Pengunjung Web

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini391
mod_vvisit_counterKemarin1356
mod_vvisit_counterMinggu ini4001
mod_vvisit_counterMinggu lalu9771
mod_vvisit_counterBulan ini26435
mod_vvisit_counterBulan lalu39080
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1322451
Kami Memiliki: 29 guests online

Home Pendidikan Kreativitas Berfikir
20
Mar
2012
Kreativitas Berfikir

Berpijak pada hakikat potensi manusia yang luar biasa. Menggali semua unsur yang dimilikinya. Seberapa jauh kita telah mengenal diri kita sendiri. Mengenal keseluruhan dimensi dan aspek diri yang paling efektif adalah  melalui proses pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 1,  merupakan proses usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi yang dimiliki oleh setiap manusia harus dieksplor secara menyeluruh dengan berbagai cara. Berangkat dari observasi kelas Ohio State University (USA), peserta didik dipacu kreativitasnya dengan meminimalisir pakem-pakem berpikir yang kuno.

Peserta didik diperlakukan sejajar dan seperti teman. Kedekatan membuat mereka berani mengungkapkan sesuatu dan berperilaku seperti teman sendiri. Dosen (tenaga pendidik) memposisikan diri  sejajar dengan peserta didik. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berunjuk pikiran. Mereka mendewasakan kerangka berpikir dan perilaku satu sama lain.

Perubahan Paradigma

Masyarakat bangga dengan perubahan zaman yang ada. Hal itu haruslah dibarengi dengan usaha inovatif yang kreatif.  Perubahan paradigma sulit terjadi apabila kondisi interaksi tidak berimbang. Melihat kondisi pendidikan di Indonesia, khususnya sekolah-sekolah yang berada jauh dari pusat akses informasi, pola pembelajaran dilaksanakan hanya satu arah (one way) di mana pendidik memposisikan diri  sebagai sentral kebenaran informasi. Padahal dibutuhkan sebuah feedback yang produktif agar mampu mewarnai kerangka berpikir manusia. Perubahan paradigma dapat dilakukan dengan selalu berpikir positif dan menerima perubahan sebagai cause-effect relationship. Mengutip Prof.Dr. Cony Semiawan (Guru Besar UNJ, 2008) bahwa perubahan paradigma, budaya, dan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, hal ini sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia yang kompleks. Perubahan paradigma berpikir harus dilandaskan pada kesadaran pengetahuan dan kepekaan situasi sosial yang ada. Konsep berpikir dimulai dari pemaknaan sebuah perbedaan. Paradigma dibangun melalui proses yang panjang dan   dikembangkan melalui diskusi interaktif sesama.

Belajar dari Ohio State University

Perkembangan kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemajuan sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia dibentuk melalui proses pendidikan yang komprehensif. Berangkat dari pengalaman di kelas Ohio State University, pola pendidikan mereka sangat open minded dan mengedepankan hak-hak manusia secara utuh. Kebebasan berpendapat sangat dihargai. Seorang dosen mengajar dengan posisi yang sejajar, membentuk mental dengan proses yang alamiah. Proses pendewasaan dan kreativitas di trigger secara kolektif. Sebagai contoh pada kelas seminar research yang diisi oleh Dr. Lin Ding, mereka sangat mengedepankan diskusi akademik yang membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat yang dinamis. Secara alami, mereka membentuk sebuah pola pikir kreatif dan inovatif. Mereka sharing pengalaman satu sama lain (peer guidance). Keaktifan mereka membuat mereka menjadi individu yang tangguh dan kompetitif.

Keterbukaan dan Kesiapan Menerima Perubahan

Kreativitas berpikir merupakan proses panjang yang dimulai dari seberapa jauh kita memaknai kejadian dalam hidup. Kejadian dalam hidup akan memberikan efek perubahan positif dan negatif. Kemana kita harus membangun pola pikir kreatif ? Seharusnya tempat kita mengadu adalah dua institusi yang kokoh dan langgeng, yaitu keluarga dan sekolah. Kedua institusi tersebut membangun secara gradual mental dan fisik individu. Semua unsur dalam proses tersebut terlibat secara aktif mewarnai proses perkembangan suatu individu. Dalam keluarga, peran orang tua dan kakak serta adik sangat menentukan terbentuknya individu yang kokoh, pola kebiasaan serta tradisi akan melekat pada perilaku sehari-hari. Nasihat bijak orangtua akan mendewasakan kerangka  berpikir manusia. Kreativitas akan terbangun dari  pola-pola interaktif seperti itu. Dalam institusi sekolah proses yang terjadi jauh  lebih kompleks. Untuk itu harus dianalisis satu persatu, karena sebaiknya terjadi kolaborasi yang sinergi antara subjek di sekolah dan objek di sekolah. Subjek adalah unsur pemberi pengetahuan (guru dan tenaga fungsional lainnya), sedangkan  objek adalah peserta didik yang seharusnya menjadi prioritas. Pelayanan kepada objek menjadi hal yang sangat vital, karena disinilah conditioning tercipta. Subjek maupun objek harus siap menerima perubahan, dan kesiapan tersebut harus dibangun sejak dini. Menanggapi Revitalisasi pendidikan usia dini, sebaiknya pemerintah melakukan proses yang komprehensif antara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Terkadang proses pembelajaran anak usia dini sudah dipacu ke arah kognitif, padahal potensi pertumbuhan dan perkembangan anak harus distimulasi dengan proses psikomotorik dan afektif yang dominan. Perubahan pola belajar mengajar di taman kanak kanak dan sekolah dasar, menjadi pekerjaan yang harus diprioritaskan. Pendekatan belajar menyenangkan, aktif, kreatif, inovatif, serta interaktif menjadi kunci dalam memberikan intervensi pembelajaran anak usia dini. Perubahan kurikulum, metode, komunikasi, sarana prasarana, serta pembiayaan harus menjadi tangungjawab pemerintah untuk mewujudkan pendidikan anak usia dini yang produktif dan berkualitas. Peran orang tua juga sangat penting, baik untuk mengikuti proses perubahan, proses pembelajaran, dan proses pengambilan kebijakan pendidikan. Pelibatan semua komponen pendidikan, terutama masyarakat pendidikan sangat mewarnai pembangunan kebijakan pendidikan yang bermutu. Di sanalah kreativitas berpikir terwujud. Pemerintah seharusnya menjadikan anak sebagai investasi masa depan bangsa. Investasi generasi penerus yang berakhlak mulia, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Kita semua harus membangun sumber daya manusia serta mewujudkan mimpi Indonesia sebagai Negara kokoh dan maju di dunia.   

* Misbah Fikrianto *

   Visiting Scholar Ohio State University   

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!