Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini65
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini65
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31821
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327837
Kami Memiliki: 28 guests online

Home Pendapat 5 AKAL SEHAT YANG TIDAK SEHAT
25
Jan
2013
5 AKAL SEHAT YANG TIDAK SEHAT

Akal sehat  (common sense) adalah kumpulan  prasangka  yang diperoleh  pada usia 18 tahun. Bisa juga merupakan hasil kombinasi cerapan  dan kekeliruan  logika yang tertanam di pikiran  manusia dari generasi ke generasi. Beberapa pikiran tidak sehat –beberapa di antaranya kemungkinan anda punya -  bisa jadi merupakan penyebab segala yang salah di kehidupan kita sekarang. (Albert Einstein)

The Historian’s Fallacy

Ada bagian di otak kita yang menolak memposisikan diri kita sendiri dalam situasi orang lain. Kita adalah penonton yang berteriak-teriak  kesal bahkan mengejek  saat  Lionel Messi gagal menuntaskan tendangan penalti. Seolah-olah kita yakin jika diposisikan dalam situasi yang sama, kita  akan mengambil tindakan yang benar.

Begitu momen kesalahan orang lain muncul, kita mengatakan pada diri sendiri bagaimana bodohnya orang lain. Masalah sesungguhnya  adalah ketika  reaksi anda geleng-geleng kepala,tertawa, dan menyebut  orang lain tidak punya otak. Kita tidak belajar dari kesalahan  apa yang terjadi.

Pada skala yang lebih besar, George Santanaya yang terkenal dengan peringatannya,  “those who cannot remember  the past are condemned to repeat it” dan generasi setelahnya menghabiskan waktu seabad terakhir mengabaikannya. Bukannya kita melupakan masa lalu, hanya di masa sekarang kita memandang kesalahan orang lain  karena kebodohannya.

Kita tidak menyadari  jika kita ada dalam kondisi, situasi dan pengetahuan yang sama persis seperti  Soekarno pada tahun 1965, kita akan tetap keluar dari PBB dan melanjutkan  konfrontasi dengan Malaysia. Jika kita ada dalam situasi Sylvester Stallone di tahun 1985, kita juga akan membuat film Over The Top dan menikahi Brigitte Nielsen. Learn the mistakes and make a better life out of them.

The Nirvana  Fallacy

Nirvana Fallacy adalah keadaan di mana anda menolak  apapun di dunia nyata  karena membandingkannya  dengan alternative sempurna, cenderung tidak realistis. Seharusnya tidak menjadi  masalah, kecuali  saat keadaan ini menghalangi kita untuk menyelesaikan  apapun.

Sebagai contoh, banyak sebab yang mengakibatkan  penundaan – begadang sampai pagi malam sebelumnya, merasa kehilangan inspirasi – tapi satu penyebab paling umum  kita menunda menyelesaikan suatu pekerjaan adalah karena adanya ketakutan akan hasil akhir tidak  seperti bayangan  “sempurna” di benak kita. Coba lihat berapa banyak orang yang mengaku sebagai penulis buku misalnya, tetapi pada kenyataannya  tidak pernah menulis karena mereka  menunggu the right idea jatuh dari langit.  Daripada memulai langkah  awal mewujudkan  impiannya, orang-orang ini  cenderung statis menunggu waktu yang tepat, pekerjaan  ideal, pasangan idaman ataupun teman sejati.

Jika anda termasuk orang yang percaya diri, jangan khawatir banyak orang di sekeliling anda menanamkan  pola piker ragu  dan menunggu di benak anda. Sedikit kemajuan yang anda alami  akan menjadi bahan  olok-olok dan dicap  sebagai bentuk hipokrit, karena sesuatu yang hasil akhirnya  tidak sempurna tidak layak untuk  dikerjakan. Mereka menganggap anda tidak mengerjakan apa-apa, just like them.

Politikus sering menggunakan  cara ini untuk menyerang  ide-ide yang  mereka tidak sukai.”Tentu, rencana  Partai A bisa menolong  jutaan keluarga  keluar dari kemiskinan. Tapi ada kelemahan  dari rencana  tersebut yang  bisa membuka celah  penyalahgunaan! Ganti sistemnya!”

Daya Tarik Probabilitas

Otak kita cenderung bodoh jika sudah  masuk ke dalam perhitungan probabilitas. Hasilnya, kita semua mempnyai pikiran samar kalau sesuatu mungkin  dapat terjadi, maka itu akan terjadi. Dan otak kita dipenuhi oleh pikiran tersebut, sementara kita tidak sepenuhnya tahu apa sebenarnya  arti “mungkin”  itu sendiri.

Inilah alasan  mengapa ribuan lulusan sekolah menengah memaksakan diri memilih fakultas-fakultas favorit, atau ribuan remaja rela antre seharian untuk mengikuti ajang pencarian bakat, walaupun hanya sedikit tempat yang tersedia. Saat ada berita sebuah meteor akan menghantam bumi  100 juta tahun mendatang, orang-orang  dengan spontan menatap langit seolah  yakin kalau meteor akan menghantam bumi saat itu juga.

Daya tarik probabilitas  mungkin salah satu  metode paling banyak digunakan  untuk meyakinkan  orang lain memberikan  mereka uang. Industri perjudian dibangun sepenuhnya dengan metode ini. Setiap saat kita membeli tiket lotere atau mengirim  kupon undian, kita tunduk pada daya tarik probabilitas.

Special Pleading

Special pleadingadalah  keadaan ketika  kita membuat  sesuatu  sebagai..

Selengkapnya di Majalah Grafika  Indonesia Print Media Edisi 50 ( Januari - Februari 2013)

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!