Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini89
mod_vvisit_counterKemarin779
mod_vvisit_counterMinggu ini89
mod_vvisit_counterMinggu lalu9322
mod_vvisit_counterBulan ini31845
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1327861
Kami Memiliki: 51 guests online

Home Pendapat 5 STATEGI PENYELAMATAN PERCETAKAN KORAN
30
Mar
2016
5 STATEGI PENYELAMATAN PERCETAKAN KORAN E-mail
Written by Administrator   

 

5 STATEGI

PENYELAMATAN PERCETAKAN KORAN

Dengan kondisi perekonomian yang masih belum stabil, gelombang reformasi yang belum menampakkan hasil signifikan, perkembangan teknologi terutama IT yang sangat pesat, tampak adanya gejala yang kurang sehat yaitu persaingan bisnis (termasuk didalamnya persaingan bisnis penerbitan media (Koran) yang mempunyai kaitan erat dengan industri jasa cetak, yang jumlahnya kurang lebih ratusan perusahaan di Indonesia. 

Ramalan koran dan radio akan mati, muncul sejak siaran televisi masuk rumah. Prediksi koran, radio dan televisi akan mati, dibuat ketika internet lahir. Tapi toh nyatanya sampai awal 2000-an tidak ada satupun dari media di atas yang tutup karena jadi korban disrupsi teknologi.

Sehingga saat itu muncul pendapat: kehadiran medium baru di bisnis media tidak akan membunuh medium yang telah ada sebelumnya. Pendapat ini begitu populer dan diyakini hampir seluruh perusahaan koran di dunia, termasuk Indonesia. Pada Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Denpasar 2010 lalu, seorang konsultan media yang diundang penyelenggara dengan yakin mempresentasikan bahwa kue iklan koran akan selalu naik. Tak ada tanda-tanda kematian. Long live newspaper, deh pokoknya! Seratus lebih bos media dari seluruh Indonesia di hadapannya bertepuk tangan. Awalnya, koran santai saja dengan hadirnya 'kompetitor baru' penyedia konten digital (content provider) di masa awal internet seperti Yahoo! atau Detikcom. Toh perbedaannya hanya soal medium: yang satu di kertas, satu lagi di layar. Cara kerja editorialnya tak jauh-jauh amat, sama-sama content delivery.

Ketika berita online tayang lebih cepat, koran bergeming dengan pendapat bahwa konten mereka lebih lengkap, lebih dalam, lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih dibutuhkan pembaca. Tanda-tanda kematian itu memang belum tampak. Sampai Web 2.0 lahir. Istilah Web 2.0 pertamakali diperkenalkan oleh O'Reilly Media tahun 2003 merujuk pada perkembangan teknologi web satu arah menjadi multiarah. Web tak lagi hanya sebatas content delivery. Ia berkembang menjadi medium komunikasi, partisipasi dan kolaborasi massal.

Bentuknya adalah media sosial, blog, wiki, forum, video/audio streaming dll. Web 2.0-lah yang menyebabkan semua manusia di dunia ini terkoneksi dan kemudian mampu berkolaborasi menghadirkan hal-hal baru yang mengejutkan. Web 2.0 adalah implementasi paling nyata atas demokrasi informasi. Setiap orang dengan perangkat komputasi dan sambungan internet memiliki kontrol dan tenaga untuk meningkatkan nilainya masing-masing di ranah informasi. Ia mampu menyelesaikan masalah manusia atas 'tirani informasi' yang sebelumnya dikendalikan oleh penyedia konten: pemerintah dan kantor berita. Orang tak mau lagi terpaku seperti patung dicekoki informasi yang dipilihkan penyedia konten. Setiap orang ingin suaranya didengarkan, mereka ingin 'menjadi ada'. Maka, minimal mereka akan ikut berkomentar atas sebuah berita. Lebih dari itu, mereka bisa menulis berita mereka sendiri dan membuatnya jadi lebih populer daripada berita content provider sekalipun.

Media telah masuk dalam era prosumer dimana pembaca tak lagi hanya ingin duduk pasif. Web 2.0 tak hanya menjadi mesin demokrasi informasi paling masif. Ia juga adalah bentuk kemerdekaan kita terhadap informasi serta kekuatan kerumunan berkolaborasi memenuhi kebutuhaan tersebut. Kontrol dan tenaga berpindah dari pemerintah atau korporasi ke tangan kerumunan. Demokrasi ini dijalankan dalam semangat openess (keterbukaan), peering (kebersamaan), sharing (berbagi) dan acting globally (bertindak global). Media digital bukanlah sekedar tren atau entitas baru media. Ia adalah revolusi atas pemenuhan hak-hak dasar manusia dalam informasi. Inilah alasan pertama mengapa media digital membunuh koran: karena ia berhasil menyelesaikan masalah dasar manusia yang sebelumnya tak bisa dipecahkan media tradisional.

Demikian juga dengan perusahaan industri jasa cetakyang hidupnya mengandalkan order (job-order) dari luar (semacam usaha jasa), maka dapat dipastikan mereka akan berusaha keras untuk mendapatkan order/pesanan dengan cara apapun, bahkan dengan cara-cara yang kurang terpuji (dipandang dari sudut religi hal itu dianggap melanggar), namun kadang-kadang dari sisi bisnis hal tersebut sudah menjadi suatu kelayakan atau kewajaran.

Karenanya kali ini penulis mengangkat satu  topik yang kadang-kadang dilupakan oleh para pengelola dan pemilik perusahaan, yaitu peningkatan efisiensi kerja. Peningkatanefisiensi kerja akan memberikan sumbangan dan solusi  dalam memecahkan masalah besar perusahaan yaitu mempertahankan hidup dan eksistensi perusahaan dengan tetap mendapatkan order-order/pesanan yang  menjadi sumber kelangsungan hidup perusahaan.

Beberapa Spesifikasi Masalah Umum Percetakan di Indonesia

  1. Terlalu cepatnya kemajuan teknologi grafika dibandingkan dengan kemajuan kemampuan sumber daya manusianya. Apabila diibaratkan perbandingan antara kemajuan kemampuan SDM dengan perkembangan teknologi seperti seorang tukang becak yang menggenjot becaknya ingin mengejar mobil BMW yang sedang melaju. Mengapa demikian ? karena perkembangan teknologi grafika dan peralatan datang dari negara maju yang sudah serba canggih, sedangkan kemampuan SDM Indonesia adalah hasil dari budaya dan usaha pendidikan di Indonesia yang penuh dengan permasalahan dan keterbatasan.
  2. Kurangnya kader-kader SDM yang berpotensi di  bidang percetakan. Kalaupun ada beberapa  SDM yang mumpuni bahkan pernah mengenyam pendidikan ke luar negeri, enggan untuk menularkan keahliannya dibidang pendidikan dan lebih senang terjun ke bidang bisnisnya yang tentunya sangat menjamin kehidupannya.
  3. Kebanyakan SDM percetakan tanpa mempunyai latar belakang pendidikan grafika dapat menguasai masalah cetak mencetak secara utuh. Disisi lain, SDM yang tidak mengenyam pendidikan grafika secara formal, karena kegigihan, minat dan cintanya serta mau dan mampu mengembangkan dirinya pada bidang grafika, berhasil menguasai masalah cetak mencetak secara utuh.
  4. Menejemen keluarga menjadi menejemen profesional. Suatu hal yang sangat ironi bahwa menejemen keluarga berubah menjadi menejemen profesional. Kondisi demikian disebabkan oleh sebagian besar (mungkin sekitar 90%) perusahaan percetakan milik swasta, dan sebagian besar lagi swasta pribadi (keluarga). Akibatnya pengaturan, pengelolaan diatur dan dikuasai oleh keluarga/pemiliknya, yang tentunya pengisian posisi potensial lebih mementingkan keluarganya dari pada orang luar keluarga walaupun orang  tersebut memiliki potensial untuk mengembangkan usahanya.

Masa Depan Media Cetak ?

Di awal tahun 1980-an, di masa awal hadirnya personal computer (PC), konsorsium penerbit suratkabar di Amerika Serikat membuat sebuah iklan televisi. Bunyinya begini: "Bayangkan, suatu pagi anda duduk menyeruput kopi, menyalakan komputer dan membaca koran terbaru." Dua dekade kemudian apa yang disebut di iklan itu terjadi, dan hasilnya tidak membuat mereka senang.

Bicara tentang koran akhir-akhir ini cenderung menguras emosi. Desember 2015 lalu kita disuguhi kabar koran sore tertua di Indonesia, Sinar Harapan, tutup per 1 Januari 2016. Wartawan senior Kompas, Bre Redana, menulis artikel “Inikah Senjakala Kami” yang banyak diperbincangkan. Dalam masanya, koran telah menghasilkan begitu banyak konten yang mengekspos masalah di masyarakat kita dibanding medium lain, dan menjadi salah satu pilar perubahan sebuah bangsa. Kini mereka dihadapkan pada tantangan mesti bertahan ketika tanda-tanda kehidupan di depan makin redup. Dan solusinya samasekali belum jelas. Sayangnya, untuk mencari solusi itu para pelaku bisnis koran hanya berkutat pada pertanyaan ini: "Bagaimana cara kita menghasilkan uang dari konten?", atau "Bagaimana cara kita menghasilkan uang dari sebuah produk lama dimana peminatnya terus turun?".

Harusnya, inilah yang mesti mereka pertanyakan: "Apa produk baru yang harus kita buat berdasarkan kompetensi kita?", dan "Apa saja kapabilitas baru di luar sana yang bisa kita gabungkan menjadi sebuah orkestra untuk menghasilkan nilai baru bagi konsumen?". Namun, industri besar media cetak berdiri di atas paradigma bisnis lama yang akan sangat kesulitan menciptakan hal-hal baru. Mereka telah mapan dengan expertise-nya masing-masing dan berada dalam zona nyaman. Sebagai organisasi besar, mereka butuh stabilitas dan cenderung menghindari risiko, termasuk risiko membanting setir ke model bisnis lain.

Sebagai gantinya, mereka mengurung diri dalam benteng yang mereka sebut 'jurnalistik yang sejati', sampai benteng itu benar-benar runtuh. Saat ini koran tengah dalam perburuan atas model bisnis baru untuk mendapatkan hati para audiens yang telah bermigrasi ke dunia maya.

LIMA LANGKAH PENYELAMATAN

Menyikapi keberadaan dunia cetak koran, hendaknya kita harus mereposisi nilai dan model bisnisnya? Setidaknya ada 5 strategi yang patut diperhatikan.

Pertama, cermati perilaku anak muda. Di tahun 2004 saya pernah menjadi project manager rubrik anak muda di sebuah surat kabar jaringan media nasional. Para pimpinan saya berpendapat bahwa melayani kebutuhan anak muda melalui koran adalah investasi karena mereka adalah pembaca masa depan koran. Tapi saya merasa sangat janggal dengan tugas ini. Karena saya yakin kultur membaca di masa depan tidak akan sama lagi. Dan memang itulah yang sekarang terjadi. Cara dan kultur anak muda sebagai generasi mendatang tak lagi sama dalam mengonsumsi berita dan informasi. Anak muda tak lagi membaca koran, setidaknya tidak membaca dengan cara lama. Mereka mengonsumsi informasi sebagai komoditas gratis di internet dan mereka temukan dari jejaring pertemanan media sosial. Maka, model bisnis informasi atau berita berbayar tidak akan berhasil untuk generasi selanjutnya.

Kedua, fokus pada niche atau ceruk informasi. Orang akan bersedia membayar demi nilai unik yang terkandung dalam komoditas. Dan tak ada satu komoditas generik yang cocok bagi semua orang. Lupakan model ragam rubrik seperti yang terdapat di koran yang niatnya untuk melayani semua kalangan. Internet tak akan bekerja seperti itu. Contohlah The Economist yang fokus pada niche informasi seputar ekonomi dan bisnis serta berhasil membangun reputasinya di sana. Saat ini The Economist versi online telah berhasil menghimpun hampir 1 juta pelanggan melampaui majalah Newsweek, dan berhasil membangun preposisinya.

Ketiga, fokus pada user experience. Tantangan bagi para pengembang ................................................

 

Selengkapnya terdapat pada majalah PRIT MEDIA INDONESIA, edisi 69 Maret-April 2016. Majalah tersebut bisa diperoleh melalui ratusan toko buku di Pulau Jawa, atau versi Digital melalui SCOOP INDONESIA, atau pesan langsung / langganan. 

Info 

Tel. 021-3150821 (Sirkulasi / Bpk Arief) 0251-8554501 (Redaksi) Mobile 0812 8881 1831 /0811 808282.  E. This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!