Home Pendidikan Fotografi pada Era Disrupsi
29
Jan
2019
Fotografi pada Era Disrupsi

Fotografi pada Era Disrupsi

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Secara bahasa, kata Disrupsi berasal dari kata Disruption yang merupakan singkatan dari Disruptive Innovation. Dipopulerkan oleh Clayton Christensen sebagai kelanjutan dari tradisi berpikir yaitu “harus berkompetisi, untuk bisa menang.”  Ada yang mengistilahkan dengan disruptive (menganggu) karena adanya pergesaran model kerja atau bisnis dari era analog ke era digital dengan inovasi-inovasi digital yang membuat segalanya menjadi mudah. Fenomena atau situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear dan perubahannya sangat cepat, secara mendasar dapat ....

mengacak-acak pola tatanan lama hingga menciptakan tatanan baru. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut masyarakat untuk berubah atau jika tidak akan punah.

Di era disrupsi masyarakat harus mempunyai pilihan, apakah membentuk ulang (reshape) atau menciptakan yang baru (create). Jika memutuskan untuk reshape, maka bisa melakukan inovasi dari produk atau layanan yang sudah dimiliki. Sedangkan jika ingin membuat yang baru, harus berani memiliki inovasi yang sesuai dengan kebiasaan konsumen. Mungkin terdengar klise, namun apabila membaca situasi dengan baik kemudian melihat peluang yang ada, maka akan bisa bertahan di era disrupsi tersebut. Era disrupsi yang sedang berjalan ini tidak bisa dihindari, tidak bisa lagi hanya menyalahkan keadaan tanpa berusaha bertahan.

Sebuah pernyataan dari Renald Kasali; “singkat saja, disruption adalah sebuah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruption berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat”

Foto Ilustrasi pada artikel: “Art of disruption: Handle with care”, by Leigh Ann Gowland

(sumber: http://www.lionessesofafrica.com)

Era Disrupsi Fotografi Digital

Dunia fotografi sebenarnya bisa dibilang sudah mengalami era disrupsi yang sangat hebat karena perkembangan teknologi. Seperti kasus perusahaan fotografi yang terkenal yaitu Kodak dan Fujifilm, indikator yang paling nyata adalah beberapa generasi kita sudah tidak mengenal negatif film atau roll film. Jaman dulu, kegiatan fotografi untuk mengambil dan mencetak gambar harus menunggu roll itu habis dulu untuk dapat diproses selanjutnya sampai cetak foto. Namun di jaman sekarang, fotografer tinggal jepret, lalu langsung cetak/unggah via komputer di rumah. Kedua perusahaan itu tergerus oleh zaman yang beralih pada kamera digital. Sebenarnya Kodak mengetahui adanya produk kamera digital, dan justru dari dapur Kodak sendirilah kamera digital lahir. Namun “prototype” kamera digital itu sudah diabaikan oleh pimpinan-pimpinan yang tidak membaca arah perubahan zaman. Saat terjadi perubahan zaman dan penjualan roll film mulai menurun, Kodak baru kelabakan.

Cerita lain, pada 2001 Fujifilm dan Kodak berada di puncak kejayaan. Kedua brand ini menguasai pasaran film kamera. Sebanyak 60% hingga 70% profit Fujifilm berasal dari bisnis film. Tapi pada 2005, penjualan film kamera secara global menyusut tajam sebesar hingga terjun bebas dari 60% menjadi hampir nihil. Tapi Fujifilm berhasil selamat berkat perusahaan ini mengembangkan produk kamera digital, walaupun dibilang terlambat tapi bisa bangkit dan bahkan naik daun dengan kamera mirrorless besutannya. Itulah cerita singkat tentang dampak era disruption di dunia fotografi.

Era Fotografi Mobile Phone

Dengan lajunya perkembangan teknologi, istilah fotografi tak lagi hanya bisa dilakukan oleh para fotografer profesional, semua orang bisa menjadi “fotografer”, yang tentunya tingkat keahlian yang beragam dan disesuaikan kebutuhan. Tidak harus berbekal kamera DSLR, orang kini relatif dapat mengambil foto dan bahkan bisa melakukan editing foto berkat smartphone/ mobile phone dan dukungan aplikasi instan fotografi. Konsep ini sering disebut Mobilephone Photography / Smartphone Photography, bentuk pengambilan foto dengan medium perangkat telpon genggam.

Tak bisa dipungkiri, penggunaan kamera ponsel (mobile phone) dinilai lebih efektif dalam membagikan langsung hasilnya ke media sosial. Kemudian bagaimana para fotografer profesional masih bisa eksis dengan semakin mudahnya orang awam menghasilkan foto yang mumpuni?  Banyak yang bilang “tidak masalah”, karena masih banyak bidang dan keahlian yang relatif tetap membutuhkan hasil berkualitas dari kamera DSLR. Misalnya, pekerjaan di bidang media atau wedding photographer yang notabene menggunakan kamera profesional. Prediksi jangka pendeknya adalah Fotografer yang memang membutuhkan media rekam besar (foto produk, foto wedding, jurnalis, dsb)  akan tetap membutuhkan kamera DSLR profesional. Dan pengguna kamera poket akan bergeser untuk menggunakan kamera mirrorless yang secara ukuran sama tapi lebih canggih.

Kehadiran smartphone yang memiliki fitur kamera dengan kemampuan tinggi telah membuat produsen kamera digital konvensional kalang kabut. Mungkin ini bisa disebut era disrupsi kedua di dunia fotografi karena penjualan kamera digital untuk low-end dan medium turun drastis. Hal ini terjadi karena kebutuhan pengguna kamera telah dipenuhi oleh smartphone. Menurut informasi yang dikutip dari kompas.com (tahun 2017), popularitas smartphone turut berdampak pada penjualan kamera digital secara keseluruhan yang turun sebesar 24% dari segi jumlah di Indonesia.

Mobilephone Photography tidak hanya mengubah tren produk kamera, tapi membuka peluang bagi para pengembang software untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi fotografi yang kemudian mempermudah proses fotografi, seperti aplikasi photo editor hingga aplikasi yang memudahkan untuk bermain di media sosial. Masa depan fotografi pastinya akan terus berkembang secara dinamis dengan perubahan-perubahan yang kadang tak terduga. Menurut Wenxin Zhang (seorang pengamat fotografi dari San Francisco), “Tidak akan ada masa depan yang spesifik dari fotografi, akan tetap berkembang dan bersentuhan dengan berbagai media lain seperti magical fluid. Maka apapun jenis kamera, smartphone, action cam, atau drone yang digunakan, semua itu sesungguhnya hadir untuk menjaga gairah para fotografer untuk menghasilkan karya foto yang beragam.”

Dengan adanya berbagai jenis teknologi kamera justru akan saling melengkapi berbagai kebutuhan fotografi. Jadi misalnya jika fotografer sudah memiliki kamera DSLR, bukan berarti drone atau smartphone tidak digunakan lagi. Kamera SLR, mirrorless, maupun kamera smartphone, masing-masing punya spesifikasi dan kekhasan tersendiri dari sisi fotografi ,maka adanya berbagai jenis kamera, justru dapat dimanfaatkan fotografer sebagai tantangan berkarya yang semakin kompleks.

Era Disruption Berikutnya?

Teknologi fotografi terus dikembangkan, Caltech University belum lama ini berhasil menciptakan kamera yang dapat mengambil foto tanpa lensa. Karena tidak menggunakan lensa, kamera yang diciptakan pun memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dengan kamera yang sudah ada di pasar sekarang. Padahal sebelumnya, lensa dianggap hal mutlak di dunia fotografi, kemudian teknologi mendobrak “dogma” tersebut dengan sesuatu yang lain.

Profesor Ali Hajimiri (profesor teknik elektro Caltech University) mengatakan, “Kami telah menciptakan single thin layer of integrated silicon photonics yang mengemulasi lensa dan sensor kamera digital, mengurangi ukuran dan harga dari kamera digital konvensional. Sebenarnya kamera ini memiliki lensa seperti yang ada pada kamera konvensional namun menghilangkan peran optik konvensional, diganti dengan peran optik yang disebut sebagai ‘ultra-thin optical phased array (OPA chip)’, yang mana optik ini merupakan serangkaian dari receiver yang ringan.

Kemudian di lain pihak, perusahaan asal Jepang (Hitachi) juga tengah mengembangkan teknologi "kamera tanpa lensa" berbentuk ...

Selengkapnya terdapat pada majalah cetak dan on line INDONESIA PRINT MEDIA edisi 86 Jan-Feb 2019. info email :   This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it  WA 0811808282

 

Bila merasa tahu, itu pertanda tidak tahu, Setiap usaha yang dijalankan dengan tidak tahu tinggal menunggu layu.

Mari cari tahu dengan langganan Print Media yang bisa ; 1 eks, 5 atau 10 eks setiap dua bulan dengan harga yang ekonomis dan terjangkau.

Silahkan Download Formulir Langganan !!!