Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini79
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini79
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31835
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327851
Kami Memiliki: 41 guests online

Home Pendapat ANIMO MASYARAKAT MENUNTUT PENDIDIKAN DI BIDANG GRAFIKA MENURUN ???
04
Nov
2014
ANIMO MASYARAKAT MENUNTUT PENDIDIKAN DI BIDANG GRAFIKA MENURUN ???

Pemahaman masyarakat terhadap istilah  “ Grafika “  sampai saat ini masih tanda tanya besar, ditambah dengan  adanya berbagai pendapat  yang memandang  kegiatan percetakan dalam arti yang sempit. Padahal apabila ditelaah,  grafika didalam kamus besar bahasa Indonesia dan Leksikon Grafika yang diterbitkan oleh Pusat Grafika Indonesia, sertakamus-kamus dari manca negara,mengandung pengertian  suatu proses panjang yang diawali dari seseorang/kelompok yang mempunyai ide/gagasan maupun buah pikiran yang ingin dikeluarkan/diinformasikan kepada masyarkat luas.

Tentunya untuk dapat menginformasikan ide/gagasan maupun buah pikirannya itu harus dituangkan/diwujudkan dalam bentuk tulisan/gambar atau bentuk lain yang diperbanyak/digandakan agar bisa dipahami oleh khalayak/masyarakat luas. Untuk mencapai tujuan itu,diperlukan kegiatan-kegiatan merencanakan, mengevaluasi, menjadwalkan berbagai kegiatan untuk memperbanyak gagasan sedemikian rupa sehingga gagasan/buah fikiran  dapat diterima masyarakat sebagai suatu hal yang bermanfaat. Secara sederhana kegiatan-kegiatan  diatas dapat divisualisasikan,

Masalah awal yang muncul dalam mengawali kegiatan memperbanyak naskah adalah : dalam nenentukan bentuk penyajiannya, seberapa besarnya bentuk dan ukurannya, berapa banyak harus diperbanyak, seberapa luas dan kearah mana penyebarannya, berapa waktu yang diperlukan untuk memperbanyak, kemana harus mendistribusikan, sehingga akan dapat mencapai sasaran terhadap masyarakat penerima sarana komunikasi tersebut.

Betapa luas ruang lingkup dan cakupan dari kegiatan kegrafikaan yang tercermin pada ilustrasi diatas, yang bagi masyarakat awam menilainya sebagai suatu yang sederhana dan tidak bermakna. Padahal apabila ditelaah lebih mendalam kegiatan kegrafikaan tidak saja pada kegiatan yang langsung terhadap kegiatan teknisnya, tetapi justru kegiatan diluar teknis kegrafikaan ini menjadi sangat luas, misalnya : pabrik-pabrik pembuat bahan dan sarana produksi, agen penyedia bahan, alat dan sarana produksi, bahkan tidak jarang para perantara/agen yang menggantungkan hidupnya pada menunjang kegiatan orang lain (sebagai perantara atau calo yang mendapatkan prosentase dari kegiatan itu).  

ILUSTRASI PENDIDIKAN GRAFIKA     

Negara kita adalah negara yang sangat luas terbentang dari barat ke timur dan berpenduduk mendekati angka seperempat milyard. Kemudian dari ilustrasi diatas tergambar bahwa semua orang (tidak melihat usia, tingkat pendidikan, domisili, status sosial ekonomi, dll) memerlukan barang cetakan sebagai hasil karya insan grafika. Bahkan ada peribahasa bahwa barang cetakan diperlukan orang mulai dia belum dilahirkan (masih didalam kandungan ibunya) sampai orang itu meninggal dunia. Peribahasa ini meng-gambarkan kepada kita betapa pentingnya barang cetakan dalam menunjang kehidupan manusia, masyarakat bahkan negara. Sehingga dapat dibayangkan berapa banyaknya barang cetakan yang diperlukan, disediakan, diproduksi oleh orang-orang grafika untuk mencukupi keperluan masyarakat kita. Kemudian apabila dikaitkan dengan pendidikan grafika yang ada ditanah air kita, yang jelas belum semua propinsi yang jumlahnya 34 propinsi memiliki sekolah grafika pada tingkatan apapun juga. Kemudian propinsi yang sudah ada sekolah grafika masih terbatas pada sekolah menengah kejuruan. Sedangkan pada tingkat akademi/politeknik yang menghasilkan sarjana muda/ahli madya masih terbatas di Jakarta, yang nota bene dua perguruan tinggi swasta yang memiliki jurusan grafika jumlah mahasiswa/peminat amat sangat sedikit  yang kadang-kadang menurut ketentuan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/ Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi/Koordinator Perguruan Tinggi Swasta jumlah peminat yang sangat minim (yang berakibat pada dana yang terkumpul tidak akan mencukupi untuk membiayai pelaksanaan tridharma perguruan tinggi akibat jumlah mahasiswa sangat minimal) maka sebaiknya ditutup dan tidak melanjutkan pendidikan grafika lagi.

Kemudian berpaling pada perguruan tinggi milik pemerintah setingkat politeknik (ada dua Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Media Kreatif) keduanya memiliki program studi teknik grafika, jumlah peminat yang benar-benar ingin memilih program ini juga sangat terbatas. Kedua politeknik negeri ini sampai saat ini masih tetap membuka program studi teknik grafika karena masih ada subsidi/bantuan dari pemerintah untuk pelaksanaan tridharma nya.

 

BAGAIMANA LEMBAGA PENDIDIKAN MENENGAHNYA ?

Sementara ini lembaga pendidikan grafika di tanah air masih didominasi oleh tingkat pendidikan menengah (Sekolah Menengah Kejuruan Grafika), bahkan dengan adanya otonomi daerah, setiap daerah memiliki potensi dan kesempatan untuk membuka pendidikan grafika menengah ini atau menambah program pendidikan didalam lembaga pendidikan kejuruan umum yang ada dengan peminatan/jurusan grafika. Dari data dan informasi yang ada, mengawali abad ke 21 ini, banyak bermunculan pendidikan grafika/SMK Grafika dengan segala bentuk dan variasinya, yang tentunya akan segera disusul oleh daerah lain,  sehingga jumlah sementara lembaga pendidikan grafika sbb :

            NO.      NAMA SEKOLAH                                                                      WILAYAH

1.         SMK Grafika Darul Amal, Yayasan Grafika, Banten                     Banten

2.         SMK Grafika Negeri Ciruwas                                                      Banten

3.         SMK Grafika Negeri 7, Rawamangun                                          Jakarta

4.         SMK Grafika Desa Putra, Srengseng                                          Jakarta

5.         SMK Grafika Yayasan Lektur, Lebak Bulus                                 Jakarta

6.         SMK Grafika Kahuripan, Pasar Minggu                                       Jakarta

7.         SMK Grafika  Mardiyuana, Bogor                                               Jawa Barat

8.         SMK Grafika Negeri 1, Kuningan                                                Jawa Barat

9.         SMK Grafika Ekonomika, Depok                                               Jawa Barat

10.        SMK Grafika Yayasan Gotong Royong                                      D.I Yogyakarta

11.        SMK Grafika  Negeri 11, Semarang                                            Jawa Tengah

12.        SMK Grafika Bakti Nusantara, Semarang                                    Jawa Tengah

13.        SMK Grafika Bina Praja, Sukoharjo                                            Jawa Tengah

14.        SMK Grafika Raden Umar Said, Kudus                                       Kudus, Jawa Tengah

15.        SMK Grafika Negeri 4, Malang                                                   Jawa Timur

16.        SMK Grafika PGRI, Malang                                                        Jawa Timur

17.        SMK Grafika Negeri 1                                                                Jambi

18.        SMK Grafika Negeri 3, Banda Aceh                                            Nangro Aceh Darusalam

19.        SMK Grafika Bina Grafika, Medan                                              Sumatera Utara

20.        SMK Grafika Negeri 2 – Palembang                                           Sumatera Selatan

21.        SMK Grafika Negeri 1 Palangga, Makasar                                  Sulawesi Selatan

22.        SMK Grafika Negeri 1 - Batam                                                   Kepulauan Riau

Dari jumlah lembaga pendidikan SMK Grafika diatas, dan mungkin akan terus bertambah seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, namun apabila dibandingkan dengan jumlah perusahaan grafika dan penerbitan yang ada saat ini apalagi bila dikaitkan dengan kebutuhan akan jenis dan jumlah barang cetakan, maka jumlah pendidikan grafika itu masih sangat kurang. Sebagai ilustrasi, apabila jumlah perusahaan percetakan dan penerbitan  (kurang lebih 7.000 an) dalam satu tahun akan menambah satu orang tenaga  teknis grafika, maka akan diperlukan tenaga kerja sebanyak 7000 orang/tahun. Angka itu  belum mempertimbangkan perusahaan yang berkembang, atau karyawan yang pensiun. Kemudian didalam bidang grafika ini terdapat beberapa keahlian khusus yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang lulusan SMK sendiri, sehingga kecenderungan penambahan jumlah tenaga trampil sesuai  dengan bidang keahliannya sangat dimungkinkan.

Mampukah lembaga pendidikan grafika yang ada ini menyediakan hasil lulusannya untuk mengisi lowongan kerja tersebut ? Mampukah dari setiap SMK Grafika setiap tahun menghasilkan 400 lulusan yang siap berkarya ? Kenyataannya dari segi jumlah lulusan saja terlihat belum mampu mencukupi kebutuhan, bagaimana dari segi kualitas/mutu lulusan ??

Berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi lembaga pendidikan grafika di tanah air kurang berkembang baik termasuk animo masuk dan mendalami pendidikan grafika dibanding dengan lembaga pendidikan keteknikan, faktor-faktor tersebut meliputi :

Dari sisi kalangan keluarga ....

Selengkapnya di Majalah Grafika Indonesia Print Media Edisi 60 September - Oktober 2014

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!