Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini75
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini75
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31831
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327847
Kami Memiliki: 37 guests online

Home Pendapat Desain Sampul Buku BSE Versi Cetak Perlu Diperbaiki
03
Apr
2013
Desain Sampul Buku BSE Versi Cetak Perlu Diperbaiki

Oleh : Drs. G. Aris Buntarman

Berapa jumlah judul buku baru yang diterbitkan di Indonesia per tahun? Di berbagai pidato atau pernyataan , biasanya disebut jumlah dua puluh ribu tanpa menyebutkan sumbernya. Tak pernah ada katalog atau daftar buku. Penerbit buku yang secara teratur mengeluarkan katalog pun hanya ada satu-dua. Di AS , daftar buku baru per tahun disajikan di buku Books in Print yang diterbitkan oleh R.R. Bowker. Ini sering diiklankan di majalah Publishers Weekly. Isinya hanya daftar buku saja disertai keterangan nama penerbitnya, nomor ISBN, nama penulis, dan harga buku. Nomor ISBN pasti disebutkan karena nomor itu digunakan sebagai basis pencatatan transaksi bisnis buku di seluruh dunia. Bukan menggunakan nomor kode internal penerbit seperti di Indonesia.

Daftar buku dengan model seperti yang disajikan oleh Books In Print seperti itu tidak ada di Indonesia. Apalagi disertai dengan data nomor ISBN-nya. Padahal , data ini sangat berguna bagi instansi mana pun yang ingin memesan dan mencari buku, terutama perpustakaan sekolah yang sekarang ini mulai mendapatkan  kucuran dana BOS dan DAK  dari negara.  IKAPI DKI Jakarta sudah merintis penyediaan data seperti itu, namun  baru diikuti oleh beberapa penerbit saja,  dan itu pun belum ada data nomor ISBN. Hanya ada satu-dua penerbit yang sudah sadar bersedia mencantumkan data ISBN. Maka, saya  mengusulkan kepada pengurus agar IKAPI DKI Jakarta  agar menerbitkan  Daftar Buku terbitan para anggotanya dengan menyajikan data lengkap termasuk  pencantuman nomor ISBN. Syarat ini juga berguna untuk mengingatkan para penerbit yang sampai saat ini belum mempunyai nomor ISBN pada buku-buku yang diterbitkan.  Nomor kode itu penting dan berguna bagi siapa pun yang terlibat dalam bisnis buku di Lini Industri Buku sedunia. ISBN sudah diperkenalkan kepada dunia empat puluh lima tahun lalu. Sangat janggal kalau sampai saat ini para penerbit buku kita tidak memahami kegunaannya.

Apabila semua pengurus IKAPI DAERAH di seluruh Indonesia mau membuat daftar buku dengan model seperti itu secara teratur setiap tahun dan kemudian disatukan  dalam satu buku oleh IKAPI Pusat,  maka nakan tersajilah daftar buku nasional walau ini masih ada kekuarangannya.  Masih banyak buku yang diterbitkan oleh para penerbit buku yang belum menjadi anggota IKAPI.

Usulan saya diterima oleh pengurus IKAPI DKI Jakarta. Maka saya berniat membuat contoh model paparannya seperti yang saya lihat dari katalog dan daftar buku penerbit luar negeri.

Saya memulai dengan membuat tabel sederhana, yang isinya adalah  nama penerbit dan alamatnya, nomor urut, nomor ISBN, judul buku, penulis, klasifikasi buku, format, dan harga buku  ( walau nanti perlu ada catatan bahwa harga buku dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya ).

Kebetulan, saya masih dimintai bantuan untuk mempromosikan  buku BSE versi cetak yang dulu pernah didistribusikan oleh Pusat Buku Indonesia ( PBI ) yang berkantor di Kelapa Gading Jakarta. Saya membuat  tabel dengan kolom : Nomor urut, Nomor ISBN, Judul buku, penulis, spesifikasi dan format, jumlah halaman, dan  harga buku.  Apabila tabel ini selesai, tinggal memberikan keterangan tentang jenis dan ukuran font  guna menciptakan keseragaman. Kepada para penerbit yang akan menyerahkan data daftar bukunya ke IKAPI DKI  Jakarta  dengan pola yang seragam. Ini akan mempercepat proses pembuatan Daftar Buku  dari seluruh penerbit.

Baru beberapa menit saya memulai memasukkan data buku versi cetak BSE, saya merasakan begitu lambat prosesnya bahkan mulai  muncul rasa jengkel karena buku versi cetak  yang penerbitnya adalah  Instansi Pemerintah , yang kemudian digandakan oleh percetakan swasta,  ini menampilkan kesalahan elementer  antara lain :

1.       Teks  di sampul belakang  sulit dibaca ( termasuk data harga buku ) . Ukuran font sangat kecil dan dengan  komposisi warna yang salah. Misalnya, teks hitam di atas warna biru. Atau, teks diapositif.

2.       Ada beberapa buku masih menggunakan ISBN 10 digit. Ketinggalan jaman.

3.       Banyak buku menyajikan dua data ISBN  yang membingungkan.

4.    Di sampul buku bagian belakang tidak ada barcode EAN 13 Bookland. Ini menimbulkan kekacauan  dan menyulitkan administrasi di toko buku, distributor. Bayangkan kalau ada beberapa percetakan yang menggandakan judul nbuku yang sama  dan mereka bersama-sama memasok buku itu ke distributor dan toko buku. Ini pernah dialami oleh Pusat Buku Indonesia.

Mustinya, sebagai penerbit buku, kesalahan elementer itu tidak boleh  terjadi. Penerbit buku harus tahu bagaimana...

Selengkapnya di Majalah Grafika  Indonesia Print Media Edisi 51 ( Maret - April  2013)

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!