Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini54
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini54
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31810
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327826
Kami Memiliki: 17 guests online

Home Pendapat MENJAJA KELILING CETAK KARTU NAMA
01
Feb
2013
MENJAJA KELILING CETAK KARTU NAMA

Mungkin anda sering atau pernah mendengar teriakan tukang jahit keliling yang menawarkan jasanya dengan  mengendarai sepeda. Di belakangnya tersedia berbagai  peralatan jahit seperti : mesin jahit, gunting, benang, jarum, dan kain. Tujuannya adalah untuk  memberitahukan keberadaannya kepada mereka yang hendak memanfaatkan jasanya untuk menjahit atau memvermak pakaian tanpa harus meninggalkan rumah.

Penulis berpikir, mengapa hal yang sama sampai saat ini tidak pernah dilakukan para pelaku bisnis kartu nama,  misalnya, dengan berteriak, "Cetak Kartu Nama ...! Cetak Kartu Nama...! Cetak Kartu Nama !" sambil membawa contoh barang, daftar harga, dan identitas diri.

Secara kultural, konsumen yang membutuhkan kartu nama akan mendatangi tempat jasa percetakan atau meminta bantuan orang lain untuk melakukan order cetak kartu nama. Jika tempat jasa percetakan itu dekat, tidak jadi masalah. Tetapi jika jauh, tentu akan memerlukan waktu untuk mencapainya. Belum lagi jika terjebak kemacetan di jalan yang dilalui.

Kondisi di atas bisa jadi peluang bagi pelaku usaha cetak kartu nama untuk melakukan promosi ala tukang jahit keliling. Mereka yang belum terpikir  untuk memiliki kartu nama, bisa saja jadi tertarik untuk membuatnya. Tinggal panggil saja, kemudian memesan pembuatan kartu nama  tanpa harus beranjak dari rumah serta tanpa harus direpotkan untuk  mencari atau bertanya ke sana kemari lagi mengenai tempat pembuatan kartu nama.

Promosi ini tidak harus dilakukan oleh pemilik percetakan. Dalam hal ini pemilik percetakan dapat  bermitra  dengan beberapa pelaku bisnis kartu nama. Mereka diminta untuk mencari order ala tukang jahit keliling. Untuk setiap order, mereka memperoleh komisi dengan prosentase tertentu.

Dengan promosi semacam itu,  orang dapat melakukan order pembuatan kartu nama  secepat/semudah membeli baso,  tahu goreng  atau nasi goreng. Andaikan kita sedang lapar dan menginginkan makanan ini, belum tentu kita mau berepot-repot  mencarinya di tempat yang jauh. Boleh jadi, kita  lebih memilih  mengisi perut dengan makanan  sejenis yang dijajakan berkeliling dan kebetulan lewat di depan rumah kita.

" Ada beberapa alasan, mengapa orang belum terpikir untuk  membuat  kartu nama meskipun dananya tersedia, di antaranya : malas mencari tempat pemesanannya, jauh dari rumah, atau tidak tahu tempat pemesanan jasa cetaknya ".

Mungkin banyak pelaku bisnis kartu nama yang tidak berani melakukan terobosan ini karena  tidak lazim dilakukan sehingga dianggap nyeleneh. Ini perlu dimaklumi. Memperbanyak kultural bukanlah pekerjaan mudah. Di sinilah peran berbagai pihak terkait lowongan pekerjaan untuk melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada mereka.

Dengan adanya kemauan untuk memasyarakatkan pola mencari nafkah seperti itu, diharapkan bisa menekan jumlah pengangguran di tanah air ini.

Bagi yang ingin mencari nafkah tambahan, silakan berteriak  "Cetak Kartu Nama ...! Cetak Kartu Nama...! Cetak Kartu Nama !" dari lorong ke lorong, berjalan atau bersepeda.

Jika order mulai didapat, usahakanlah untuk menepati janji mengenai waktu penyelesaian pesanan ini. Jadi,  pandai-pandailah memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan pesanan tersebut.  Hal ini dapat dibicarakan dengan pemilik percetakan.

Pelayanan yang  memuaskan akan menciptakan iklan berantai, dari mulut ke mulut. Konsumen yang merasa puas dengan layanan jasa cetak kita akan menceritakannya kepada kerabat  famili, dan  tetangga serta  memberitahukan nama sales beserta alamat dan nomor teleponnya.

Selain menawarkan jasa pembuatan kartu nama, sales  juga dapat melakukan atau mempersiapkan berbagai  penjelasan tentang manfaat kartu nama. Hal ini  perlu dilakukan karena pemahaman masyarakat kita pada umumnya, termasuk di kalangan pedagang yang omsetnya  sangat besar per hari, masih sangat minim akan manfaat kartu nama.  Siapa tahu, ada di antara mereka yang sebelumnya cuek menjadi tertarik untuk membuat kartu nama dengan  harapan akan semakin melancarkan usahanya.

Penulis pernah mengajukan gagasan ini. Eh, malah ditertawakan, karena dianggap tidak lazim. Padahal apa yang kini dianggap lazim dalam urusan percetakan pada awalnya merupakan tindakan ada-ada saja menurut ukuran masyarakat saat  tindakan itu pertama kali dilakukan/ditawarkan.

Sebagai contoh, hingga tahun 1990 kartu nama hanya berisi teks nama, alamat dan nomor kontak. Beberapa tahun lalu, penulis pernah mengusulkan di salah satu tempat layanan jasa cetak kartu nama, untuk  memasang  pas foto ukuran  2 x 3. Dengan enteng, pelayannya menjawab, “Itu tidak lazim”.  Saat itu penggunaan pas foto di kartu nama  memang belum lazim. Tugas penyedia jasa layanan cetaklah untuk membuatnya menjadi  lazim. Jadi, penyedia jasa layanan cetak harus memiliki kreativitas tak terbatas dan melampaui kelaziman pada zamannya. Dengan demikian, perusahaannya akan selalu menjadi pioneer dan produk cetak yang  ditawarkan selalu up to date. Lihat saja sekarang, penggunaan pas foto pada kartu nama sudah menjadi sesuatu yang lazim di masyarakat kita.

Kembali ke pokok permasalahan. Meskipun kartu nama sudah sangat populer, tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang dengan sadar membuat, memiliki dan memanfaatkannya dengan baik dan benar. Terlebih  masyarakat di pedesaan / pedalaman. Realitas ini hendaknya dijadikan momentum bagi pemilik percetakan untuk melebarkan sayap dengan strategi “menjemput bola”, yaitu dengan merekrut beberapa pelaku bisnis kartu nama sebagai mitra. Saat ini, di mana persaingan usaha begitu ketat, menjalankan usaha hanya dengan mengandalkan strategi “menerima  bola” sudah tidak lazim. Itu pun kalau kita tidak mau tertinggal jauh dari pesaing usaha kita.

(Nasrullah Idris/Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi).

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!