Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini63
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini63
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31819
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327835
Kami Memiliki: 26 guests online

Home Pendapat PENGELOLAAN LIMBAH KEMASAN PANGAN - sebuah solusi alternatif
07
Dec
2012
PENGELOLAAN LIMBAH KEMASAN PANGAN - sebuah solusi alternatif

Oleh : ALFRED SATYAHADI

Corporate Development BPPI / IPDB dan
Wakil Ketua Bidang Eksternal KOPI
(Komunitas Printing Indonesia)

 

 

Pertumbuhan penjualan pangan dalam kemasan tentu saja merupakan informasi yang sangat menggembirakan bagi dunia industri dan perdagangan pangan di Indonesia. Namun ada fakta lain dari pertumbuhan penjualan ini yang juga layak, bahkan harus mendapatkan perhatian penuh, yaitu meningkatnya volume limbah pengemas pangan (food packaging waste). Apalagi yang berupa plastik dan laminasi. Limbah-limbah ini diantaranya berbentuk tas, kantong, film, sachet, pouch dan botol.

Dari segi material pembentuknya, limbah–limbah ini pada umumnya tidak dapat teruraikan secara biologis (non–biodegradable). Dan jika ada yang dapat terurai (biodegradable), proses penguraiannya membutuhkan waktu yang lama, terutama limbah-limbah kemasan pangan yang terbuat dari material plastik yang tergolong dalam POLYETHYLENE (PE), POLYPROPYLENE (PP), POLYVINYL CHLORIDA (PVC), HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE), dan POLYETHYLENE TEREPTHALATE (PET).

 Sepanjang daur hidupnya, sejak dari proses pembuatan, penggunaan atau pemakaian hingga pembuangan menjadi limbah, kemasan pangan memiliki dampak lingkungan yang tidak sedikit. Dampak keseluruhan (resultant impacts) pembuangan limbah kemasan pangan secara bebas ke lingkungan maupun penimbunan terpusat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah serta proses insenerasi akan menimbulkan pencemaran – meskipun dengan kondisi dan level status pencemaran yang berbeda–beda.

Jika limbah kemasan pangan dibuang begitu saja ke lingkungan tentu saja akan menimbulkan dampak yang sangat parah, bisa berupa pencemaran lahan, tanah, perairan dan bahkan pencemaran secara “Visual”. Dan Indonesia mengalami ketiga pencemaran tersebut. Secara gamblang, kita dapat  melihat limbah kemasan pangan di selokan–selokan, kali-kali dan sungai–sungai di sekeliling kita. Di pantai–pantai bahkan di tengah laut pun dengan mudah kita dapat  menemukan limbah kemasan pangan yang terapung–apung.

Limbah kemasan pangan juga bertebaran di lahan–lahan kosong, lahan-lahan pertanian dan perkebunan, baik di perkotaan maupun pedesaan. Kondisi di perkotaan jauh lebih parah karena limbah–limbah kemasan pangan itu menghambat aliran sungai dan  menyumbat saluran–saluran pintu air sehingga dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir.

Meskipun limbah–limbah kemasan pangan ini pada umumnya dapat didaur ulang (recycleable) dan digunakan kembali (reuseable), namun pada kenyataannya kapasitas sistem daur ulang yang ada saat ini tidak bisa sepenuhnya menggarap volume limbah yang begitu melimpah ini.

Selama rentang waktu 5–7 tahun terakhir, di Indonesia terjadi peningkatan limbah kemasan secara  terus menerus dan  signifikan seiring pertumbuhan  volume produk pangan dalam kemasan yang terjual. Dari data yang ada, dalam kurun waktu 5–7 tahun terakhir setidaknya  terdapat 16,8 milyar limbah bungkus mie instan; 13, 6 milyar limbah bungkus snack dan 1,4 milyar limbah bungkus permen atau kembang gula. Angka yang tidak kalah spektakulernya juga ditemukan pada limbah kemasan plastik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Untuk kemasan plastik AMDK dengan  volume 600 ml menghasilkan limbah sebanyak 18,9 milyar, sedangkan untuk kemasan volume 250 ml menghasilkan limbah sebanyak 56 milyar. Dan ini baru di Indonesia saja. Angka-angka tersebut memang bukan menunjukkan  data yang pasti, tapi bisa dibayangkan betapa banyaknya limbah kemasan pangan ini.

Jumlah limbah kemasan yang begitu besar ini memicu tumbuhnya bisnis dan industri daur ulang limbah plastik,  baik yang dikoordinir maupun independen.  Bahkan, ada yang secara sukarela menerjuni berbagai tahapan usaha daur ulang (recycleable) dan penggunaan kembali (reuseable) limbah kemasan ini, seperti pemulung, kelompok masyarakat/pengrajin, pengumpul (collector) limbah dan pendaur ulang komersial.

Di antara sekian banyak yang terlibat dalam kegiatan daur ulang limbah kemasan ini, ada satu yang menarik, yaitu...

selengkapnya di Majalah Grafika Indonesia Print Media Edisi 49 November - Desember 2012

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!