Visitor

 

Sosial Media

Home Pendapat DAMPAK KONFLIK RUSIA – UKRAINA UNTUK INDUSTRI GRAFIKA
19
May
2022
DAMPAK KONFLIK RUSIA – UKRAINA UNTUK INDUSTRI GRAFIKA

                       

Oleh : KikieNurcholik – VP1 Komunitas Printing Indonesia (KOPI)    

Dalam catatan kali ini, saya sedikit mengulas tentang efek global yang ditimbulkan oleh beberapa keadaan yang terjadi akhir akhir ini, kita semua (menurut saya) sebagai pegiat dan pelaku grafika bahkan sangat merasakan dampak langsung dari beberapa keadaan tersebut, Tidak hanya pasca banyaknya Container yang “tidak dapat pulang”, karena tertahan di terusan Suez, dimana seluruh perputaran raw material khususnya bahan baku chemicals, consumables (salah satunya untuk industri tinta dan percetakan) menjadi terhambat, demikian juga dengan masa masa Covid 19 dan Pasca Pandemi juga hampir memberikan kontribusi penurunan produksi  terhadap Industri Cetak dan penunjangnya, dan yang terakhir adalah Konflik Rusia dan Ukraina.....

Tak dapat dipungkiri,  dalam 2 bulan  terakhir ini konflik di ...

Ukraina, menyebabkan harga minyak global melonjak, banyak perusahaan asing telah keluar dari Rusia, Invasi Rusia ditengarai kian mengubrak-abrik ekonomi global. Bahkan negara negara kuat di Asia timur diminta untuk meningkatkan Tekanan Sanksi terhadap Rusia, lalu apa dampak global yang terjadi?

1. Komoditas Melambung,  Harga minyak dan gas telah melonjak akibat kekhawatiran pasokan, karena Rusia adalah salah satu produsen dan pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia. Sebagai contoh, Produsen minyak mentah Brent North Sea, menetapkan harga patokan internasional, sekitar USD 90 (Februari 2022), pada 7 Maret 2022, melonjak ke USD 139,13  mendekati level tertinggi pada 14 tahun terakhir dan harganyapun tetap sangat fluktuatif. Harga yang naik mendorong pemerintah negara-negara di dunia mengambil langkah-langkah untuk meringankan kesulitan keuangan bagi konsumen.  Mulai PPN yang lebih rendah di Swedia, batas harga di Hongaria, atau diskon di Perancis,

Komoditas lain yang diproduksi secara besar-besaran di Rusia telah melonjak, termasuk Nikel dan Aluminium.  Rantai pasokan industri otomotif juga menghadapi gangguan karena suku cadang utama berasal dari Ukraina.

2. Ancaman Krisis Pangan, Konflik kedua negara ini dapat bergema jauh di luar Ukraina, menyebabkan "badai kelaparan dan kehancuran sistem pangan global". Rusia dan Ukraina adalah lumbung pangan dunia, menyumbang 30% dari ekspor gandum global. Harga sereal dan minyak goreng telah meningkat. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan jumlah orang yang kekurangan gizi dapat meningkat 8 hingga 13 juta orang selama tahun ini dan tahun depan. Amerika Serikat, India dan Eropa dapat menutupi kekurangan gandum. Tapi bisa lebih rumit untuk menggantikan minyak bunga matahari dan jagung, yang masing-masing jadi barang eksportir nomor satu dan empat dunia di Ukraina.

3. Pasar Saham Terguncang, Perang telah membawa volatilitas ke pasar, sementara bursa saham Moskow ditutup selama tiga minggu dan hanya dibuka kembali sebagian pada hari Senin. Sanksi Barat telah melumpuhkan sektor perbankan dan sistem keuangan Rusia, sementara rubel telah runtuh. Langkah-langkah tersebut termasuk upaya untuk membekukan 300 miliar dollar AS cadangan mata uang asing Rusia yang disimpan di luar negeri. Rusia sekarang menghadapi risiko gagal bayar utang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Moskow bahkan dipaksa membayar bunga atas dua obligasi berdenominasi dolar,  kendati demikian beberapa informasi menyebut Rusia adalah Anggota G20 yang penting dan tak bisa diusir oleh negara lain.

4. Perusahaan “Melarikan Diri”,  Ratusan Perusahaan Barat telah menutup toko dan kantor di Rusia sejak perang dimulai. Ini karena sanksi, tekanan politik atau opini publik. Daftar tersebut mencakup nama-nama terkenal seperti Ikea, Coca-Cola dan McDonald's. Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengangkat ancaman nasionalisasi perusahaan milik asing, walau ada beberapa perusahaan telah memilih untuk tetap tinggal di Rusia, dengan alasan tanggung jawab sosial mereka untuk tidak meninggalkan karyawan lokal mereka.

5. Pertumbuhan Ekonomi Lebih Lambat,  Perang mengancam akan menjadi penghambat pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid. Banyak pihak telah memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat menimbulkan pukulan  pada pertumbuhan global. Dalam catatan saya IMF diperkirakan akan menurunkan perkiraan pertumbuhannya, yang saat ini berada di 4,4% untuk tahun 2022.

Maka kemudian kepada kita lah (sebagai  pegiat dan pelaku bisnis yang bergerak di Industri  grafika di Indonesia) semua ini akan berakibat, kenaikkan harga, kekurangan raw material, issue shortage global, begitu mendunia menggasak seluruh lini, tidak hanya naik harga bahkan kendala “tidak ada material” menjadi momok utama terhambatnya perputaran kegiatan Industri Printing dan Industri Penunjangnya, akibat dari konflik Rusia-Ukraina ini.

Akhirnya kita semua dihadapkan pada kenyataan untuk bagaimana menyikapi keadaan ini agar Dunia Grafika, Percetakan, Penerbitan dan Kemasan di Indonesia tetap eksis dan mampu menghadapi rintangan yang diakibatkan oleh situasi ini, Tidak hanya diperlukan kebijaksanaan menentukan pilihan, Namun lebih pada ...

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak&digital INDONESIA PRINT MEDIA edisi 106 Mei-Juni 2022.

Info : +62 811 808 282

 

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!