pengelompokan sampah per wilayah dan negara.

Dalam laporan tersebut Bank Dunia mengingatkan bahwa total limbah padat yang dihasilkan di seluruh dunia mencapai sekitar 1,3 milyar ton pertahun. Pada tahun 2025 mendatang volume limbah  dunia diproyeksikan akan meningkat hampir dua kali lipat, yaitu  mendekati 2,2 milyar ton pertahun.

            Dengan jumlah sebesar itu, saat ini limbah menyumbang hampir 5% emisi gas rumah kaca global. Dan gas metana yang dihasilkan dari tempat pembuangan sampah (terutama tempat pembuangan sampah akhir/TPA) dengan jumlah mencapai 12% dari total emisi gas metana global.

Laporan Bank Dunia ini mengungkapkan biaya pengelolaan limbah di seluruh dunia  dalam kurun waktu 13 tahun mendatang akan meningkat tajam dari US$ 205 Milyar (Rp. 1.845 Trilyun) pada tahun 2012 menjadi US$ 376 Milyar (Rp. 3.375 Trilyun) pada tahun 2025.

Laporan Bank Dunia ini juga merilis 10 (sepuluh) besar negara penghasil limbah tertinggi di dunia,  di antaranya : Amerika Serikat dengan 236, Rusia 200, Jepang 52.4, Jerman 48.8, Inggris 34.9, Meksiko 32.2, Perancis 32.2, Italia 29.7, Spanyol 26.3, dan Turki 26.0 (kesemuanya dalam juta ton).

Beruntung  Indonesia tidak termasuk dalam daftar 10 (sepuluh) besar negara penghasil limbah tersebut, walaupun sebenarnya limbah/sampah yang dihasilkan di negeri  ini pun sangat banyak (lihat data di bawah).

Faktor urbanisasi, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, meningkatnya kemakmuran (gaya hidup), naiknya standar hidup dan populasi di perkotaan, dan kebutuhan untuk hidup layak, kesemuanya memiliki kontribusi yang besar untuk produksi limbah. Pertumbuhan jumlah sampah padat di perkotaan berbanding lurus dengan meningkatnya urbanisasi dan pendapatan Produk Domestik Bruto.

Keprihatinan terhadap peningkatan dan penumpukan limbah berikut dampaknya sebagaimana dilaporkan oleh Bank Dunia tersebut, baru terbatas pada limbah padat belum terhitung limbah cair serta lainnya.

Jadi, bisa dibayangkan semakin besarnya dampak dan biaya yang harus ditanggung akibat peningkatan jumlah dan penumpukan limbah-limbah tersebut.

Dalam konteks ini, limbah tidak hanya menjadi masalah tersendiri bagi tiap–tiap negara, melainkan menjadi masalah global bahkan universal. Tidak mengherankan apabila Bank Dunia memandang limbah  sebagai “krisis yang membayangi” dan akan menimbulkan beban yang sangat besar bagi lingkungan hidup dan sektor keuangan global.

Tidak ada pilihan yang lebih bijak daripada menempuh langkah efisiensi dalam mengelola aktivitas sosial dan ekonomi. Efisiensi yang dimaksud  mencakup penggunaan sumber daya, serta menerapkan proses kerja dan cara–cara tepat guna, efektif dan terbaik untuk pencapaian tujuan–tujuan dan manfaat yang optimal,  tentunya  dengan limbah yang lebih sedikit.

Efisiensi merupakan langkah paling mendesak yang harus dilakukan mulai saat ini juga sebagai  upaya meredam, menurunkan dan bahkan menekan peningkatan produksi limbah.    

 

Limbah Kemasan

Suatu pemikiran yang sangat keliru apabila membicarakan tentang  kemasan tanpa memperhatikan limbah dan isu lingkungan yang menyertainya. Kemasan seringkali disalahkan sebagai penyebab timbulnya berbagai  penyakit. Bahkan  ada persepsi yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa jika industri kemasan mengurangi atau bahkan menghentikan produksi  atau tidak beraktivitas lagi, maka tanah di sekitarnya akan kembali subur dan masalah polusi akan hilang dengan sendirinya.

Persepsi ini tentu saja tidak benar.  Ada beberapa bukti  yang menunjukkan bahwa kemasan yang diproduksi dengan baik bisa mengurangi limbah dalam jumlah yang cukup signifikan.

Fakta  menunjukkan limbah domestic merupakan penyumbang terbesar, yaitu setengah dari jumlah total limbah yang dihasilkan. Dari data yang dikeluarkan oleh The Packaging and Industrial Films Association (PIFA) diketahui  bahwa limbah padat, di antaranya dari limbah rumah tangga, menyumbang sebesar 39% dari total limbah domestik. Dan limbah rumah tangga tersebut didominasi oleh sampah dapur sebesar 30%, diikuti sampah dari Koran dan Majalah 20% dan kertas sebesar 10%.

Harus diakui juga bahwa ada fakta lain yang harus mendapat perhatian serius, yaitu meningkatnya volume limbah pengemas pangan (food packaging waste), khususnya limbah kemasan pangan berupa plastik dan laminasi. Limbah ini antara lain  berbentuk tas, kantong, film, sachet, pouch dan botol.

Dari segi material pembentuknya, limbah–limbah ini pada umumnya tidak dapat hancur atau  terurai secara biologis (non–biodegradable). Jika ada yang dapat terurai (biodegradable) pun  membutuhkan waktu yang sangat lama, yaitu  limbah-limbah kemasan pangan yang terbuat dari material plastik dari golongan POLYETHYLENE (PE), POLYPROPYLENE (PP), POLYVINYL CHLORIDA (PVC), HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE), dan POLYETHYLENE TEREPTHALATE (PET).

            Sepanjang daur hidupnya, kemasan pangan sejak dari proses pembuatan, penggunaan atau pemakaian hingga pembuangan menjadi limbah/sampah memiliki dampak lingkungan yang tidak sedikit. Dampak keseluruhan (resultant impacts) pembuangan limbah kemasan pangan secara bebas ke lingkungan maupun penimbunan terpusat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah serta proses insenerasi akan bisa menimbulkan pencemaran,  dengan kondisi dan level status pencemaran yang berbeda–beda tentunya.

            Jika limbah kemasan pangan dibuang begitu saja ke lingkungan tentu akan menimbulkan dampak yang sangat parah, berupa pencemaran lahan, tanah, perairan dan pencemaran secara “Visual”. Indonesia mengalami semua  bentuk pencemaran tersebut. Secara gamblang hal ini dapat dilihat di  selokan, kali dan sungai–sungai di lingkungan sekitar  kita, yang sebagian besar dipenuhi oleh limbah kemasan pangan. Demikian juga dengan  di  pantai–pantai bahkan sampai  di tengah laut pun dengan mudah kita dapat menemukan limbah kemasan pangan yang terapung–apung.

Limbah kemasan pangan juga bertebaran di lahan kosong, lahan pertanian dan perkebunan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Di perkotaan kondisinya  lebih parah, limbah–limbah kemasan pangan menutupi saluran–saluran pembuangan air dan pintu air sehingga  menyebabkan  bencana banjir setiap kali musim hujan tiba.

            Meskipun limbah kemasan pangan ini pada umumnya dapat didaur ulang (recycleable) dan dapat  digunakan kembali (reuseable), namun pada kenyataanya kapasitas system  daur ulang yang ada saat ini belum mampu  sepenuhnya menggarap volume limbah kemasan pangan yang begitu melimpah ini.

Dalam  rentang waktu 5 (lima) tahun terakhir, di Indonesia terjadi peningkatan jumlah terus menerus yang signifikan seiring bertambahnya volume jumlah produksi produk – produk pangan dalam kemasan yang terjual.

Dari data yang ada, dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir diperoleh data setidaknya terdapat 16,9 milyar limbah bungkus mie instan, 13,7 milyar limbah bungkus snack makanan ringan dan 1,5 milyar limbah bungkus permen atau kembang gula.

Angka yang tidak kalah spektakulernya juga ditemukan pada limbah Kemasan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Untuk kemasan volume 600 ml, dihasilkan limbah kemasan plastik sebanyak 18,9 milyar, sedangkan untuk kemasan volume 240 ml dihasilkan limbah sebanyak 56,3 milyar.

Jumlah ini adalah  yang terdapat  di Indonesia saja. Meskipun data tersebut tidak menunjukkan angka yang pasti, tetapi dapat  dibayangkan betapa banyaknya limbah kemasan pangan yang dihasilkan di dunia secara keseluruhan.

 

Respon Terhadap Limbah

            Harus diakui bahwa menghilangkan limbah kemasan pangan yang jumlahnya begitu besar dari seluruh muka bumi adalah hal yang tidak mungkin. Namun demikian, tidak bijak jika hanya berdiam diri dan  membiarkan limbah terus bertambah dan menumpuk. Dituntut adanya suatu solusi global yang tepat dan mendesak untuk mengelola aktivitas sosial dan ekonomi sehingga sanggup menghasilkan limbah seminim mungkin.

Tanpa pengelolaan yang bijak, keberadaan limbah menjadi tidak terkendali. Keadaan ini sudah pasti akan mengancam kehidupan masyarakat dunia, dan ancaman tersebut akan terus meningkat dan meluas serta  generasi di masa depan juga akan turut mengalami dampaknya.

Perlahan tapi pasti, masalah penanganan  limbah ini mulai menemukan solusi. Bertambahnya jumlah limbah kemasan  memicu tumbuhnya bisnis dan industri daur ulang limbah kemasan pangan,  terutama yang dari  material plastic,  baik yang dikoordinir maupun yang  independen, bahkan ada yang secara sukarela menerjuni berbagai tahapan usaha daur ulang (recycleable) dan penggunaan kembali (reuseable) limbah kemasan pangan ini, seperti pemulung, kelompok masyarakat/pengrajin, pengumpul (collector) limbah dan pendaur ulang komersial.

Di antara sekian banyak yang terlibat dalam kegiatan daur ulang limbah kemasan pangan ini, ada satu yang menarik, yaitu kelompok masyarakat yang didominasi  kaum  ibu dan remaja putri. Di sejumlah pemukiman, baik di perkotaan maupun  pedesaan, saat ini tumbuh subur usaha daur ulang dengan memanfaatkan dan mengubah  limbah  plastik kemasan pangan menjadi produk-produk inovatif yang memiliki kegunaan, seperti: tas, dompet, baju olahraga, sandal dan aneka kerajinan tangan berupa hiasan/souvenir.

Karena pada awalnya kegiatan ini ditujukan hanya sebagai kegiatan mengisi waktu luang bagi para ibu dan remaja putri, maka pada umumnya  kegiatan ini  bersifat kolektif dan tidak terlalu profit oriented. Oleh karena itu,  kualitas produk inovatif dari limbah kemasan pangan ini tergolong masih rendah, sangat sederhana dalam hal desain dan teknik produksinya, sehingga kurang mempunyai daya jual.

Melalui berbagai pelatihan, kualitas, desian dan teknik produksi  barang–barang yang dihasilkan semakin meningkat sehingga daya jualnya pun  makin tinggi.  Hal ini tentu menguntungkan kaum ibu dan remaja putri yang terlibat dalam kegiatan daur ulang tersebut karena mampu  menghasilkan income tambahan bagi keluarga mereka.

Sebenarnya dalam salah satu regulasi terbaru Bidang Lingkungan di Indonesia, yaitu Undang-Undang No. 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, pasal 14 berbunyi, Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya,  dan pasal 15 berbunyi,  Produsen wajib mengelola kemasan dan atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.     

            Jadi, secara tidak langsung kelompok masyarakat di atas telah  “mengambil alih tanggung jawab” daur ulang dan pembuangan limbah plastik yang seharusnya dilakukan oleh produsen/industri. Oleh sebab itu,  keterlibatan pihak  produsen/industri sangat diharapkan dalam menampung produk inovatif  hasil daur ulang limbah plastik dari komunitas/kelompok masyarakat (terutama kaum  ibu dan remaja putri), seperti:  tas, sandal, baju olahraga, dan dompet. Dalam hal ini, pihak produsen/industri dapat memesan untuk dibuatkan barang dari limbah kemasan produk yang dihasilkannya  dan menggunakannya sebagai cenderamata/souvenir atau marketing kit.

Seiring perkembangan jaman dan semakin maju serta terbukanya pola pikir masyarakat yang  berorientasi pada tumbuhnya kesadaran akan pentingnya  lingkungan yang ramah, sehat dan bersih, maka menjual produk-produk yang berkaitan dengan usaha pencegahan pencemaran lingkungan akibat limbah kemasan pangan ini, tentu  tidak terlalu sulit. Bahkan ada beberapa barang hasil daur ulang yang sudah dijadikan produk seni alternatiif yang dapat diekspor.

Selain itu, kegiatan promosi suatu  korporasi (produsen/industri) dengan menggunakan marketing kit/marketing tools dan atau membagikan cenderamata/souvenir berbahan limbah produk industrinya sendiri kepada tamu-tamu mereka,  bisa jadi  citra ramah  lingkungan dan tanggung jawab social (CSR) korporasi tersebut juga akan terangkat.

Dan pada akhirnya,  jika korporasi (produsen/industri) mampu berkolaborasi dengan baik dengan kelompok–kelompok/ komunitas pendaur ulang limbah kemasan plastik yang notabene adalah konsumen produknya sendiri, maka terbuka lebar   peluang lahirnya loyalitas konsumen  yang lebih kuat terhadap produk tersebut.