Visitor

 

Sosial Media

Home Pendapat Polemik Label Halal Baru … Dalam Cetak Kemasan
15
Jun
2022
Polemik Label Halal Baru … Dalam Cetak Kemasan

Beberapa waktu lalu, Kementerian Agama melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menetapkan label halal baru yang berlaku secara nasional menggantikan label halal yang diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Penetapan label halal tersebut dituangkan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal yang ditetapkan di Jakarta pada 10 Februari 2022, ditandatangani oleh Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dan berlaku efektif terhitung sejak 1 Maret 2022.

Filosofi Label Halal Indonesia

Kemenag melalui situs resminya menjelaskan jika Label Halal Indonesia secara filosofi mengadaptasi nilai-nilai ke-Indonesiaan. Bentuk dan corak yang digunakan merupakan artefak-artefak budaya yang memiliki ciri khas yang unik berkarakter kuat dan merepresentasikan Halal Indonesia.

"Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yaitu ...

bentuk Gunungan dan motif Surjan atau Lurik Gunungan pada wayang kulit yang berbentuk limas, lancip ke atas. Ini melambangkan kehidupan manusia," kata Aqil Irham mengilustrasikan.

"Bentuk gunungan itu tersusun sedemikian rupa berupa kaligrafi huruf arab yang terdiri atas huruf Ḥa, Lam Alif, dan Lam dalam satu rangkaian sehingga membentuk kata Halal," lanjutnya menerangkan.

Bentuk tersebut menggambarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, maka manusia harus semakin mengerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan, atau semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Sedangkan motif Surjan yang juga disebut pakaian takwa mengandung makna-makna filosofi yang cukup dalam. Di antaranya bagian leher baju surjan memiliki kancing 3 pasang (6 biji kancing) yang kesemuanya itu menggambarkan rukun iman. Selain itu motif surjan/lurik yang sejajar satu sama lain juga mengandung makna sebagai pembeda/pemberi batas yang jelas.

Label Halal Indonesia menggunakan ungu sebagai warna utama label dan hijau toska sebagai warna sekundernya. Warna ungu merepresentasikan makna keimanan, kesatuan lahir batin, dan daya imajinasi. Sedangkan warna Hijau Toska, mewakili makna kebijaksanaan, stabilitas, dan ketenangan.

Komponen dan Kode Warna Label Halal

Label Halal Indonesia baru ini terdiri dari dua komponen: Logogram dan Logotype. Logogram berupa bentuk gunungan dan motif surjan. Sedang Logotype berupa tulisan Halal Indonesia yang berada di bawah bentuk gunungan dan motif surjan. Dalam pengaplikasiannya, kedua komponen label ini tidak boleh dipisah.

Secara detil, warna ungu Label Halal Indonesia memiliki Kode Warna #670075 Pantone 2612C. Sedangkan warna sekunder hijau toska memiliki Kode Warna #3DC3A3 Pantone 15-5718 TPX.

Label Baru Menuai Polemik

Kehadiran label halal baru ini menuai polemik di masyarakat. Mulai anggapan bahwa label baru tersebut terlalu bersifat kedaerahan atau jawa sentris karena bentuknya yang menyerupai gunungan, hingga polemik soal tulisan arab halal yang sulit terbaca. Kemudian bagaimana visualisasi label atau logo halal baru ini dimata desainer logo?

Logo adalah wajah dari sebuah brand atau representasi dari konsep yang hendak diwakili lewat simbol visual.

Logo setidaknya perlu memenuhi kriteria :

1. Merepresentasikan brand/produk/konsep yang diwakili dan tidak menimbulkan misinterpretasi

2. Sederhana, agar mudah dikenali dan diingat

3. Unik, atau memiliki distingsi (pembeda) dengan logo lainnya

4. Mudah digunakan atau ditempatkan di berbagai media tanpa menghilangkan bentuk aslinya

Menurut salah seorang desainer logo, Andi Syahrir, seperti dilansir dari populis.id, melontarkan kritiknya bahwa tulisan halal yang dirangkai menyerupai gunungan tersebut tidak terlihat dengan jelas. Dia meyakini bahwa masyarakat awam tidak langsung bisa menangkap tulisan tersebut.

Namun, Andi berpendapat bahwa logo baru halal ini sudah termasuk modern, simple. Logo sederhana seperti ini memang banyak diminati berbagai perusahaan ternama. Tetapi, biasanya perusahaan yang meredesign logonya tidak merubah total terutama warnanya.

Senada dengan Andi, menurut Husain Assadi – CEO Disainku Communication di laman Facebooknya menuliskan jika logo halal Kemenag RI, secara visual termasuk dalam Kategori Word Mark (logo dengan elemen kata) Halal dalam font Arab. Dengan konstruksi Pictorial Mark (logo dengan elemen symbol) bentuk gunungan yang biasa ada di wayang kulit, dalam penjelasan Kemenag, visual ini juga mengesankan Motif Surjan.

“Untuk kriteria kesederhanaan, unik dan mudah ditempatkan, logo ini saya kira bisa diterima. Sederhana secara visual, unik, mudah ditempatkan, bahkan di awal peluncurannya sudah mengundang diskursus yang hangat. Justru kriteria pertama tentang representasi atas visual logo yang perlu dilihat lebih dalam. Representasi menurut saya adalah hal yang esensial dalam sebuah desain logo,”tulisnya.

Pictorial Mark yang dipilih mengesankan gambar gunungan ala wayang kulit. Hal ini juga memberikan kesan keterwakilan ‘Jawa’ yang lebih kuat. Beberapa Tweet tentang kesan ini bertebaran di Jagat Twitter. Menurut keterangan Kemenag, logo ini ingin bertujuan mengakomodasi konsep ‘keindonesiaan’ tetapi pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah gunungan wayang dan surjan merepresentasikan itu?

Sementara, Logo Designer lainnya, Yoga Iman melalui akun Instagramnya @made.by.yoga menuliskan jika logo harus mudah dibaca dan dipahami. Yoga juga menyoroti soal warna logo, menurutnya warna utama logo sebelumnya jangan dihilangkan, karena orang-orang sudah terbiasa dengan warna hijau tersebut.

Namun, Yoga mengapresiasi konsep dan filosofi logo halal baru tersebut. Selain itu, penggunaan font utama HALAL yang menggunakan font Rodfat Two by Rizki Permana dan tagline Indonesia yang menggunakan font Artegra Sans SC Black by Artegra dinilainya sebagai pemilihan logotype yang tepat, lebih tegas dan lebih modern.

Kode Warna Label Halal Baru

Permasalahan di Cetak Kemasan

Tidak hanya dikalangan desainer logo, label halal baru dari Kemenag ini juga menjadi pembicaraan khusus dikalangan praktisi percetakan, khususnya percetakan kemasan. Hal ini tentunya didorong karena belum adanya petunjuk teknis mengenai penggunaan logo halal pada kemasan.

Wisnu Wibowo, seorang praktisi percetakan kemasan dari Komunitas Printing Indonesia (KOPI Grafika) ketika dihubungi melalui pesan singkat menerangkan bahwa sampai saat ini belum ada petunjuk teknis penggunaan logo halal pada kemasan dari pihak BPJPH.

Belum adanya petunjuk teknis secara resmi ini pula cukup mempengaruhi proses cetak dikemasan. Salah satunya dari sisi penerapan desain. Pada logo halal lama versi MUI, ada ketentuan jika background desain berlatar gelap, logo diperkenankan menggunakan warna putih. Karena memang pada petunjuk penggunaan logo halal versi MUI mengatur pada point 5 yaitu  Pelaku usaha dapat merubah warna hijau pada logo tetapi tidak diperbolehkan untuk merubah bentuk logo halal.

Sementara pada logo halal yang baru dirilis oleh Kemenag, sudah menetapkan jika warna utamanya adalah ungu dan warna sekundernya adalah hijau toska, tidak ada atau belum ada keterangan tambahan bahwa jika logo tidak terlihat dapat ditambah stroke atau garis tepi berwarna putih. Jadi dapat dibayangkan ketika background desain berlatar warna gelap atau memiliki desain yang rame/penuh kemudian dibubuhi logo berwarna ungu, maka logo halal akan menjadi tidak terlihat.

Lebih lanjut, Wisnu mengungkapkan bahwa warna ungu pada label halal baru ini merupakan ‘special color’, warna-warna yang jarang digunakan pada kemasan, tentunya akan menambah cost bagi pengusaha. Karena hal ini akan membutuhkan cylinder maupun warna tambahan.

Permasalahan berikutnya adalah konsistensi warna. Karena warna ungu tersebut merupakan ‘special color’ yang mungkin menggunakan 3 – 4 campuran warna CMYK, warna yang dihasilkan bisa berbeda-beda antara percetakan kemasan satu dan lainnya. Bisa ada yang warnanya lebih muda, ada yang lebih tua dan sebagainya. Belum lagi permasalahan pada mesin cetak yang memiliki unit warna terbatas.

Permasalahan-permasalahan tersebut mungkin tidak akan ditemui dalam pencetakan digital, tetapi tentu akan menimbulkan cost yang besar bagi pengusaha jika mencetak kemasan produknya menggunakan digital. Karena untuk mencetak dalam jumlah yang cukup banyak tentu akan lebih terjangkau harganya jika menggunakan cetak offset, selain itu waktu yang dibutuhkan untuk mencetak juga lebih singkat.

Secara umum, jika ingin mencetak dengan jumlah sedikit, maka akan lebih ekonomis dan efisien jika menggunakan digital printing. Tetapi jika ingin mencetak dengan jumlah 1000 atau lebih, maka pilihan yang tepat tentu dengan menggunakan cetak offset.

Ilustrasi Penempatan Label Halal Baru Dalam Kemasan Mie Instan

 

Bams

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak&digital INDONESIA PRINT MEDIA edisi 106 Mei-Juni 2022.

Info : +62 811808282 (WA)

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!